Beranda » Uncategorized » Pesona Di Balik Bukit

Pesona Di Balik Bukit

Banyak orang antusias naik gunung hingga ke puncak, katanya sih, karena keindahannya tiada dua. Katanya lagi, tiap gunung punya keindahan masing-masing. Aku belum bisa meng-aamiin-i ya, puncak gunung yang pernah ya Gunung Kelud atau Gunung Bromo — itupun kalau masih sah disebut gunung 😀

Namun, keindahaan itu ternyata bukan hanya dimiliki puncaknya. Tapi kaki gunung pun bukit juga punya pesona tersendiri. Mau dibilang surga, takut diprotes karena belum pernah ke sana kok ya sok samain sama keindahan dunia *apasih ini*

Sebutlah kabupaten Pacitan. Kabupaten tempat Presiden Republik Indonesia 2 periode itu terlahir dan dibesarkan terletak di sisi barat-selatan Jawa Timur dikelilingi bukit. Baik dari sisi Ponorogo maupun Trenggalek, pasti harus mengitari bukit menuju Pacitan. Ini sih PR banget untuk pemerintahannya ya, tantangan tersendiri untuk memajukan.

Kalau dengar Pacitan, wisata apa sih yang langsung tersirat?

Pantai Klayar? Anak hits instagram mungkin pantai ini ya yang langsung tersebut. Bagaimana tidak, keindahan Pantai Klayar memang instagram-able banget!

Pantai Teleng Ria? Iya, untuk angkatan bapak ibuku, orang tua kita, bisa jadi ini yang tersirat. Ini obyek wisata pantai yang sudah terkenal dari sedia kala.

Goa Gong? Ini juga terkenal dari lama. Sekarang stalaktit dan stalagmitnya sudah dihiasi lampu dan ada jalur khusus.

Letak geografis Pacitan memang dikelilingi bukit. Namun, Allah Maha Baik, Diberikan banyak sekali pilihan wisata alam di sana. Jadi bisalah dibilang “berrakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian”. Memutar bukit dahulu, bahagia kemudian *maksa banget*

Libur Natal tahun lalu *tsah baru berapa hari juga* Alhamdulillah akhirnya bisa mengunjungi Pacitan. Memilih penginapan di Madiun, perjalanan kurang lebih 5 jam ditempuh menuju Pacitan. 5 jam dengan memutar bukit ya. Mungkin kalau jalannya bisa diluruskan, nembus bukit gitu ya bisa lebih cepat. Sampai di sana, masih clueless mau ke mana, saking banyak banget rekomendasi orang-orang. Kami memilih melipir ke polres setempat. Sekalian lah tanya traffic dari/ke tempat wisata, sekali menyelam minum air. Menurut Om Polisi, menuju Pantai Klayar macetnya luar binasa menjelang siang hari. Sudah ada kurang lebih 10 bis wisata menuju ke sana, tambahnya.

Mengikuti saran Om Polisi, kami memilih Pantai Serau sebagai destinasi pertama. Jalan yang dilalui menuju Pantai Serau cenderung menyempit jadi tidak mungkin dilalui bis wisata. Amanlah harusnya dari rombongan wisatawan. Eh bener aja dong, bukan hanya menyempit, tapi juga longsor di beberapa titik jadi satu lajur digunakan 2 arah. Ada juga proyek perbaikan jembatan, perkerasan dan perluasan jalan sehingga harus bergantian dengan jalur berlawanan. Ya bener aja ya bis ga mungkin masuk sini. Bisa misuh misuh sopirnya kalau penumpang maksain *dikata Surabaya, Yak*

Jpeg

Kiri jurang perkebunan/sawah penduduk, kanannya tebing rawan longsor. Ini di sepanjang jalan

Pantai Serau

Cukup panjang jalan yang kami lalui. Lagi-lagi karena harus memutar bukit heheh. Nggak bisa bayangin deh gimana kaki bapak nginjek pedal kopling, gas, rem. Berulang kali meyakinkan diri ‘bener kok ini jalannya’. Lupakan kecanggihan handphone, karena sinyal Edge pun jarang-jarang muncul sepanjang jalan. Setelah oase air laut akhirnya terlihat, semangat lagiii! Beruntung kami mengikuti saran Om Polisi. Pantainya masih perawan. Wisatawan yang datang banyaknya berkendaraan plat AE, bisalah dibilang masyarakat lokal atau warga sekitar.

Memasuki area Pantai Serau, di tempat harus bayar tiket, seperti masuk area pemukiman. Nah, dibalik rumah-rumah itulah pantai berada. Nggak mahal kok masuknya, 5000 tiap orang untuk mengunjungi ketiga spot pantai seharian.

Pantai ini berada di sisi selatan pulau Jawa, langsung menghadap Samudera Hindia. Ombaknya tinggi untuk ukuran obyek wisata. Jadi lupakan berenang lucu dengan bikini cantik. Cukup jalan menyusuri sambil sesekali menerima tamparan ombak sudah sangat menyenangkan. Beberapa pengunjung ada yang menggelar tikar. Ada pula yang duduk cantik di dahan pohon rendah. 2 anak muda terlihat nyaman sekali tertidur di hammock. Angin semilirnya memang membius! Tapi jangan lupa pakai sunblockmu, sinar mataharinya juga nggak kalah nusuk.

Mau lebih menantang? Sisi kiri kanan garis pantai ada karang besar membatasi. Bolehlah mendaki sedikit ke sana, demi foto kece mungkin? Masyarakat lokal mendaki karang-karang ini untuk memancing. Tapi sungguhlah ya harus beneran hati-hati. Salah langkah, keliru pegangan, lumanyun juga sakitnya.

Fasilitas pantai ini nggak kalah kok dengan yang sudah terkenal. Sebutlah kamar mandi, toilet, musholla. Tersedia semua, dengan air melimpah. Bahkan nggak perlu antri panjang. Tapi pilihan warung makannya minimal. Tenda sederhana, sepertinya nggak sampai 10 penjual juga. Jualannya nggak jauh dari nasi goreng, mie goreng, mie kuah gitulah. Kalau carinya ikan laut murah meriah, di sini nggak ada. Mau minum kelapa muda langsung dari buahnya? Bisa banget! Tapi entah ya, harganya kok sama aja kayak di Surabaya, 8000 per buah.

img_7814

Sisi kanan itu, ada beberapa penduduk nungguin pancingannya di atas karang

img_7850

Berdiri di balik karang kecil, hanya untuk membuktikan teori water-break *lalu basah semua kecipratan parah 😀

img_7891

Naik karang ini nggak tinggi, tapi ternyata butuh effort buat newbie gini

Jpeg

Pantai Soge

Ya masa udah 5 jam perjalanan ke Pacitan cuman ke satu pantai? Rugi dong ah. Mari lanjutkan tantangan menuju Pantai Serau. Ini semacam keluar mulut buaya, masuk kandang harimau. Posisinya Pantai Soge tidak berada sejalan kembali ke Madiun. Pantai ini juga terletak di balik bukit. Tapi nggak bisa nyusur pantai gitu aja dari Pantai Serau. Jadi muterin keluar area Pantai Serau, lalu cari jalan kelilingin bukit lainnya menuju Pantai Soge. Kurang kerjaan? Iya, makanya kita liburan 😀

Pantai Soge terletak di pinggir jalan lingkar selatan, penghubung Trenggalek – Pacitan. Bener-bener di sisi jalan lingkar gitu. Jadi untuk yang ingin menikmati matahari tenggelam tapi malas turun dari mobil, bisalah minggir aja terus parkir deh. Kalau mau main-main lucu, duduk manis di pasir, ya harus masuk dong. Biaya masuknya lebih murah. 2500 tiap orang untuk masuk sini. Memang area pantainya minimalis. Tidak terbagi menjadi 3 spot seperti di Pantai Serau.

Sama halnya Pantai Serau, di sini juga haram hukumnya berenang. Ombaknya aduhai, anginnya kenceng. Butuh waktu lah untuk memastikan kerudung tetap kece waktu di foto. Di sini banyak keluarga terlihat sengaja mampir menanti matahari tenggelam. Ada juga penjual layang-layang, memainkan dagangannya beradu mengikuti arah angin.

Sudah petang, menjelang terbenamnya matahari kami sampai sini. Jadi duduk manis di pasir seneng aja, mataharinya sudah mau sembunyi. Ada spot foto juga dengan latar belakang tulisan SOGE segede bagong, sukses bikin antri keluarga narsis macem kami.

Ngomongin fasilitas, ini sih lebih minimalis juga dari Pantai Serau. Mungkin juga karena sudah sore, warungnya banyak yang tutup. Jualannya samaan lah ya dengan Pantai Serau. Toilet, kamar mandi, musholla juga ada. Bersih dan tersedia air melimpah. Lagi-lagi antrian amanlah karena jarang juga yang mandi, nggak ada orang beres renang, kan. Bedanya dengan Pantai Serau, di sini ada persewaan ATV. Juga ada penjual kerajinan khas pantai, cangkang kerang yang dibentuk berbagai macam.

Jpeg

Di pinggir jalur lingkar selatan Trenggalek-Pacitan *abaikan accessories mobil*

img_7957

Menunggu basahan sisa ombak, basahnya bisa samalah dengan renang

img_7945

Duduk aja gitu di pasir, tinggal kibas cantik bebas kotoran

JpegJpeg

Cukup puas menikmati pantai ini tidak sampai matahari benar-benar kembali ke peraduannya. Mengingat menuju tengah kota butuh lewatin bukit, begitu pula kembali ke penginapan di Madiun. Kami senang dengan area wisata sepi lucu gini, terhindar dari hiruk pikuk dan jadi nggak banyak ngomongin orang lain *buka kartu* Tapi ya gitu deh, usahanya juga harus lebih menuju tempat begini.

Akhirnya Pacitan sudah sukses kami datangi, meski hanya 2 pantai — nggak gitu terkenal lagi. Muterin, keliling bukit, nggak bikin kami kapok ke Pacitan. Mau lagi bahkan! Masih banyak bangeet yang pengen didatengin tapi hari keburu gelap. Semoga moda transportasi umum ke Pacitan lebih kece lah, nggak cuman didominasi Bis Jaya yang langsung dari Surabaya. Kalau harus naik mobil lagi dari Surabaya, bayangin kaki bapak nyetir udah nyengir aja deh ya

Ada banyak keinginan yang disemogakan di awal tahun ini. Termasuk makin banyak tempat seru baru didatengin. Kabupaten Pacitan juga menjadi salah satu di antaranya. Yuk, mau ikut? Atau mau ajakin saya trip ke Pacitan?

—————————————————————————

Gambar diambil dengan kamera Canon SX500 IS dan handphone ASUS Zenfone 2 tanpa ubahan digital *mon maaf deh blurry, ada keterangan tanggal/jam pula*. Seluruh isi tulisan dan gambar merupakan penilaian pribadi, tanpa paksaan apalagi bayaran 🙂

Iklan

2 thoughts on “Pesona Di Balik Bukit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s