Tuhan pasti tahu

Kemarin, pagi sekali, aku berdoa sekelebat. Dalam batin setelah sholat, dan di setiap lamunan yang datang. Aku meminta kelancaran dalam menjalani hari. Kuis pagi, 2 kelas mata kuliah heboh, tes dosen untuk 2 judul praktikum, dan lagi kemungkinan maju presentasi yang tak pasti.

Aku hanya memohon kelancaran. Sebenar nya lebih ke kuis pagi dan tes dosen nya sih. Aku paham, kuis open book di pagi buta itu tak mungkin dapat diselesaikan semudah membaca buku nya. Aku pun meminta, agar tes dosen berlalu lancar, cepat, seperti beberapa kali tes sebelumnya. Tak seperti teman lain, yang sukses terunduk gagu 90 menit di hadapan Bapak.

Cukup. Setumpuk hand out siap di ransel. Kupeluk juga buku tebal yang sebelumnya selalu terbaris rapi di kamar, demi berhadapan dengan Bapak. 30 menit sebelum kelas di mulai, aku berjalan dengan mantap. Tak seperti rutinku, yang kadang, berangkat tepat saat kelas dijadwalkan mulai.

Kuis pagi berlalu dengan damai, sesuai prediksi. Menuju siang hari, jelas nervous. Baca ulang laporan, buka segala kitab. Kemudian pasrah. Sudahlah, semoga segera usai. Begitu pikirku.

Tes dosen berlalu hanya 30 menit untuk 2 judul praktikum. Cukup menakjubkan. Dibandingkan dengan teman lain, yang bisa 90 menit hanya untuk 1 judul. Mengesankan bukan? Semua teman bertanya,”Bagaimana bisa se-Dewa itu?”. “Dewa dari mana?”, pikirku. Orang lain hanya tak tahu apa yang terjadi di ruangan 3×2 meter itu. Aku, bersama kedua partner tertunduk gagu. Menerima kenyataan bahwa ternyata apa yang kami lakukan belum sesuai, jauh dari sempurna. Kami melenggang keluar, setelah Bapak berujar bahwa akan segera menghadiri rapat. Ya kami keluar bukan terusir karena ke-gagu-an dalam diam, namun semata Bapak harus rapat. Itu.

Melenggang keluar ruangan dengan wajah lesu. Tak tahu lagi harus bagaimana. Mengulang praktikum dengan judul yang sama juga tak mungkin lagi. Pasrah (lagi). Diiringi dengan segala harap semoga ada keajaiban di akhir semester.

========= ========== ==========

Aku sempat menceritakan ini pada seorang teman. Detail sekali kuceritakan. Perbincangan kami dengan Bapak. Pun doa apa yang kami panjatkan sebelumnya.

Dia mendengar dengan khidmat. Mengiyakan. Juga turut tertawa. Kadang ikut mengumpat. Sampai pada suatu titik, dia berujar,”Lah yaudah sih disyukuri aja, kan udah sesuai sama doa mu, Ty”

Aku terdiam. Ku pikir,”doa dari mana? Yang mana? Siapa juga yang minta 2 judul praktikum dinyatakan tidak sesuai?”

Dia menimpali,”Ya kamu berharap cepat selesai, semoga Bapak ada rapat. Terkabul semua kan. Cuman 30 menit dan Bapak memang ada rapat”

——– ——– ———

Aku tertunduk. Lesu. Iya, mungkin hari ini terlalu sombong di hadapan Tuhan. Tuhan memberi persis sesuai dengan apa yang kupinta. Lalu aku masih sempat mengumpat keadaan.

Hari ini cukup mengingatkanku. Betapa berdoa harus sespesifik mungkin. Meminta sedetail mungkin. Berusaha sekeras mungkin. Tak perlu lah sombong, doa hanya dalam angan. Tak terucap dalam tengadah tangan dan sembah sujud.

Karena kita semua pasti paham, bahwa
Tuhan tahu, tapi Beliau menunggu. Menunggu doa yang serius, usaha yang keras, dan dilakukan sepenuh hati.

Selamat berdoa! Karena tak akan pernah ada yang terlihat terlalu bodoh di hadapan Nya. Sedang manusia seringkali terlalu sombong untuk meminta..

ps : postingan kali ini didedikasikan untuk the one and only, Mbak Tunz. Siapa dia? Yuk, ketemuan apa? Biar bisa sekalian dikenalin.. psssst masih jomblo tuh *eh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s