Ketika Kebenaran itu (terlihat) Menyimpang

Hari ini, tepat di penghujung pekan. Hari Sabtu tepatnya, waktu untuk kembali berkumpul dengan kawan2 untuk jalan bareng ngerjakan tugas kelompok yang gak ketulungan banyaknya.

Kebetulan rumah (ortu)ku kebagian jadi wadah anak2 SMA ini ngerjain tugasnya. Lumayan banyak, latihan pola lantai buat nari yang gak kelar2, ngerjakan powerpoint kimia yang belum pernah di awali.

Jam 9 kita ber6 janjian ngumpul. Alhamdulillah pada on-time semua. Tapi ada yang mengganjal buat aku. Seorang teman cewek diantar teman ikhwan pacarnya. Awalnya, aku cuman mikir, ‘oh, dianter, okelah gapapa’. Eh, ternyata..oh..ternyata.. si cow itu ikutan masuk rumah, ikutan duduk, plus ikutan nimbrung ngobrol. Gak mungkin dong aku ngusir. Okelah tak biarin.

Sampai jam12, aku berusaha untuk tetap comfort, padahal ini di rumah sendiri. Akhirnya, bakpak, ibu, n adik2 dateng. Aku sadar, ada kerut-kerut wajah kaget di antara mereka. Aku memang belum pernah bawa teman cow dateng ke rumah, apalagi ini 1 cow di antara 6 cew. Kalau-pun harus ada, aku pasti (insya Allah) bilang dulu ke ortu. Tapi, ini beda! Aku mulai menjelaskan ke ibu, apa yang telah terjadi. (dan untungnya) Beliau mau mengerti.

Sepasang muda-mudi yang tak jelas hubungannya itu mulai terlihat bertengkar di depanku, yang akhirnya, membuat si cew jadi gak fokus latihan. Bertengkar dan terus bertengkar. Entah mereka sengaja atau enggak, yang jelas itu nampak sekali oleh mata kepalaku. Aku bosan. Aku marah. Rasanya, kurang ridho, ini rumah dipake tempat orang pacaran berantem.

Pada titik akhir, mereka pamit pulang, dan ternyata (lagi) gak direstui ibu gara2 belum makan. Aku bingung harus bagaimana. Aku coba cerita ke teman yang ku tahu mereka peduli akan hal-hal simple jauh dari syar’i seperti ini. Alhamdulillah, aku bisa mulai lebih tenang.

Setelah makan bareng, berlatih sekali lagi, mereka akhirnya pulang. Aku menitipkan sedikit pesan yang (aku tahu) itu -lumayan- menusuk. Di saat mereka berdua sampai di depan pagar, kebetulan hanya aku yang mengantar keluar. Teman2 lain hanya ‘say good bye’ dari balik jendela ruang tamu. Aku katakan titipan pesan itu ke mereka, “Teman, maaf ya. Aku menghormati keputusan kalian untuk pacaran. Tapi tolong juga hormati prinsip ku dan juga keluargaku. Kita serumah ada perjanjian gak tertulis, bahwa ‘tabu bawa cow bukan muhrim ke rumah tanpa ijin dan tujuan yang jelas’. Lain kali, kalau emang mau ditungguin cow mu ya bilang dulu. Jadi, aku n yang di rumah gak kaget. Atau kalau kamu maksa ditungguin dia, bilang dari kemarin, biar gak usah kerja kelompok di rumahku. Aku gak pengen omongan ku ini jadi sebab pertengkaran di antara kalian. Udahlah, met pulang. Ati-ati di jalan!” Kurang lebih, seperti itulah isi titipannya..

– – – – –

Sebenarnya, aku juga tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran mereka. Tapi, aku tahu, itu bukanlah pemandangan yang wajar di rumah, juga bukan hal yang layak untuk dibenarkan. Entahlah, apa yang terjadi pada mereka setelah ku sampaikan titipan itu, aku tak mau tahu.

Inilah yang aku sadari… Ketika aku diminta untuk mengerti akan keadaan di dunia, termasuk segudang kehancurannya. Aku (dan kita semua) dipaksa untuk banyak memberikan toleransi kepada segala bentuk kebathilan, entah dalam ukuran ringan atau berat. Tetapi, ketika kita hendak menegakkan syari’at Islam yang lurus, malah dianggap berperilaku menyimpang.

Kapan Islam akan berjaya, dan kebenaran akan tegak berdiri tanpa takut terkoyak angin-angin kebathilan??????

Yaa Allah,
Tunjukkanlah pada kami, bahwa yang benar itu adalah benar,
dan berilah kekuatan untuk melakukannya.
Serta tunjukkanlah kami, bahwa yang salah itu adalah salah,
dan berikanlah kekuatan untuk menjauhinya.
Aamiin
Iklan

One thought on “Ketika Kebenaran itu (terlihat) Menyimpang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s