Cerita Ibu

Malam ini, seperti biasa, meja makan selalu menjadi arena favorit berbagi cerita. Sebenernya cerita juga ga jauh jauh beda ya tiap harinya, toh yang dikerjakan juga itu lagi itu lagi. Tapi malam ini spesial..

Ibu, ibu rumah tangga yang sehari hari nya banyak di luar rumah. Ya gimana, ada aja tuh yang dikerjakan *biar bisa beli(in anaknya) lipstick, kan, Mi, ya?* Hari ini Ibu ada kumpul kumpul cantik dengan beberapa teman.

Beliau cerita tentang usaha persewaan kelompok temannya. Singkat cerita, entah bagaimana, persewaan ini sudah bukan lagi tujuan utama masyarakat. Ya gimana dong, ada kelompok lain yang sanggup jual (barang yang identik) dengan harga 50.000 lebih murah daripada sewa. Prinsip ekonomi, kalau beli aja dapet lebih murah, ngapain sewa? Ye, kan? Mau nanti hanya sekali pakai, lalu entah buat apa lagi juga dipikir belakangan bisa. Ya, tho?
Kalau di kelompok teman ibu ini, keuntungan persewaannya jadi modal untuk aksi sosial. Baik itu jualan nasi bungkus setengah harga, menyewakan gedung serbaguna harga miring, dan segala kemudah-murahan lain. Seperti pada umumnya, kalau sudah terlihat biaya sewa mahal, ya segala hal baik dari persewaan ini kan langsung tertutupi. Termasuk aksi sosial.

Terpukullah kelompok persewaan. Kelimpungan kan cari sumber dana lain yang masuk akal (dan bisa lulus audit BPK dengan predikat wajar tanpa pengecualian *eh). Eh kok ya Kehebatan Gusti Allah, sang pesaing itu mulai ketahuan siapa dalangnya. Makin sedih lagi, dalang ini ya teman sendiri, memang pernah menjadi bagian dari keluarga besar persewaan.

Aku yang tabiatnya super kepo dan bawel bertanya,”Gitu itu bisa disalahkan gak sih? I mean, kan ya seperti persewaan sound system, toh juga ada toko yang jual. Kan ya seperti tambah pesaing aja. Sebenarnya gak salah kan yang jual itu?”

Bapak menjelaskan,”Ya memang tidak salah, asal labelnya tidak menggunakan (sebut merk) persewaan. Kalau dia menyebutkan baru bisa diajak ribut dianggap plagiat”

Lalu ditambahi dengan kata Ibu,”ya pada akhirnya, apapun tujuan yang ingin dicapai, rejeki tiap orang berbeda beda. Kan sudah digariskan Gusti Allah. Lahir, mati, rejeki, jodoh kan sudah digariskan. Mau tujuannya seindah (atau seburuk) apapun, pasti akan dikembalikan sesuai garis. Sudah gak perlulah iri dengan rejeki tetangga”

Aku tersenyum. Malam ini aku belajar lagi, melalui cerita Ibu. Bahwa rejeki itu sudah ada Yang Mengatur..

.

.

.

.

.

Eh tapi kalau berjodoh dan menua bersamamu, sudah menjadi bagian dari garis itu, kan, Gusti Allah?

Iklan

One thought on “Cerita Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s