sowan

Dalam bahasa Jawa, artinya berkunjung. Bukan angsa, apalagi bebek, yang suka ngejar ngejar di pematang sawah *apeu*

Traveling sendirian sudah jadi impian sejak lama. Bahkan saking kepengennya, 2-3 tahun lalu sempat terbesit one day trip sendirian ke kota turis. As my expectations, nggak mungkin juga terwujud tanpa alasan haha

Lebih dari 10 tahun lalu, naik pesawat sendiri sudah pernah dijabanin. Rute pendek sih, SUB-JKT. Naik Adam Air lagi. Tapi naik kereta api sendirian, rasanya belum sebulan lalu pertama kali.

Sebulan lalu ke Jogja, tapi sama temen. Di kereta berangkat ada temen ngobrol, hari kedua pun jalan bareng malah ketemu rekanan lain. Sendirian cuman di hostel dan kereta pulang. Ah itupun, di hostel ada temen sesama penghuni kamar karena milih yang tipe dormitory. Kereta pulang, eh duduk sebelahan sama mbak cantik yang setia mangku laptop demi nonton drama korea. Ya ga mungkin kesepian lah :3

Kali ini, insya Allah, dari berangkat, di sana, pulang, belum ada kenalan barengan. Ini sih judulnya mewujudkan impian berkedok ada urusan. Haha, tapi excitement ku kok rada alay gini ._.

Bismillaah.. Pak Prawirotomo, saya sowan ke kampungnya yah!?

Doakan saya, gengs *finger crossed*

Iklan

Beda dengan Masaku

“Hati hati ya, bu”

“Iya, titip masakannya. Kalian jangan lupa makan dulu ya”

“Iya tenang aja. Dagh

Aku, Azhra, Rizhqa serentak melambai ke arah mobil yang perlahan pergi meninggalkan. Kami masuk kembali, berkutat di dapur melanjutkan titah Ibu. Acara masak cepat selesai karena dikerjakan bertiga diiringi heboh mentertawakan hidup. Kami pindah ke depan tv, yang selalu jadi tempat cocok membunuh waktu. Apalagi ditemani makanan laknat (sebut saja Indomie greng dan kripik Maitos bumbu balado~).

Dalam hening ditemani suara tv, tiba-tiba Rizhqa teriak dengan hp di tangannya. Yah, ternyata ada remidi mendadak Dia. Damai terlupakan rasanya.

Rizhqa. Adik bungsuku yang sekarang kelas 1 SMA. SMA (lumayan) mentereng, masuk areal kawasan. Berbeda dengan masaku, sekolah negeri sekarang menerapkan sistem CBT – computer based test, program peninggalan menteri itu. Termasuk sekolah adikku satu ini.

Saat itu pukul 7 malam. Aku, kalau pukul 7 malam tahu mau remidi ya belajar. Ya paling tidak mengerjakan ulang soal ujian. Berbeda dengan Rizhqa. Setelah menemukan soal ujian, dia justru menyiapkan alat perang: laptop, charger, buku, hp. Program CBT ini ‘membebaskan’ test dilaksanakan kapanpun dimanapun. Kebetulan, gurunya adik meminta remidi dilaksanakan pukul 8 tepat. Malam itu juga. Ya sudah, mari ujian~

Canggih. Itu yang terlintas pertama kali. Program CBT ini sukses membuat siswanya disiplin waktu. Tidak lagi ada “bu guru sebentar ya, kurang sedikit lagi” dan gurunya menunggu meski waktu telah lewat.  Atau murid yang berlarian di koridor mengejar pengawas karena waktu ujian sudah berakhir.

CBT ini (kalau di sekolah Adik sih ya), semacam aplikasi online yang memungkinkan siswa mengerjakan ujian tanpa kertas dan berbatas waktu. Aplikasinya lumayan rapi (agak nggak sopan sih bilang lumayan, Aku juga belum bisa bikin. Tapi ya gimana?), bisa diakses melalui laptop pun hp, asal ada akses internet. Ujian online ini berbatas waktu. Ada timer yang menghitung mundur waktu ujian.

Remidi di rumah semacam Adik, sangat bisa dikerjakan berbarengan, dengan membuka buku bahkan googling. Ajaib ya? Hahaha, ya gitu deh. Kebetulan pelajaran biologi dan Azhra punya kitabnya. Jadilah dikerjakan bertiga. 25 soal selesai kurang dari 5 menit sebelum waktu habis.

Haha ya memang semua pastilah ada dua sisi, positif negatif. Disiplin waktu, tapi belum tentu jujur pengerjaannya. Eh, beberapa guru memang -katanya sih- membebaskan murid mengenai cara mengerjakan; diskusi, buka buku, googling. Terserah deh ya. Yaaah sudah lupakan, itu kan bicara etika. Setahu dan seingatku, tidak ada kan ya agama yang mengajarkan beretika buruk (?)

Ada hal lain yang mengusik. Justru rasanya jadi pondasi pelaksanaan CBT ini. Keberadaan gawai. Entah laptop atau hp. Untuk Rizhqa, alhamdulillaah termasuk beruntung. Meski belum punya laptop sendiri, ada milik 2 kakaknya yang bisa dipinjam. Juga ada hp dengan fasilitas memungkinkan. Wifi di rumah juga sangat mendukung.

Aku sempat bertanya perihal ini. Kata Rizhqa, temannya yang tidak bawa laptop ya ujian di lab komputer. Tapi karena komputer di lab terbatas, sebisa mungkin bawa dari rumah. Well, untuk ujian di sekolah bisa diatasi yang demikian. Kasus remidi malam hari mendadak pula? Kasian juga kalau terbirit ke warnet, atau harus mengerjakan dari hp.

Agaknya memang tidak mungkin ya, kondisi terbatas itu terjadi di Surabaya. Tapi hey, Adik di sekolah negeri. Uang sekolah yang gratis (tapi pendukungnya mahal) ini sangat mungkin kedatangan siswa dengan berbagai latar belakang. Siswanya heterogen sekali, baik ekonomi maupun budayanya. Kalau pengetahuan anggaplah menengah ke atas, toh masuknya juga tidak mudah. Aku tak lagi bisa membayangkan, bagaimana siswa dengan keterbatasan itu. Yakinku, sungguh dia juga maunya serba ada selalu punya, kan.

Sedih lho ya. Indonesia penghujung 2016. Negara ini rupanya sedang mengejar ketertinggalan. Entah antara hemat kertas – sayang pohon, atau biar kelihatan keren, program macam ini tetiba ada. Sudah dari tahun lalu sih, bukan mendadak kalau sekarang. Bagiku, sudahlah, Aku rindu anak SMA yang sibuk basketan, gitaran, belajar kelompok. Bukan anak SMA yang ribut kuota dan rebutan saklar listrik demi CBT ini. Sebut saja Aku gagal move on. Tapi Indonesia masih butuh generasi beretika – yang jika kelak memang saatnya serba canggih tak perlu dipaksakan, baik fasilitas pendukung maupun jalannya program.

Salam manis, dari Kakak yang sampai sarjana nggak kenal ujian online selain mengisi indeks prestasi dosen 😀

Cerita Ibu

Malam ini, seperti biasa, meja makan selalu menjadi arena favorit berbagi cerita. Sebenernya cerita juga ga jauh jauh beda ya tiap harinya, toh yang dikerjakan juga itu lagi itu lagi. Tapi malam ini spesial..

Ibu, ibu rumah tangga yang sehari hari nya banyak di luar rumah. Ya gimana, ada aja tuh yang dikerjakan *biar bisa beli(in anaknya) lipstick, kan, Mi, ya?* Hari ini Ibu ada kumpul kumpul cantik dengan beberapa teman.

Beliau cerita tentang usaha persewaan kelompok temannya. Singkat cerita, entah bagaimana, persewaan ini sudah bukan lagi tujuan utama masyarakat. Ya gimana dong, ada kelompok lain yang sanggup jual (barang yang identik) dengan harga 50.000 lebih murah daripada sewa. Prinsip ekonomi, kalau beli aja dapet lebih murah, ngapain sewa? Ye, kan? Mau nanti hanya sekali pakai, lalu entah buat apa lagi juga dipikir belakangan bisa. Ya, tho?
Kalau di kelompok teman ibu ini, keuntungan persewaannya jadi modal untuk aksi sosial. Baik itu jualan nasi bungkus setengah harga, menyewakan gedung serbaguna harga miring, dan segala kemudah-murahan lain. Seperti pada umumnya, kalau sudah terlihat biaya sewa mahal, ya segala hal baik dari persewaan ini kan langsung tertutupi. Termasuk aksi sosial.

Terpukullah kelompok persewaan. Kelimpungan kan cari sumber dana lain yang masuk akal (dan bisa lulus audit BPK dengan predikat wajar tanpa pengecualian *eh). Eh kok ya Kehebatan Gusti Allah, sang pesaing itu mulai ketahuan siapa dalangnya. Makin sedih lagi, dalang ini ya teman sendiri, memang pernah menjadi bagian dari keluarga besar persewaan.

Aku yang tabiatnya super kepo dan bawel bertanya,”Gitu itu bisa disalahkan gak sih? I mean, kan ya seperti persewaan sound system, toh juga ada toko yang jual. Kan ya seperti tambah pesaing aja. Sebenarnya gak salah kan yang jual itu?”

Bapak menjelaskan,”Ya memang tidak salah, asal labelnya tidak menggunakan (sebut merk) persewaan. Kalau dia menyebutkan baru bisa diajak ribut dianggap plagiat”

Lalu ditambahi dengan kata Ibu,”ya pada akhirnya, apapun tujuan yang ingin dicapai, rejeki tiap orang berbeda beda. Kan sudah digariskan Gusti Allah. Lahir, mati, rejeki, jodoh kan sudah digariskan. Mau tujuannya seindah (atau seburuk) apapun, pasti akan dikembalikan sesuai garis. Sudah gak perlulah iri dengan rejeki tetangga”

Aku tersenyum. Malam ini aku belajar lagi, melalui cerita Ibu. Bahwa rejeki itu sudah ada Yang Mengatur..

.

.

.

.

.

Eh tapi kalau berjodoh dan menua bersamamu, sudah menjadi bagian dari garis itu, kan, Gusti Allah?

Langit yang sama?

In the middle of the night, on my way to parkiran yang gelap itu…

T : lihat langit deh
M : kenapa?
T : coba itung bintangnya berapa
M : yaaah kalo di sini dikit ya bintangnya
T : emang Mas kalo di rumah bintangnya keliatan banyak?
M : iyalah, kan beda sama di sini
T : ooh gitu, kok bisa? Kan langitnya sama?
M : kan polusinya beda, Yak. Awannya juga kadang nutupin. Yaelah, orang yang ngitung beda aja, jumlah bintangnya belum tentu sama
T : ya kan tapi langitnya satu.. masa langitnya satu, buminya satu, jumlah bintang nya beda?

(dan) Percakapan bodoh tetap berlangsung sampai motor sukses jalan..

Jadi, langit yang kita pandang sama ngga ya?
Jadi, kenapa jumlah bintangnya beda?
Jadi, RAN bener ga tuh liriknya?

Love,
Delftya Enhaperdhani

Tentang Piala Bergilir

Berulang kali datang ke pernikahan circle terdekat, entah saudara atau kawan. Ternyata piala bergilir itu memang lagi tren ya. Entah deh siapa, dimana, kapan mulai.

Jadi, dalam satu circle itu, dibuat piala. Entah wujudnya gimana, tulisannya apa. Piala itu nanti diberikan ke yang menikah pertama. Kemudian digilir ke anggota yang menikah berikutnya. That’s why, judulnya Piala Bergilir.

Sounds cool kan ya? Asik banget ga sih?

Semenyenangkan itu memang – untuk kita kita, yang usia nya masih early 20 an, dan belum seterpikir itu untuk melakukan janji suci.
Seseru itu memang – untuk kita kita, yang sudah punya bayangan bakal nikah sama siapa atau kira kira kapan.

But wait,

Ini menikah. Ibadah.

Bukan perhelatan F1 atau motoGP. Atau simply, cerdas cermat kecamatan.

Bukan perlombaan.

Ibu pernah sekali waktu mengingatkanku mengenai hal ini. Bahwa menikah itu pilihan. Bahwa menikah itu bersatunya 2 insan yang sama sekali berbeda untuk memutuskan hidup bersama. Bukan perlombaan. Bukan tentang dulu duluan. Bukan lelucon, sehingga tak pantas ditertawakan.

Mungkin, sampai usia yaaa early 30 lah ya. Piala bergilir ini akan terlihat semenyenangkan itu, seseru itu. Tapi lewat dari usia 30, sejatinya tiap anggota dalam circle tersebut telah memilih jalannya masing-masing. Entahlah berkeluarga, mengejar karir, atau menjalani hobi juga passionnya. Lalu pialanya gimana dong?

Well. Lingkunganku mengajarkan bahwa menikah itu pilihan. Pun untuk menjadi unmarried, juga pilihan. (yang) Sejatinya, semua pilihan itu harus dihormati.

Tak elok sepertinya, piala yang si A dapatkan sudah tak semoncer ketika B menikah. Hanya karena A menikah jauuuh setelah piala itu dibuat.
Tak elok sepertinya, si C tak mendapat piala itu karena dia memutuskan untuk menjalani unmarried life.

A, B, C, juga entah siapa sampai Z.
Tak mungkin lah di antara mereka semua, hatinya sama sama keras. Alias ngga gampang baper, atau cuek bebek, ga paham kode. Kalau baper gimana? Atau wajah cuek, hati rapuh? Sedih dong ga sempet pegang Piala Bergilir sewaktu masih mentereng :”

Oh, mungkin inilah saatnya. Untuk kita, generasi early 20an. Menimbang kembali keputusan membuat piala bergilir itu. Demi menjaga hati kawan seperjuangan. Juga menjaga dompet dari hal yang rasanya kurang bermanfaat.

Karena menikah itu pilihan ibadah,
bukan perlombaan yang ada pemenangnya mendapat piala 🙂

*piala ini bisa menjelma dalam wujud lain, dengan niat dan tujuan yang sama*

Love,
Delftya Enhaperdhani

Radar Bapak

Beberapa hari terakhir, rasanya rindu juga semobil berdua Bapak. Cerita panjang tentang “how was your day?”. Atau sekadar semangkuk soto ayam dan segelas es teh jumbo manis sekali, untuk berdua.

Aku bahkan lupa kapan tepatnya terakhir kali. 3 tahun yang lalu, mungkin?

Semesta mungkin mendengar, lalu berkompromi. Akhirnya hari ini. Terwujud lagi. Meski tak sepanjang dulu waktunya.

Sore tadi. Dekat sekali dengan rumah. Bapak melihat pasangan muda bertengkar, berteriak saling sahut di pinggir jalan perumahan. Di lain tempat, bapak kembali melihat lelaki yang membentak perempuan (yang sepertinya diklaim miliknya).

Seketika Bapak memegang tanganku. Menatap mataku. Aku yakin akan ada kata-kata serius mengalir dari bibir tuanya.

“Ndhuk, Bapak sangat nggak ikhlas kamu di-bully. Dalam hal apapun. Termasuk diteriaki, bahkan dibentak. Apalagi dengan orang yang mengaku dekat denganmu. Pacar sekalipun. Apapun masalahnya, nggak ada alasan yang bisa dibenarkan seorang lelaki berteriak, bahkan membentak ke perempuan”

Tanganku dilepas. Senyum manis mengembang. Aku melangkah masuk rumah. Dengan membatin,”Bapak, terima kasih diingatkan. Semoga siapapun pria yang dekat denganku, akan mengindahkan perkataanmu. Bahkan lebih mengingatnya, dibanding aku, yang lebih dulu engkau wejangi”.

image

Bersama Bapak, lelaki yang cahaya cintanya tak pernah padam

Love,
Delftya Enhaperdhani

Randomly night

Bukan pertama kali baca ungkapan :

“My attitude is based on how you treat me”

(Tengah) malam ini, baca lagi di attachment foto status line seorang teman.

Sedih bacanya. Kalau attitude aja bergantung sama orang lain, gimana hidup lainnya?

Kebahagiaannya?

Padahal aku selalu mengingat pesan Sang Ratu :

“Sederhanakanlah syarat bahagiamu”

Ya, meski menyederhanakannya tidak semudah mengingatkan.
Meski merutinkannya tidak sesederhana ungkapannya.

Love,
Delftya Enhaperdhani