Beranda » Uncategorized » Beda dengan Masaku

Beda dengan Masaku

“Hati hati ya, bu”

“Iya, titip masakannya. Kalian jangan lupa makan dulu ya”

“Iya tenang aja. Dagh

Aku, Azhra, Rizhqa serentak melambai ke arah mobil yang perlahan pergi meninggalkan. Kami masuk kembali, berkutat di dapur melanjutkan titah Ibu. Acara masak cepat selesai karena dikerjakan bertiga diiringi heboh mentertawakan hidup. Kami pindah ke depan tv, yang selalu jadi tempat cocok membunuh waktu. Apalagi ditemani makanan laknat (sebut saja Indomie greng dan kripik Maitos bumbu balado~).

Dalam hening ditemani suara tv, tiba-tiba Rizhqa teriak dengan hp di tangannya. Yah, ternyata ada remidi mendadak Dia. Damai terlupakan rasanya.

Rizhqa. Adik bungsuku yang sekarang kelas 1 SMA. SMA (lumayan) mentereng, masuk areal kawasan. Berbeda dengan masaku, sekolah negeri sekarang menerapkan sistem CBT – computer based test, program peninggalan menteri itu. Termasuk sekolah adikku satu ini.

Saat itu pukul 7 malam. Aku, kalau pukul 7 malam tahu mau remidi ya belajar. Ya paling tidak mengerjakan ulang soal ujian. Berbeda dengan Rizhqa. Setelah menemukan soal ujian, dia justru menyiapkan alat perang: laptop, charger, buku, hp. Program CBT ini ‘membebaskan’ test dilaksanakan kapanpun dimanapun. Kebetulan, gurunya adik meminta remidi dilaksanakan pukul 8 tepat. Malam itu juga. Ya sudah, mari ujian~

Canggih. Itu yang terlintas pertama kali. Program CBT ini sukses membuat siswanya disiplin waktu. Tidak lagi ada “bu guru sebentar ya, kurang sedikit lagi” dan gurunya menunggu meski waktu telah lewat.  Atau murid yang berlarian di koridor mengejar pengawas karena waktu ujian sudah berakhir.

CBT ini (kalau di sekolah Adik sih ya), semacam aplikasi online yang memungkinkan siswa mengerjakan ujian tanpa kertas dan berbatas waktu. Aplikasinya lumayan rapi (agak nggak sopan sih bilang lumayan, Aku juga belum bisa bikin. Tapi ya gimana?), bisa diakses melalui laptop pun hp, asal ada akses internet. Ujian online ini berbatas waktu. Ada timer yang menghitung mundur waktu ujian.

Remidi di rumah semacam Adik, sangat bisa dikerjakan berbarengan, dengan membuka buku bahkan googling. Ajaib ya? Hahaha, ya gitu deh. Kebetulan pelajaran biologi dan Azhra punya kitabnya. Jadilah dikerjakan bertiga. 25 soal selesai kurang dari 5 menit sebelum waktu habis.

Haha ya memang semua pastilah ada dua sisi, positif negatif. Disiplin waktu, tapi belum tentu jujur pengerjaannya. Eh, beberapa guru memang -katanya sih- membebaskan murid mengenai cara mengerjakan; diskusi, buka buku, googling. Terserah deh ya. Yaaah sudah lupakan, itu kan bicara etika. Setahu dan seingatku, tidak ada kan ya agama yang mengajarkan beretika buruk (?)

Ada hal lain yang mengusik. Justru rasanya jadi pondasi pelaksanaan CBT ini. Keberadaan gawai. Entah laptop atau hp. Untuk Rizhqa, alhamdulillaah termasuk beruntung. Meski belum punya laptop sendiri, ada milik 2 kakaknya yang bisa dipinjam. Juga ada hp dengan fasilitas memungkinkan. Wifi di rumah juga sangat mendukung.

Aku sempat bertanya perihal ini. Kata Rizhqa, temannya yang tidak bawa laptop ya ujian di lab komputer. Tapi karena komputer di lab terbatas, sebisa mungkin bawa dari rumah. Well, untuk ujian di sekolah bisa diatasi yang demikian. Kasus remidi malam hari mendadak pula? Kasian juga kalau terbirit ke warnet, atau harus mengerjakan dari hp.

Agaknya memang tidak mungkin ya, kondisi terbatas itu terjadi di Surabaya. Tapi hey, Adik di sekolah negeri. Uang sekolah yang gratis (tapi pendukungnya mahal) ini sangat mungkin kedatangan siswa dengan berbagai latar belakang. Siswanya heterogen sekali, baik ekonomi maupun budayanya. Kalau pengetahuan anggaplah menengah ke atas, toh masuknya juga tidak mudah. Aku tak lagi bisa membayangkan, bagaimana siswa dengan keterbatasan itu. Yakinku, sungguh dia juga maunya serba ada selalu punya, kan.

Sedih lho ya. Indonesia penghujung 2016. Negara ini rupanya sedang mengejar ketertinggalan. Entah antara hemat kertas – sayang pohon, atau biar kelihatan keren, program macam ini tetiba ada. Sudah dari tahun lalu sih, bukan mendadak kalau sekarang. Bagiku, sudahlah, Aku rindu anak SMA yang sibuk basketan, gitaran, belajar kelompok. Bukan anak SMA yang ribut kuota dan rebutan saklar listrik demi CBT ini. Sebut saja Aku gagal move on. Tapi Indonesia masih butuh generasi beretika – yang jika kelak memang saatnya serba canggih tak perlu dipaksakan, baik fasilitas pendukung maupun jalannya program.

Salam manis, dari Kakak yang sampai sarjana nggak kenal ujian online selain mengisi indeks prestasi dosen 😀

Iklan

One thought on “Beda dengan Masaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s