Beranda » Uncategorized » Tentang Cinta

Tentang Cinta

Sebagai gadis 21 tahun lebih beberapa hari, Tya tetaplah Daddy’s little girl. Ketika 21 tahun, Trinity sudah kemana-mana, Tya jalan-jalan berdua sama Bapak sampai bikin iri adik dua.

Iya. Jangankan untuk liburan keluar kota bareng teman, pun yang Bapak Ibuk kenal baik. Bahkan forum di jurusan yang sampai larut malam itu diantar-jemput, padahal jarak rumah-kampus sekedipan mata, 5 menit juga bisa motoran.

3 tahun lalu. Heboh-hebohnya jadi mahasiswa baru yang dapet tugas banyak dan ditanggepi lebay itu. Ketika kelompok kecil lain ngerjain di lobby asrama, kelompokku di rumah. Bahkan sampai pagi. Plus adegan sekelompok didulang Ibuk sarapan.

Semester 3. Laporan terakhir tulis dan gambar tangan. 3 kali seminggu pasti Prima, Nisa, Baskoro nginep di rumah, berkedok ngerjain bareng. Meski kadang lewat jam 11 malam sudah mulai error. Bapak Ibuk dengan sangat terbuka mengijinkan ini terjadi sepanjang 1 semester. Daripada putrinya pulang larut bahkan pagi.

Bapak Ibuk akan jauh lebih bahagia ketika Tya mengundang temannya tumpengan di rumah, daripada makan di luar yang pulangnya bisa lewat jam 10 malam.

Mungkin, kalau pamit ke club misalnya, Bapak bakal anterin dan ditungguin sampai pulang.

Ya memang, tidak dipungkiri, ada saatnya merasa “temenku jalan-jalan bareng keluar kota gapapa, kok aku pulang malem di Surabaya aja ga boleh”

Tapi, bakal meleleh kalau paham maksud Bapak Ibuk. Bagaimana Beliau berdua ngekepin kami bertiga, sebagai bentuk menjaga amanah Allah.

Dalam perjalanan menuju Malang Selatan kala itu, Ibuk sempat berujar,”masya Allah ya bagusnyaa. Makanya Bapak Ibuk ajak kalian jalan-jalan gini selagi bisa. Daripada sama teman, sudahlah naik motor, bukan muhrim lagi.”

Dikekepin Bapak Ibuk bukan berarti jadi nggak gaul kekinian kok. Makan di resto fancy atau warung pinggir jalan pernah, liburan naik gunung oke, sun bathing di pantai sudah, tidur hotel kece sampai losmen beres. Semua itu ya sama Bapak Ibuk. Menyenangkan, kan?

Sekarang, ketika sudah masuk dunia 20an justru suka ngikut Bapak atau Ibuk kemana. Sebisa mungkin ikutlah. Bapak kerja ke Bawean ikut, nebeng liburan juga. Kondangan saudara, adik dua ga mau, aku ayo aja semangat berangkat.

Ya kenapa lagi sih kalau bukan, ‘mumpung masih bisa’. Seperti kata Dimas tadi siang di depan kelas,”dinikmati aja, ya ini nanti yang bakal dikangenin.”

Nggg. Sekarang aja kadang sering kangen diantar-jemput sekolah. Cerita tentang hari itu, pun mimpi masa depan sepanjang perjalanan. Rindu juga semangkuk soto tiap sore yang jadi saksi bisu kehangatan seorang gadis dengan Bapaknya.

That’s how Bapak Ibuk treat me (and my lil sisters) as their little girl. Posesif? Nope. Bangga justru. Untukku, itu tanda cinta. Karena cinta selalu berbicara tentang menjaga, mengerti, dan menghargai..

Love,
Delftya Enhaperdhani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s