Kembali (menata) hidup

Ah akhirnya, mendarat juga badan ini di kasur kamar sendiri. Setelah 12 jam di jalan, menyanggupi LCC sehingga Palembang-Surabaya (ga jadi) 2 jam saja

1 bulan di Palembang, sudah ngapain aja?

Ya kalau ditanya makanan khas atau tempat wisata, jelas kalah lah dibanding yang lebih lama atau datang berombongan. Tapi sudah pernah jalan sendirian 😀 bagiku, ini pencapaian, alhamdulillaah

Hari itu, Selasa, 21 Juli 2015
Akhirnya merasakan naik Trans Musi sendirian, pakai transit, juga kadang ga dapet tempat duduk. Jalan kaki jauh sambil lihat kanan kiri, hingga akhirnya tahu ada Lapas Wanita di jalan yang sebelumnya sering dilalui. Jembatan Ampera yang tersohor, Benteng Kuto Besak yang ternyata besak nian, alhamdulillaah sukses ditemui dengan damai. Tak lupa, Museum Sultan Muhammad Badaruddin II sukses dilihat-l ihat. Museum yang meninggalkan banyak cerita tentang perjuangan Sriwidjaja, tidak sengaja masuk pun berkat toleh kanan kiri. Makan Martabak HAR di dekat Simpang Sekip yang tersohor. Pun naik bis lokal yang harganya lebih murah 1500 dari Trans Musi. Aku (dan teman-teman) menyebutnya sebagai bis disko. Bagaimana tidak, body boleh soak, di jalan berjalan seenak sendiri tak masalah, asal sound system handal dan dapat menyetel lagu kencang nian. Jalan sendirian kala itu memang hanya 6 jam. Namun lebih dari cukup untuk membuat otak tetap waras (dan badan makin gempor)

Sudah beli post card yang ga sengaja ketemu di books & beyond Palembang Icon. Lucu nian tapi 7500. Sayang, post card unyu unyu justru ga ada di kantor pos. Kantor pos jual post card harga 200 perak per lembar, tapi gambarnya wisata di Jawa. Kan sedih 😦 sukses terkirim ke Surabaya dengan perangko 3ribuan setelah 2 minggu kirim. Saat ini, sedang dalam percobaan kirim ke Tiongkok, bermodal perangko 10ribu. Kira kira nyampe ga tuh? We will see~

Sudah ngapain lagi? Somehow jadi lebih menurunkan jiwa koleris. Jadi lebih mikir sebelum bertindak. Termasuk menyadari bahwa diri ini perfectionist tingkat akut

Setumpuk keluhan berbumbu kekesalan seakan lenyap, bersama jiwa koleris yang terpendam makin dalam. Menjalani dengan ikhlas nyatanya sukses membuat hari berlalu jauh lebih nyaman dan menenangkan. Hingga akhirnya, harus pulang tanpa tahu kapan kembali..

Palembang sukses memberi kesan tersendiri. Hingga rasanya, bertandang ke sana patut untuk diulangi

image

image

image

image

image

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s