Beranda » Uncategorized » Kepada Yth, Kau

Kepada Yth, Kau

Kepada Yth. Kau,
Di Utara, Kahyangan, atau jarak di antaranya.

Hallo, apa kabar, Kau? Semoga baik saja, normatif, seperti kabar Ku di sini. Lama ya kita tak bersua. Ya, sejak Kau memutuskan tinggal di Kahyangan.

Hai, Kau, perkenalkan, ini Aku yang telah mengetahui keberadaanmu sekitar setahun yang lalu. Aku yakin, Kau pasti mengenalku. Saat itu, ketika tetua memberi kita tugas indah. Kesan Ku terhadap Kau begitu baik, membekas hingga kini. Ku harap sebaliknya juga 🙂

3 bulan lalu, saat Kau masih berkelana, sering Ku lihat ujung ranselmu. Aku memang tak seberani itu menatap batang hidungmu. Karena melihat Kau sekelebat, bahkan sisa ujung ransel yang segera meninggalkan, sudah membuatku bahagia. Paling tidak, Aku tahu, Kau pasti baik baik saja. Ya, setidaknya, sebaik posisi ransel yang Kau gendong di pundak.

Kau, apa kabar Elang? Iya, Elang, kendaraan yang selalu Kau bawa, saat masih berkelana, mengumpulkan nyawa di dasar. Dahulu, melihat Elang terparkir adalah rutinitasku. Tak penting memang, tapi itulah yang Ku lakukan. Melihat Elang memberiku secercah harap, untuk menatap ujung ranselmu. Oh, apa mungkin Elang sudah menjelma? Menjadi jauh lebih cantik dan bermanfaat. Hingga tak perlu terdiam berdesakan, ketika mengantarmu ke Kahyangan.

Apa kabar, Kahyangan? Tahu kah, Kau? Kau menjadi jauuuh lebih keren ketika ku tahu, dirimu menetap di sana. Ya, dari awal Aku tinggal di sini, memang tak pernah terbesit keinginan menghabiskan setahun terakhir Ku kelak di Kahyangan. Ku anggap Kahyangan sebagai tempat yang penuh misteri. Berisi orang orang hebat, yang siap menaklukkan bumi hanya berbekal simulasi komputer. Tapi, cerita masyarakat tentang indahnya Kahyangan membawaku terbang. Seakan ingin menyusulmu ke sana. Mungkinkah kelak kita menaklukkan dunia bersama? Ah siapalah Aku yang dapat memastikan masa depan.

Kau, tak lebih dari 6 bulan lagi Aku memilih jalan menuju masa depan. Sempat terlintas dibenakku, kelak ingin mengurus makanan masyarakat bawah. Ku pikir, mereka pasti selalu butuh makan sehingga tak mungkin Aku kehilangan pekerjaan. Tapi kali ini, Kahyangan seakan memanggil. Nyatanya, melalui Kahyangan kelak dapat membawaku pada pilihan masa depan yang lebih luas. Ya, Aku pun masih tak mampu memutuskan, apa yang kelak menjadi jalan masa depanku. Doakan Aku agar mampu memilih sesuai keinginan dari hati dan didasari bekalku saat berkelana tiga tahun terakhir. Seperti Kau saat memilih Kahyangan sebagai jalan menuju masa depan.

Kau, tak mampu Ku ucap namamu dalam sembah sujudku. Maafkan Aku, yang begitu pasrah atas kehendak Nya. Aku pun tak seyakin itu untuk menghabiskan masa tua kelak bersamamu. Hingga saat ini, Kau cukup menjadi pemicu Aku untuk belajar, agar dapat memilih jalan menuju masa depan seperti caramu. Terima kasih telah bertamu dalam hidupku. Terima kasih telah membuatku tersadar, bahwa dunia butuh orang yang perduli. Bahwa orang yang perduli seperti Kau memang benar adanya.

Sudah dulu ya, Kau. Maaf Aku telah menghabiskan sisa waktumu di sana, hanya untuk membaca surat ini…jika memang Kau berkenan membacanya. Selamat bertugas, Kau. Selamat menaklukan misi penyelesaian simulasi. Hingga kelak, Kau dapat berkelana tanpa takut tersesat..

Salam dari Aku,
yang sedang merindu dan terus berusaha memantaskan diri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s