Beranda » Uncategorized » Tentang Piala Bergilir

Tentang Piala Bergilir

Berulang kali datang ke pernikahan circle terdekat, entah saudara atau kawan. Ternyata piala bergilir itu memang lagi tren ya. Entah deh siapa, dimana, kapan mulai.

Jadi, dalam satu circle itu, dibuat piala. Entah wujudnya gimana, tulisannya apa. Piala itu nanti diberikan ke yang menikah pertama. Kemudian digilir ke anggota yang menikah berikutnya. That’s why, judulnya Piala Bergilir.

Sounds cool kan ya? Asik banget ga sih?

Semenyenangkan itu memang – untuk kita kita, yang usia nya masih early 20 an, dan belum seterpikir itu untuk melakukan janji suci.
Seseru itu memang – untuk kita kita, yang sudah punya bayangan bakal nikah sama siapa atau kira kira kapan.

But wait,

Ini menikah. Ibadah.

Bukan perhelatan F1 atau motoGP. Atau simply, cerdas cermat kecamatan.

Bukan perlombaan.

Ibu pernah sekali waktu mengingatkanku mengenai hal ini. Bahwa menikah itu pilihan. Bahwa menikah itu bersatunya 2 insan yang sama sekali berbeda untuk memutuskan hidup bersama. Bukan perlombaan. Bukan tentang dulu duluan. Bukan lelucon, sehingga tak pantas ditertawakan.

Mungkin, sampai usia yaaa early 30 lah ya. Piala bergilir ini akan terlihat semenyenangkan itu, seseru itu. Tapi lewat dari usia 30, sejatinya tiap anggota dalam circle tersebut telah memilih jalannya masing-masing. Entahlah berkeluarga, mengejar karir, atau menjalani hobi juga passionnya. Lalu pialanya gimana dong?

Well. Lingkunganku mengajarkan bahwa menikah itu pilihan. Pun untuk menjadi unmarried, juga pilihan. (yang) Sejatinya, semua pilihan itu harus dihormati.

Tak elok sepertinya, piala yang si A dapatkan sudah tak semoncer ketika B menikah. Hanya karena A menikah jauuuh setelah piala itu dibuat.
Tak elok sepertinya, si C tak mendapat piala itu karena dia memutuskan untuk menjalani unmarried life.

A, B, C, juga entah siapa sampai Z.
Tak mungkin lah di antara mereka semua, hatinya sama sama keras. Alias ngga gampang baper, atau cuek bebek, ga paham kode. Kalau baper gimana? Atau wajah cuek, hati rapuh? Sedih dong ga sempet pegang Piala Bergilir sewaktu masih mentereng :”

Oh, mungkin inilah saatnya. Untuk kita, generasi early 20an. Menimbang kembali keputusan membuat piala bergilir itu. Demi menjaga hati kawan seperjuangan. Juga menjaga dompet dari hal yang rasanya kurang bermanfaat.

Karena menikah itu pilihan ibadah,
bukan perlombaan yang ada pemenangnya mendapat piala 🙂

*piala ini bisa menjelma dalam wujud lain, dengan niat dan tujuan yang sama*

Love,
Delftya Enhaperdhani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s