Beranda » Uncategorized » Pelajaran berikutnya

Pelajaran berikutnya

Kemarin seperti nya hari berlalu sangat panjang. Jelang adzan maghrib baru masuk pagar rumah. Itu pun masih bawa setumpuk tugas, juga lab tools sisa praktikum siang nya.

Tertidur. Panjang. Bangun kelaparan. Masih lanjut tidur lagi sampai pagi, tanpa dosa. Bangun pagi juga karena kewajiban antar adik sekolah. Segitu capek nya? Ya ngga tau ya, yang jelas mimpi nya pantas diingat.

Tidur sepanjang itu nyata nya tidak sepenuh nya lelap. Terbukti masih ada mimpi yang teringat jelas. Berikut jalan cerita dan wajah para aktor.

Mimpi absurd. Banget.

Entah juga sih kok ya mimpi manjat manjat entah apa itu. Terakhir manjat genteng. Ada adegan loncat dari pohon ke genteng juga. Padahal seumur umur belum pernah tuh begitu..

Sampai di atas genteng, ternyata ngga sendirian. Ada beberapa orang lain, heterogen. Ada bapak juga, di ujung, mengamati. Semua yang di atas genteng diminta tidur dengan posisi kepala jatuh, tanpa alas, menghadap arah utara. Supaya seimbang, kaki nya jenjang ke atas, semacam mau yoga.

image

dapat dari facebook 'Kerja dari Rumah'

Kami di situ berjejer rapi dengan angin sepoi. Di ujung tepat lurus mata memandang, ada sekumpulan orang lain berbaris, sejajar dengan kami. Ada suara datang entah dari mana, mengumumkan. Jejeran manusia diseberang itu yang akan meminang kami, yang diminta tidur dengan pose aneh ini.

Aku terkesiap dalam mimpi. Terbangun. Menghambur ke bapak di ujung. Aku bertanya bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang harus ku lakukan? Bolehkah aku menolak? Jika iya, dengan cara apa? Tak disangka. Bapak hanya tersenyum simpul. Sambil berkata,”coba dipikirkan lagi” dengan sangat lirih.

Mimpi selesai, berganti dengan yang absurd lain nya.

========== ========= ==========

Mimpi ini begitu teringat. Bahkan 5 jam setelah terbangun. Bukan. Bukan hanya cerita tentang jodoh yang tetiba datang di ujung seberang..

Tak lagi pernah kuucapkan seorang nama dalam doa. Aku memang tak begitu sok tau nya, hingga seberani itu. Jika memang bukan Kahyangan yang terbaik untuk ku, lalu aku bisa apa?

Aku seakan diingatkan. Untuk memikirkan segala langkah yang akan ku ambil. Memikirkan segala pencapaian, berikut konsekuensi nya. Untuk tidak berlaku semau nya. Untuk tidak bertindak sesuka nya.

Dalam mimpi itu, bapak seakan memberi wejangan,”jadi orang jangan semau nya sendiri

Iya, Pak, terima kasih atas kehadiran mu dalam mimpi semalam, meski jarak lintas pulau sedang memisahkan kita. Mungkin aku rindu, atas bincang santai tiap pulang sekolah seperti dulu (?).

Iklan

2 thoughts on “Pelajaran berikutnya

  1. Sudah bukan waktunya asal nolak dengan alasan nggak suka, ya :’)
    Sudah waktunya belajar mikir “ini baik buatku nggak? baik buat orang kesayangan nggak? baik buat lingkungan nggak?” daripada sekedar “aku suka nggak?”
    *uhuk*

  2. Iya. Katanya sih mahasiswa sudah bukan waktunya ngurus diri aja. Eh tapi bukan cuman karena mahasiswa sih. Karena ya emang udah waktunya aja (otaknya musti lebih dipake) :”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s