Beranda » Uncategorized » Menjadi Perempuan Berdaya

Menjadi Perempuan Berdaya

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia,

perempuan/pe·rem·pu·an/n1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil;3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali)

daya1/da·ya/n1 kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak: bangsa yang tidak bersatu tidak akan mempunyai — untuk menghadapi agresi dari luar; 2 kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak dan sebagainya); 3 muslihat: ia melakukan segala tipu — untuk mencapai maksudnya; 4 akal; ikhtiar; upaya: ia berusaha dengan segala — yang ada padanya;

Kamu perempuan? Atau punya saudara perempuan?

Sudah berapa banyak tulisan tentang perempuan yang terbaca?

Belakangan, tulisan — baik itu artikel, ataupun ‘sekadar’ status di media sosial — mengenai perempuan banyak terbagi. Banyak banget, bukan banyak aja. Apalagi tentang kepeduliaan terhadap pelecehan perempuan.

Aku, termasuk yang membaca, jika memang terlintas di linimasa. Bukan yang tingkat isengnya level Googling artikel tentang ini. Lalu setelah baca? Ya jelas marah ya, apalagi yang pelecehan gitu. Meski mungkin ‘cat calling‘, yang dianggap sepele namun menyakitinya tidak kasat mata dan sering terjadi. Tapi ya sudah, marah aja. Nggak berbuat lebih juga, kan? Bahkan banyak cerita berakhir dengan pemikiran ‘cukup tau’ dan memasang pagar diri lebih tinggi.

Sampai akhirnya ada satu waktu….

Aku punya kerabat, panggil dia Bunga (bukan reportase investigasi!), sangat dekat yang yaaaa untuk ukuran perempuan seusianya memang ‘mengundang’: pipi gembil, mengerti berpakaian yang sesuai, paham mematut wajah tanpa terlihat seperti boneka. Goda-able, jika memang nilai wajah juteknya turun sedikit.

Kami, bersama beberapa lainnya diundang menghadiri pesta resepsi dengan konsep pesta kebun. Menyenangkan sekali. Makan terus, joget-joget, capek juga tinggal duduk. Bunga saat itu menegak es campur sambil duduk. Kami tertawa bersama menikmati acara. Lalu saat aku duduk di sampingnya, mendadak diajaknya keluar arena. Memilih untuk tidak duduk sekitar tempat tadi. “Kenapa?”, tanyaku.

Bunga bertutur, ada bapak-bapak yang baru saja mencolek pipinya, lalu mengusap kepalanya. Bapak yang ditunjuk Bunga adalah pria paruh baya berseragam — yang mana pasti keluarga dekat pengantin. Bunga bingung harus bersikap bagaimana, akhirnya mengalah dan pindah tempat duduk.

Di sini, aku baru menyadari kemarahan perempuan yang dilecehkan. Cat calling, biasa dilakukan pekerja yang istirahat itu termasuk pelecehan lho. Apalagi sampai berani menyentuh tubuh, meski (hanya) area wajah.

Aku marah. Marah banget. Aku peluk Bunga. Tapi ya sudah, ternyata akupun doing nothing. Bingung lho. Bapak ini pasti punya hubungan dekat dengan pengantin. Aku, Bunga, juga kerabat pengantin, dekat juga.

Banyak pikiran berkecamuk. Ditegur? Kalau bikin gempar pesta orang gimana? Kalau diinget terus, diungkit tiap ketemu gimana? Kalau dianggap berlebihan gimana?

……. dan kami berdua membiarkan ini berlalu hingga acara usai. Pulang. Tanpa ada orang lain yang dengar. Mungkin juga hanya Bunga dan Si Bapak itu yang melihat.

Mudah sekali sebenarnya untuk menegur,”Pak, tidak begitu caranya memerlakukan perempuan. Lain kali jangan diulangi menyentuh tanpa permisi” — jika Bapak itu totally stranger, kan?

Pulangnya, ada penyesalan mendalam dalam diri. Menyadari bahwa untuk mengucapkan dua kalimat itu saja kok ya lidah kelu. Demi kebaikan, kenapa harus banyak “Kalau nanti…”.

Hari itu, aku belajar untuk berani bertindak. Bukan hanya memasang pagar tinggi dalam diri, yang dibutuhkan. Tapi juga kemampuan melawan, ketika ada yang berusaha masuk pagar tersebut tanpa ijin.

Menjadi perempuan berdaya, bukan hanya tentang kemampuan berdiri sendiri. Bukan hanya tentang kebisaan memenuhi keinginan hidup dari dompetnya sendiri. Menjadi perempuan berdaya, juga harus mampu membela sesama perempuannya sebagai bentuk penghormatan atas diri sendiri.Yuk, kita berdaya bersama!

Iklan

2 thoughts on “Menjadi Perempuan Berdaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s