Beranda » Uncategorized » Generasi Kuantitatif

Generasi Kuantitatif

Pelajaran matematika di rumah bukan hanya sekadar hitung di kertas. Atau rumus sin cos tan yang selalu dibawa-bawa (kalau mau ujian). Atau contoh soal limit yang ditempel di tembok, nggak dilepas sampai sekarang.

Tapi juga masuk dapur. (yang) Ternyata agak genggeus untuk beberapa orang.

1. Berapa gelas beras vs air?

Masak nasi pasti jadi hal wajib ya di rumah. Ye kali beli, kan. Serumah ada 6 orang, makan 2-3 kali sehari, nasi beli habis berapa, bu? Nah, ketika yang lain kalau masak nasi pasrah ke magic com / magic jar / segala magic lainnya, di rumah justru masih pakai panci dan dandang. Jadi nasi dimasak dengan air di panci, lalu dikukus di dandang. Konversi beras vs air : 2 gelas beras vs 3 gelas air. Iya konversinya matematis gini. Ada gelas khusus bahkan untuk ukuran beras-air gini. Aku baru sadar ini rada gengges ketika kerja praktik di Palembang hampir 2 tahun lalu. Kedapatan tugas masak nasi ketika berasnya sudah ditakar. Ya tanya dong aku,”ini berasnya berapa cangkir?” —– yang justru dijawab dengan tatapan nista ‘ngapain lo ngitung berasnya berapa banyak, Yak’. Kutanya lagi, sambil sedikit menjelaskan bahwa aku perlu ngerti berapa banyak beras untuk tahu airnya. Eh yang ada malah diketawain dong. Kata temen-temen waktu itu,”Ya elah, ratain berasnya. Taruh aja telunjukmu di atas berasnya. Airnya seruas jari” *ganti aku menatap nanar saking simpelnya*

2. Sayur ini matang berapa lama?

Ibu punya anak gadis tiga, pastilah semuanya harus ikut uprek di dapur. Biasanya ibu sudah masak, tinggal kami nungguin matang. Kalau daging olahan, sekali lihat gampil kan tahu sudah matang atau belum. Gimana kalau sayur? Wortel? Kacang panjang? Kembang turi? Beberapa kali adik nyeletuk,”kurang berapa menit, bu?” kalau dititipin sayur supaya nggak over cooked. Yang dijawab ibu dengan,”ya dilihat lah, nggak bisa dimenitin” *mendengus kesal* *padahal tinggal tes tusuk*

3. Pakai merica berapa butir?

Hari gini siapa sih yang masih pakai merica butiran? Siapa yang suka takut kalau belinya merica bubuk dicampuri lainnya? *ngacung* Di sisi lain, nggak mungkin juga membebaskan dapur dari merica. Ya kurang endeus lah yaaa. Masa udah berusaha ngurangin garam masih kudu menolak merica, kan? Alhasil, belinya ya merica butiran. Tiap mau masak, ngulek merica dulu sampai halus. Jelasnya, untuk tiap masakan pasti beda dong kebutuhan mericanya. Siapapun yang bertugas ngulek merica selalu tanya,”merica berapa?”. Dijawab dengan menyebutkan jumlah butiran merica yang dimau. Nanti kalau kurang, tinggal tambah aja, 5 butir misalnya. Iya, kita ngitungin butiran merica satu-satu instead of ngulek segenggam lalu ambil secukupnya untuk masak.

3 ini deh kayaknya sejauh ingatan. Ntar deh inget lagi, ya ditulis :3

Kalau di rumahmu, ajaran apa sih yang beda dari umumnya? Cerita sini sama akoh

Iklan

One thought on “Generasi Kuantitatif

  1. Astaga postingan Mbak yang ini lucu banget :))
    Seperti jika ada yang bertanya, “Ini minyak nya udah panas belum cih?”. Silahkan dijawab dengan, “Coba aja dites pake telunjuk”, Hahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s