Beranda » Uncategorized » For the sake of manner

For the sake of manner

Cerita 1 :
Tya, gadis setengah matang yang belum pernah tergabung di organisasi resmi. Tiba-tiba dipinang untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemahasiswaan jurusan. Setelah akhirnya, setahun berlalu dan tugas selesai. Tugas memang resminya selesai, tapi ada hutang yang belum terbayar. Menyampaikan segalanya pada pengurus baru. Mulai cerita panjang, diskusi, hingga setumpuk file berkas setahun. Yang terakhir itu, tertunda lumayan lama. Antara kelupaan atau melupakan, untuk kemudian mengingat lagi. Map itu tebal, ya maklum, berkas setahun. Pindah juga dari rak buku kamar ke loker jatah di lab. Si Eneng penerus sudah dikabari untuk janjian ambil. Eh, sedihnya, sampai hari itu Tya harus pergi sebentar, Eneng belum juga muncul. Tya harus pergi. Kembalinya, map itu sudah lenyap. Usut punya usut, kata crew lab lain, sudah diambil si Eneng. Sudah, perbincangan Tya dan Eneng berhenti di janjian sebelumnya. No more nyuwun tulung dan matur nuwun.

Cerita 2 :
Ibu menjual berbagai macam wadah plastik tempat makan food grade. Mahalnya kadang agak ga masuk akal. Meski tetep aja ada yang beli dari berbagai kalangan. Satu sore, datang Nona, mbak yang kutaksir umurnya baru awal 30an. Meninggalkan suaminya di mobil untuk ambil barang pesanan. Transaksi berlangsung cepat, ya seperti normalnya. Barang sekardus hampir ukuran setengah mesin cuci berpindah pemilik. Si Nona keluar, berteriak memanggil suaminya untuk mendekatkan mobil. Ibu (mungkin) gemas, beliau membantu mengangkatkan kardus itu hingga ke pagar. Si suami terduduk di bangku sopir, mengerem depan pagar. Nona melangkah gontai membuka bagasi. Sedangkan ibu, tergopoh mengangkat barang yang tak lagi miliknya ke dalam bagasi.

========= ========== ==========

Cerita 1, kualami belum lama. Sepertinya masih dalam 2 minggu terakhir. Entah, rasanya aneh. Ada yang janjian ambil barang, eh nggak ketemu tetep aja disikat. Ya meskipun sudah dititipkan ke crew lab lainnya. Bahkan terima kasih di pesan ponsel ataupun saat bersitatap tak ada.

Cerita 2 dialami Ibu. Sudah lama, tapi masih hangat diperbincangkan. Ibu agak geram ketika mengetahui suami si Nona tidak turun untuk membantu angkat kardus. Yah, sekadar buka bagasi pun tak dia lakukan. Geram juga dengan Nona, yang tak membantu mengangkat, hanya melangkah gontai membuka bagasi.

Aku dibesarkan di keluarga (yang ternyata) adat ketimurannya kental sekali. Tolong, maaf, terima kasih seakan menjadi kata-kata keramat yang harus diucapkan. Awalnya dulu, mungkin terpaksa. Tapi makin lama, jadi terbiasa. Hingga kadang aneh ketika melihat orang lain tidak melakukannya.

Bukan hanya tentang 3 kata keramat, tapi juga memperlakukan wanita. Dalam pengamatanku, almarhum Eyang Kakung, Bapak, Pakde, Oom akan selalu membukakan pintu mobil untuk pasangan atau perempuan di sekitarnya. Bahkan pintu mall, atau toko. Beliau juga mengangkatkan barang jika terlihat berlebihan dibawa wanita. Suatu kali, Bapak pernah berpesan dengan tegas,”Nduk, kalau kamu sama temen cewek, siapapun itu, jemput dan antar kembali ke depan rumahnya. Pastikan dia pergi diketahui orang rumahnya dan nantinya kembali lagi selamat. Kamu pun kalau nebeng juga gitu. Jangan pernah mau diturunkan di depan rumah tetangga, apalagi di ujung gang.”

For the sake of manner…
Mungkin ada yang menganggap aku dibesarkan di keluarga berlebihan. Jadinya yaa aku seperti ini. Untukku, itu bagian dari attitude, serpihan manner, yang harusnya menempel pada diri.

Tapi apa ya mau diambil hati? Aduh repot amat, kak. Mungkin simply karena Eneng dan Nona terbiasa dengan yang demikian. Jadi ya tidak ada yang salah menurut mereka…

Cukup menjadi another lesson to learn, another story to tell aja sih. Juga pengingat, semoga menjadi sosok yang bisa jaga diri 🙂

Love,
Delftya Enhaperdhani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s