Beranda » Uncategorized » Sekolah, Sebuah Keharusan-kah?

Sekolah, Sebuah Keharusan-kah?

Baru dua bulan ini aku harus adaptasi dengan dunia sekolah yang baru. Serba baru, dengan perbedaan besar sekali dengan dunia ku sebelumnya. Segala ritme belajar harus ku telan mentah-mentah tanpa kompromi. Disuapi setumpuk tugas, PR, dan ulangan harian yang tiada habisnya. Sepertinya, kami – para siswa ini tidak dapat belajar dengan caranya masing-masing. Dibimbing dan terus dituntun. Kami bagai sekumpulan bebek yang terus digiring oleh para guru untuk mencapai satu target, KELULUSAN!

Lama susah untuk ku memendam semua rasa akan hal ini. Bosan, muak, frustasi. Akhir-akhir ini aku menjadi makin ‘gila’ akan segala tugas makin aneh yang diberikan. Sampai pada satu titik, aku pengen cuti sekolah! Terkesan berlebihan memang. Mungkin, aku hanya belum terbiasa dengan ritme belajar yang aneh bagi ku ini. Ahh, tapi itulah yang terjadi..

Kemarin, tepatnya hari Jum’at, 9 Oktober 2009. Sama seperti Jum’at sebelumnya. Kegiatan ekstrakulikuler tetap diadakan. Tapi, niat nakal (dikit) merasuki pikiran ku. ‘’Mbolos ah! Bosen ikut KIR! Mana gurunya gak enak pisan..” Dan dengan setulus hati bin tekad yang bulat aku bolos dari ekskul membosankan itu. Aku bergabung di BTAQ (baca tulis Al-Qur‘an – lebih tepatnya baca tulis sms). “Mumpung pembinanya ijin gak bisa hadir”, pikirku. Berlanjut dengan kegiatan keputrian, kajian rutin Kerohanian Islam. Dalam kajian ini, ada satu pertanyaan yang terpendam sampai sekarang, “Sekolah ku sekarang, sebuah keberuntungan atau cobaan??”

Entahlah apa yang aku pikirkan saat itu. Aku merasa belum mendapatkan realitas dari tujuan sekolah ku saat ini. Katanya, sekolah untuk menimba ilmu alias belajar. Bagiku, belajar tidak harus di sekolah formal. Bahkan ilmu yang kita dapatkan di sekolah seperti ini belum tentu terpakai dalam kehidupan yang akan dilalui. Hanyalah secuil saja yang kita pelajari di sana sebagai bekal kehidupan. Mungkin, pertanyaan “Sekolah, sebuah keharusankah???” patut dijawab dengan kata, YA!!! Karena sekolah bisa dimana saja, kepada siapapun, dan tidak terikat oleh waktu.

Mari sekolah dengan alam. Sekolah di Universitas Kehidupan dengan siapapun bisa menjadi dosennya. Banyak hal-hal tak terduga yang aku dapat dari para dosen itu. Mereka adalah para penjual batagor dan minuman dingin yang nongkrong di depan sekolah. Kadang, aku cukup tertegun dengan yang beliau-beliau katakan. Yach, paling tidak aku telah menambah daftar dosenku di sekolah yang indah ini.

Hopefully, I can do the best for my choice, studying at government school..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s