Belajar Terima Kenyataan yang Ada

Hari ini, penerimaan raport sisipan pertama-ku di SMA. Yaa ALLAH, ketika kuharapkan yang terbaik datang dari-Mu. Memang, mungkin ini semua adalah yang terbaik dari-Nya tapi jalannya sangat amat berliku-liku untukku..

Ku ingat bagaimana hasil-hasil ulangan harian ku juga setumpuk tugas. Hasilnya? Yach, alhamdulillah lolos standar minimal. Tapi juga ada yang kurang memuaskan. Aku juga merasa cukup mampu untuk mengikuti materi di kelas. Aku juga merasa enjoy dengan pelajarannya, dengan bekal belajar mandiri plus les privat.

Mungkin ALLAH berkehendak lain..

Siang tadi, kelasku yang sumpek bin kotor dipakai para ortu ambil raport anak-anaknya. Waktu bapak selesai ambil, di gerbang depan sekolah dicegat salah satu wali murid dengan todongan raport ku. Seumur-umur aku sekolah, yang namanya raport adalah suatu hal yang sifatnya pribadi. Hanya orang tua, murid, dan guru yang tahu. Bukan sesama teman atau bahkan sesama wali murid.

Awalnya aku sedikit bahagia dengan nilai sikap yang ku rasa ‘koq jauh banget ya!’. Malam ini, jadwal les privat ku. Aku tunjukkan raport biru muda itu. Lalu.. Sang guru langsung manyun dan diam seribu bahasa. Ya, ini memang pasti terjadi. Karena beliau mengerti bagaimana keseharianku di sekolah dan pastinya hasil-hasil penilaian bidang studi MIPA.

Nilai di raport yang aku terima memang jauh dari hasil keseharianku. Menyenangkan jika nilai yang semestinya 70 tertulis 90 (note:raport ditulis tangan yang jika terdapat kesalahan penulisan dilarang dihapus-dengan cara apapun). Tapi yang aku dapatkan.. 93 jadi 78. Menyedihkan, menyebalkan, mengecewakan >,<

Kalau aku harus ber-positive thinking ria. Mungkin aku bisa menyangka bahwa ini adalah nilai rata-rata. Atau ini semua terserah gurunya, misal, pakai nilai tertinggi dari penilaian yang didapat. Tapi aku juga masih bisa negatif thinking, apakah gurunya ‘ngaji’-ngarang biji?

Ahh, so what lah mau gimana. Tapi aku butuh kejelasan atas semua ini. Kejelasan atas cara penilaiannya. Kejelasan atas nilai-nilai yang dituliskandi raport. Raport memang tak kan dapat diubah. Tak akan dapat dihapus. Tapi paling tidak ada kepuasan tersendiri yang aku rasakan. Bukan hanya menyenangkan guru dan ortu saja..

Chayoo, Ty!! D show must go on..

Iklan

One thought on “Belajar Terima Kenyataan yang Ada

  1. Mb Tya, klarifikasi dong sama gurunya, meskipun itu tidak mengubah angka di raport, tapi paling tidak sang guru akan mendapatkan pelajaran dari kesalahannya (I hope), untuk tidak sembrono lagi and harus ada catatan yang diketahui kepsek ttg hal itu……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s