Akhirnya Aku Kembali

Lebih dari 10 hari sudah terbebas dari bacaan tebal penuh persamaan — padahal Allah menciptakan segalanya tak ada yang sama *apa hubungannya?*. Alhamdulillah.. Hasilnya tetap pasrah sama Allah lah yaa, semoga sesuai dengan yang diharapkan, selaras dengan yang telah diusahakan :)

Kembali berkutat dengan novel menyenangkan dan majalah penyemangat selalu memberiku sesuatu yang baru. And (finally) I did it! :D

Hari itu berlangsung seperti biasa. Hingga akhirnya, Bapak mengajak kami — aku, Azhra, Rizhqa berjumpa dengan hobi lama. Nyatanya tak perlu baju, sepatu, pun tiket kapal pesiar untuk menagih senyum terkembang. Bapak menghentikan mobil tepat di pelataran Togamas, toko buku favorit. Seperti yang disangka, dalam sekejap kami berempat terpisah. Untuk kemudian bersatu dengan bacaan masing-masing di tangan..

image

Aku kembali, bersama mereka :)

Memasang wajah penuh harap, keempat bacaan itu memenuhi tas ‘belanja’, siap menodong Bapak. Aku yang awalnya mengira Bapak meminta untuk menyortirnya hingga tersisa satu, atau dua, ternyata salah. Hehe :’) Bapak (hanya) bertanya ini tentang apa, itu bercerita bagaimana lalu mengiyakan semuanya. (Dan) senyum itu terkembang indah, merekah sempurna.

Dari kiri ke kanan,
1. Rindu-nya Tere Liye. Belum ada 30 menit yang lalu khatam terbaca. Tere Liye selalu sukses membuatku kalut sesuai isi novel.
2. Hidup Sederhana-nya Desi Anwar. Belum sedetik pun kubaca *tutup muka*. Sangat sadar aku meraih ini, teringat sosok Desi Anwar yang bersahaja.
3 & 4. Reader’s Digest Asia dan Indonesia. Semacam majalah wajib baca. Menjadi majalah wajib beli tiap ke toko buku. Sayangnya 2 edisi terakhir terlewat dengan indah *jangan salahkan semester lima, jangan!*

Ini bacaanku, mana bacaanmu?

tyaenha

Cerita

Tiap detik hidup selalu menciptakan setumpuk cerita baru. Senang. Sedih. Kesal. Bangga. Apapun lah itu.

Ada banyak cerita yang melegakan ketika dapat dibagi, namun lebih aman jika disimpan. Terpatri dalam hati, tersebut dalam doa.

Karena siapalah yang paling aman menyimpan rasa, segudang cerita? Jika bukan Pencipta dan yang merasa..

*rapi rapiin memory otak, demi cerita baru yang terus memburu*

Hidup itu..

Segalanya.
Ketika tau kemana harus kembali.

image

Utuh.
Ketika berbagi itu menjadi kebutuhan.
Ketika menertawakan problema menjadi biasa.

image

Indah.
Ketika kebebasan diagungkan berazaskan tanggung jawab.
Ketika yang biasa itu basi.
Ketika anti biasa selalu terpatri.

image

Selalu ada yang baru.
Ketika hobi berbanding lurus dengan isi dompet *eh
(ps : perhatikan quotes di foto)

image

Luar biasa.
Ketika bersyukur selalu lebih unggul dari segala keluhan :)

Katanya Cinta

Cinta
Katanya beda tipis sama benci
Setelah lama membenci
Kapan cintanya?

Cinta
Katanya indah pada waktunya
Setelah ditunggu
Kapan indahnya?

Cinta
Katanya datang karena terbiasa
Setelah terbiasa
Kapan cintanya?

Cinta
Katanya berakhir dengan pedih
Belum sampai akhir
Mengapa pedihnya sudah terasa?

Cinta
Katanya abstrak
Setelah sekian lama
Mengapa dapat diungkapkan?

Cinta
Katanya akan setia
Belum lama ditunggu
Mengapa sudah berpaling?

Cinta
Katanya pembawa harapan
Ketika menunggunya datang
Mengapa yang datang PHP?

Cinta
Katanya tidak dapat diungkapkan
Namun saat menyatakannya
Mengapa butuh banyak alasan?

Cinta
Katanya menyenangkan
Tapi setelah dirasa
Makan tuh cinta

Azhra – my lil sister, 15yo

Karena Takdir Selalu Sejajar dengan Keyakinan

Aku berteriak bagaimana pun,
rasanya tak mungkin lah harga bbm turun.

Tapi aku percaya,
dengan harga bbm menjulang,
Allah pasti memberi rizki yang cukup untuk itu.

Yuk berjanji pada diri untuk berusaha lebih semangat,
belajar lebih giat,
dan bekerja lebih keras.
Bukan kah kita selalu ingat,
bahwa takdir Allah selalu berbanding lurus dengan usaha hamba Nya?

dari tya untuk dunia ♥

Lho, Bu Guru, Gengsi nya Turunin dong..

Wah, baru update lagi nih. Ternyata untuk selalu update gak gampang yaa, harus ada niat!

Oke, check my teacher aja yaa..

Jadi gini.. Hari Jum’at yang lalu, tanggal 29April Raport sisipan di SMAN 1* dibagikan. Sudah jadi rahasia umum, bahwa, nilai nya tidak dapat dipahami oleh sistem komputer manapun. Contoh nya, jika SKM (Standar Ketuntasan Minimal) nya75,  nilai 15=75, 25=75, 60=75. Sedangkan nilai 100 (sempurna) yang didapat dilarang ditulis 100 di raport, jadi 9sekian.

Nah, ada seorang teman yang *sepertinya* baru pertama kali dapet nilai UTS math di atas SKM, 80 lah kira-kira. Tapi, nilai Ulangan Harian sebelum nya selalu di bawah 50. Si Teman protes keras ke Walas, karena nilai UTS math nya ditulis 75. Nah, nilai sebelum nya yang ‘diangkat’ jadi 75 tidak disampaikan. Tidak adil bukan?!

Guru math lalu kena protes dari Walas. Merasa harga diri nya jatuh, Beliau akhir nya membahas dengan bumbu marah di kelas saat jam math. Well, dibahas sih gak masalah. Tapi, kata-kata yang digunakan nya itu, wah koq gak kayk guru yang udah ngajar 32 tahun yaa..

Di kelas, beliau berkata, “Selama 32tahun saya ngajar di sini, ini pertama kali nya saya diprotes nilai sama murid. Ini akan sangat membekas di hati saya karena saya merasa dijatuhkan harga diri ini.” Lalu, secara pribadi, beliau sempat berkata,”Iya kalau bu —— (nama walas saya) manggil waktu kantor sepi. Lha itu Senin pagi, kantor ramai, Dia manggil teriak. Kan ya malu saya”

Dari komentar nya itu, koq saya merasa Guru satu ini gengsi nya tinggiii sekali yaa. Waduh, Bu Guru.. Sudahlah.. Ini memang akan menjadi pembelajaran kami, agar berpikir sebelum berkata. Tapi, bukakah ibu juga bisa mengambil hikmah dibalik kejadian ini (yang katanya pertama kali)..

Ibu, ati ati lhoo.. Jika suatu saat ada murid nya sukses, tapi tidak mengakui ibu sebagai guru nya, gimana? Menyakitkan. bukan? Kadang, meski kami sekolah di Sekolah Negeri (= Sekolah Gratis), kami juga mengharap ada sosok guru yang menjelma menjadi orang tua kami, kami nyaman bersama beliau. Itukah Ibu Math? Yaa, semoga sajaa..

Apa Kabar Pendidikan Indonesia??

Menikmati pendidikan yang baru sebentar di Indonesia terasa sangat miris. Penilaian berorientasi hasil, bukan proses. Pembinaan mengabaikan EQ dan SQ. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa — tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Trilogi dasar aspek pendidikan (sengaja?) diabaikan.

Di Indonesia, kualitas guru di Indonesia juga masih (maaf) memprihatinkan. Lulusan sekolah menengah yang jempolan biasanya lari ke tempat yang mentereng: Ilmu Kedokteran, Teknik, Informatika, dan sebagainya. Praktis, mereka yang masuk Ilmu Pendidikan adalah “sisa” yang gagal bersaing masuk ke jurusan elit.

Contoh lain adalah UAN yang baru saja lewat beberapa waktu lalu. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan — demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Batas terendah ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Begitu hasil jeblok, segala cara agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.

Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam empat hari. Banyak murid cerdas diterima SPMB, tapi gagal dalam UAN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang sudah pasti hengkang dari SMA Negeri. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.

Di sisi lain, kualitas pendidikan memang sedemikian rendahnya. Dengan batas “aman” yang cukup rendah dibanding negara tetangga, masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Apalagi permintaan masyarakat menghapus UAN. Hujan protes dari berbagai LBB langsung membanjiri pemerintah.

Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, semua harus konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UAN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya? Itu PR kita bersama.

Jadi,

Asumsikan 1 persen dari jumlah warga negara adalah jenius, maka “seharusnya” ada banyak sekali manusia berbakat di Indonesia. Masalahnya, bagaimana menemukan mereka, mengasah mereka, memberi mereka kesempatan, supaya mereka bisa mengembangkan potensinya. Indonesia bagus di fisika dan matematika. Indonesia juga jagoan badminton. Ada juga Crhisjon yang jago tinju. Ada juga anak pedagang rokok yang meraih juara dunia caturrepublika.co.id. Ada juga yang bisa menemukan ion motion control di elektrolitsciencedaily.com. Patut disayangkan mengapa pemerintah masih cuek dan belum piawai dalam mengasah intan ini.

Pendidikan informal (dalam hal ini keluarga) masih jadi unsur terpenting untuk membentuk pribadi yang unggulan selama pemerintah belum mampu membangun sistem pendidikan yang benar-benar mumpuni. Keluarga jugalah yang jadi benteng melawan budaya instan dan pengaruh negatif lingkungan. Dan sepertinya, murid-murid SMP-SMA tak seburuk yang ditulis di media. Pengaruh 18.00-21.00 yang jauh lebih kuat daripada masa studi 7.00-13.00 juga jadi salah satu faktor yang mendistorsi kualitas mereka sebenarnya. Wajar kalau di Finlandia, sewaktu istirahat para guru dan muridnya bermain LEGO robotic. Sementara di Indonesia, murid-murid lebih suka ngerokok, pacaran, atau tawuran sewaktu istirahat. Pada akhirnya, Finlandia yang merupakan negeri yang paling tidak korup bisa menyandang predikat “Pendidikan Terbaik di Dunia”. Bukan Amerika dengan adidaya dan adikuasanya, bukan pula Harvard, juga bukan Inggris. Bagaimana dengan Indonesia??