Karma (does exist)

One fine evening,
Eyangti (dan Ibu) baru pulang dari ugd rumah sakit mata. Iya bener ugd, tapi kabarnya habis 230ribu aja dong. Anak anak nya terheran-heran…ugd macam apa bisa segitu mahal? Ternyata rate ugd di rs mata emang segitu. Ya diimbangi dengan pelayanan dan dokter yang mumpuni tentunya..

Lalu mulailah percakapan :
Ibu (I) : Makanya, jadi orang yang pinter. Jadi kerja sebentar, duitnya banyak.
Tya (T) : Tapi sekolahnya mahal.
Azhra (A) : Lama lagi, ngga lulus lulus.
I : Ya kan biar pinter, kudu belajar.
T : Tapi lama sekolahnyaaaa, kerja ga kenal waktu juga. Semoga suami ku nanti bukan dokter yaa.
*semua ketawa, termasuk bapak yang kerja di ruang tamu*

Terdiam. Terus Ibu nyaut,”dulu ibu berdoa biar punya suami yang pinter bisa segalanya tapi asal jangan dosen bukan madura”
*mak ku rasis*
*semua makin ketawa, ngakak*

Untuk diketahui, Bapak itu dosen Teknik Sipil dan lahir di Madura. Lahir doang sih, sekalian numpang hidup sampe lulus TK. Jadi kalo ga tau, ya (semoga) ga akan nyadar Beliau lahir di Madura. Bahasa Maduranya juga sebatas nawar tukang sayur aja, diajak ngobrol beneran udah tinggal mesem mesem. Bapak memang bisa segalanya, dari mijetin seisi rumah, benerin pompa jebol sampai masak ikan tim.

Aku teriak balik,”Wah, Bu! Karma does exist yak! Hahaha”

Aku ketawa keras. Tapi sambil berdoa. Semogaaaa habis menghina dina dokter beneran ga bersuamikan dokter. *bisa bantu aamiin?*

ps :
1. Tanpa menurunkan harga diri (dan harga sekolah) kedokteran postingan ini dibuat untuk (pelajaran) lucu-lucuan. Aku sangat menghormati dokter kok. Toh kl sakit tetep ke dokter hehe.. Jangan dimasukin hati ceu!
2. Ibu sangat bersyukur bersuamikan Bapak. Aku yakin itu, meski Beliau tak pernah mengucapkannya gamblang. Bukankah Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan? Sekalipun tidak sesuai permintaan..

Singularity, Journey to be Distinctive

Siapa yang ngga tergiur lihat poster semacam ini?

image

Saya bukan TEDster (sebutan untuk penikmat TEDTalks) aktif, apalagi pengurusnya. Namun sudah beberapa kali hadir di kelas bulanan (gratisan) yang diselenggarakan TEDxTuguPahlawan, biasa disebut ‘salon’ ngga tau juga kenapa. Selalu puas dengan salonnya, jadi awal dari keinginan ‘Ah ntar kalo ada conference mesti dateng nih‘.

Poster itu bergerilya di berbagai media sosial. Di website-nya, facebook, juga twitter. Sempat ragu untuk datang sendirian, akhirnya lempar issue ke grup line angkatan kuliah. Janjian lah dengan Agmel, sang pemburu pelajaran luar kampus.

Sabtu, 9 Mei, hari yang ditunggu. Conference dari TEDxTuguPahlawan sejak awal selalu diselenggarakan di Auditorium Universitas Ciputra, yang fyi itu letaknya di ujung barat Surabaya sedangkan kampus (juga rumah) saya di ujung timurnya. Kebayang kan jauhnya? Biarin deh lebay. Tapi ya demiiiii conference yang diidamkan, apasih yang enggak? Haha :D

Auditorium Universitas Ciputra ini bentuknya seperti ruang theater,  bahkan lebih mirip bioskop ya? Dengan jajaran kursi merah meningkat berundak-undak serta sorot lcd ukuran besar, pantas rasanya jadi alasan penyelenggara memilih tempat ini. Oya, kalo di bioskop, di antara kursi ada tempat meletakkan minuman, di sini berganti menjadi stop kontak. Ini baru saya tahu kurang dari satu jam sebelum meninggalkan ruangan, sayang lupa mau fotoin detail.

image

Auditorium Universitas Ciputra, Surabaya


image

Sisi Depan Auditorium Universitas Ciputra

Untuk yang belum pernah tahu.. TED adalah organisasi non profit yang mempunyai visi menyebarluaskan ide ide gila dari khalayak dan untuk khalayak. Lebih lanjut mengenai TED dapat dikepoin di sini.

Conference kali ini mengangkat tema “Singularity, Journey to be Distinctive”. Dengan 8 speakers, 2 speakers TEDTalks video, dan 2 performers, conference ini mampu menyulap auditorium menjadi ruangan penuh ilmu baru nan segar. Saat registrasi awal, setiap dari pengunjung diberikan booklet, snack, dan sticker, seperti yang dijanjikan di posternya. Juga ada photo booth lengkap dengan photographer yang penuh kesabaran.

image

Booklet, Snack, dan Sticker. Anyway, baru kali ini dapet snack conference berupa coklat (dan enak)


image

Bersama Agmel, sang pemburu pelajaran luar kampus. Hayo yang mana Tya, mana Agmel? :D

First speaker..

image

Mr. Arlan Setiawan, founder Bizzcomm


Bagi Pak Arlan, usia bukanlah halangan untuk terus belajar. Melihat kondisi Indonesia yang terus menyita perhatiannya membuat Beliau ingin berbuat lebih. Entrepreneurship adalah jalan yang Beliau pilih. 2 tahun lalu, diusianya yang ke 63 tahun, Beliau memutuskan untuk melanjutkan studi S3 nya di University of Strahclyde Glasgow. Usia yang (kebanyakan sih dianggap) tua itu ternyata cukup mencuri perhatian. Mulai pertanyaan lebih panjang di imigrasi bandara karena student passport-nya hingga teman kuliah yang awalnya mengira Beliau Professor baru dari Tiongkok. Melalui ‘Toastmaster Club’ dan ‘Bizcomm’, Beliau menyebarkan semangat ke seluruh penjuru Indonesia, bahwa belajar adalah proses yang tak pernah berakhir.

Second speaker..

image

Ibu Ina Silas, General Manager House of Sampoerna


Sebagai orang Surabaya, siapa sih yang belum pernah dengar ‘House of Sampoerna’? Ibu Ina Silas adalah seorang pembelajar ulung. Melanjutkan studi di luar negeri tak membuatnya lupa dengan Indonesia, hingga akhirnya dipercaya menjadi General Manager House of Sampoerna. Bagi sebagian orang, museum adalah tempat yang sangat dihindari untuk tujuan wisata. Mayoritas pengunjung museum adalah siswa sekolah dengan beberapa lembar tugas di tangannya. Namun, Ibu Ina Silas menyulap ‘House of Sampoerna’ menjadi museum yang layak sebagai tujuan wisata edukatif. Belajar proses pembuatan rokok, sejarah berdirinya Sampoerna Group, hingga tempat-tempat bersejarah yang dikemas dalam Surabaya Heritage Track. Dalam genggaman Ibu Ina Silas, sejarah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Saat ini, House of Sampoerna menerima 4000 kunjungan per hari, di saat mayoritas museum kesulitan mencapai 1000 kunjungan per bulan.

Third speaker..

image

Carolina Escalera, US Diplomat


Terlahir di Missouri tak membuatnya enggan belajar lebih jauh. Carolina menghabiskan masa sekolahnya di Florida, masih negara bagian Amerika Serikat. Pernah mengenyam pendidikan Colombia University di bidang Hubungan Internasional dan Kebijakan Publik membuatnya dapat bekerja di berbagai bidang. Setelah sebelumnya pernah menjadi redaktur People Magazine dan bekerja di White House, saat ini Carolina Escalera menjadi Diplomat di Konsulat Jenderal Amerika Serikat untuk Surabaya. Dari Carolina, kita tahu bahwa usia bukanlah halangan untuk menjadi lebih maju.

Fourth speaker…the charming one *eh

image

dr. Gamal Albinsaid, CEO Indonesia Medika


Mayoritas anak Indonesia menjadikan dokter sebagai cita-citanya, di samping insinyur, pilot, astronot, dan lain sebagainya. Pun dengan dr. Gamal ini. 5 tahun yang lalu, dokter muda lulusan Universitas Brawijaya ini tergerak hatinya ketika melihat banyaknya masyarakat yang butuh pengobatan namun tak memiliki cukup dana. Di sisi lain, dr. Gamal menyadari bahwa setiap orang pasti menghasilkan sampah tiap harinya. Digagaslah sebuah ide cemerlang : ke dokter bayar pakai sampah. 5 tahun berjalan, ‘Garbage Insurance Clinic’ telah melebarkan sayap ke berbagai daerah di Indonesia dan mendapatkan penghargaan dari Pangeran Charles langsung di Buckingham Palace. Sebagai penutup, dr. Gamal menyampaikan,”Kesukaan ditambah kesungguhan, dibungkus ketulusan kita. Lihat saja bagaimana Allah akan membesarkan kita.” Oya, berdasar pengakuannya dr. Gamal ini baru berusia 25 tahun lho…..dan sudah punya istri (yes, ini penting!).

Fifth speaker..

image

Coro Semplice Orchestra Choir


Speaker selanjutnya membuka sesi dengan membawa grup paduan suara asuhannya. Membawakan lagu bernuansa klasik yang mampu membuat seantero auditorium merinding. Beliaulah Bagus Syaffrieza, penggagas Choir asli Sii0urabaya ini.
[captiion id=”” align=”alignnone” width=”600″ caption=”Bagus Syaffrieza, Coro Semplice Orchestra Choir”]image[/caption]
Tak banyak orang paham mengenai paduan suara. Nyatanya, paduan suara bukan hanya sekadar bernyanyi bersama. Namun ada banyak pelajaran di baliknya, seperti menemukan keluarga baru, bahkan politik. Coro Semplice merupakan paduan suara asli Surabaya yang sudah lebih dari 10 tahun ada. Telah banyak penghargaan didapatkan, baik dalam maupun luar negeri. Dari Bagus Syaffrieza, kita tahu bahwa dengan paduan suara dapat ditemukan banyak pelajaran, pun juga cinta sejati. Katanya sih, ada anggotanya yang sampai sukses membina rumah tangga..

Sixth speaker..

image

Joko Susanto, Economist


Bercerita tentang globalisasi dengan penuh semangat. Beliaulah Joko Susanto, inisiator Tjokroaminoto Class dan dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga. Menurutnya, globalisasi adalah sebuah perjalanan yang dapat mengklasifikasikan manusia menjadi 3 tipe. Bagaimana manusia menghadapi globalisasi dapat menentukan masa depan yang akan dihadapinya.

Seventh speaker..

image

Inban Caldwell, NGO Guy from Hand Project


Inban Caldwell bersedia hadir mengisi conference meski baru mendarat dari Nepal pagi harinya. Di usianya yang tidak lagi muda, Inban Caldwell melanglang buana ke penjuru dunia dalam misi kemanusiaan. Beliau bercerita bagaimana kondisi Nepal setelah gempa dahsyat menghantam. Baginya, membantu korban bencana bukan hanya tentang memberi semangat dan membuatnya tersenyum, tapi juga independen dan mandiri. Menurutnya,”Why we give them fish, if you can’t teach them to fish and justify the hook?

Eighth speaker..
Pulung Siswantara
*maaf ngga ada fotonya hiks, terlalu menikmati tawa*
Comic adalah pekerjaan utamanya, bahkan pernah menjadi salah satu finalis Stand Up Comedy Indonesia season 3 yang biasa tanyang di Kompas TV. Lalu, apa pekerjaan sampingannya? Pulung Siswantara adalah dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Ngga akan ada yang sadar juga kalo mas Pulung – sapaan akrabnya – adalah seorang dosen sebelum MC memperkenalkannya. Gaya comic dengan materi sehari-hari hasil analisa sekitar menjadi andalannya. Mas Pulung sukses membuat seluruh isi auditorium tertawa lepas.

2 speaker lain berasal dari video TEDTalks yang dapat ditonton gratis di youtube. Beliau adalah Marco Tempest, seorang magician yang mampu membuat hadirin terperangah. Juga Pranav Mistry, penggagas ‘Six Sense Device’.

Sungguh 6 jam yang sangat berharga untuk saya. Jarak yang jauh terbayarkan dengan segala hal baru yang didapatkan. ‘Wah Momen’ selalu sukses didapat dari tiap speaker. Keseluruhan yang saya dapatkan dalam conference itu hanya perlu merogoh 35ribu rupiah. Sehat untuk dompet, otak, dan hati.

Beberapa gambar saya ambil dari social media TEDxTuguPahlawan, di sini, di akun fanpage di facebook TEDxTuguPahlawan, juga di website resminya. Keterangan di tiap speaker sedikit banyak diambil dari booklet yang dibagikan. Bagi teman-teman yang ingin menonton conference ini, jangan berkecil hati karena bisa streaming di sana.

Selamat memperkaya otak!
Tanpa harus memiskinkan hati, juga dompet..

Tuhan pasti tahu

Kemarin, pagi sekali, aku berdoa sekelebat. Dalam batin setelah sholat, dan di setiap lamunan yang datang. Aku meminta kelancaran dalam menjalani hari. Kuis pagi, 2 kelas mata kuliah heboh, tes dosen untuk 2 judul praktikum, dan lagi kemungkinan maju presentasi yang tak pasti.

Aku hanya memohon kelancaran. Sebenar nya lebih ke kuis pagi dan tes dosen nya sih. Aku paham, kuis open book di pagi buta itu tak mungkin dapat diselesaikan semudah membaca buku nya. Aku pun meminta, agar tes dosen berlalu lancar, cepat, seperti beberapa kali tes sebelumnya. Tak seperti teman lain, yang sukses terunduk gagu 90 menit di hadapan Bapak.

Cukup. Setumpuk hand out siap di ransel. Kupeluk juga buku tebal yang sebelumnya selalu terbaris rapi di kamar, demi berhadapan dengan Bapak. 30 menit sebelum kelas di mulai, aku berjalan dengan mantap. Tak seperti rutinku, yang kadang, berangkat tepat saat kelas dijadwalkan mulai.

Kuis pagi berlalu dengan damai, sesuai prediksi. Menuju siang hari, jelas nervous. Baca ulang laporan, buka segala kitab. Kemudian pasrah. Sudahlah, semoga segera usai. Begitu pikirku.

Tes dosen berlalu hanya 30 menit untuk 2 judul praktikum. Cukup menakjubkan. Dibandingkan dengan teman lain, yang bisa 90 menit hanya untuk 1 judul. Mengesankan bukan? Semua teman bertanya,”Bagaimana bisa se-Dewa itu?”. “Dewa dari mana?”, pikirku. Orang lain hanya tak tahu apa yang terjadi di ruangan 3×2 meter itu. Aku, bersama kedua partner tertunduk gagu. Menerima kenyataan bahwa ternyata apa yang kami lakukan belum sesuai, jauh dari sempurna. Kami melenggang keluar, setelah Bapak berujar bahwa akan segera menghadiri rapat. Ya kami keluar bukan terusir karena ke-gagu-an dalam diam, namun semata Bapak harus rapat. Itu.

Melenggang keluar ruangan dengan wajah lesu. Tak tahu lagi harus bagaimana. Mengulang praktikum dengan judul yang sama juga tak mungkin lagi. Pasrah (lagi). Diiringi dengan segala harap semoga ada keajaiban di akhir semester.

========= ========== ==========

Aku sempat menceritakan ini pada seorang teman. Detail sekali kuceritakan. Perbincangan kami dengan Bapak. Pun doa apa yang kami panjatkan sebelumnya.

Dia mendengar dengan khidmat. Mengiyakan. Juga turut tertawa. Kadang ikut mengumpat. Sampai pada suatu titik, dia berujar,”Lah yaudah sih disyukuri aja, kan udah sesuai sama doa mu, Ty”

Aku terdiam. Ku pikir,”doa dari mana? Yang mana? Siapa juga yang minta 2 judul praktikum dinyatakan tidak sesuai?”

Dia menimpali,”Ya kamu berharap cepat selesai, semoga Bapak ada rapat. Terkabul semua kan. Cuman 30 menit dan Bapak memang ada rapat”

——– ——– ———

Aku tertunduk. Lesu. Iya, mungkin hari ini terlalu sombong di hadapan Tuhan. Tuhan memberi persis sesuai dengan apa yang kupinta. Lalu aku masih sempat mengumpat keadaan.

Hari ini cukup mengingatkanku. Betapa berdoa harus sespesifik mungkin. Meminta sedetail mungkin. Berusaha sekeras mungkin. Tak perlu lah sombong, doa hanya dalam angan. Tak terucap dalam tengadah tangan dan sembah sujud.

Karena kita semua pasti paham, bahwa
Tuhan tahu, tapi Beliau menunggu. Menunggu doa yang serius, usaha yang keras, dan dilakukan sepenuh hati.

Selamat berdoa! Karena tak akan pernah ada yang terlihat terlalu bodoh di hadapan Nya. Sedang manusia seringkali terlalu sombong untuk meminta..

ps : postingan kali ini didedikasikan untuk the one and only, Mbak Tunz. Siapa dia? Yuk, ketemuan apa? Biar bisa sekalian dikenalin.. psssst masih jomblo tuh *eh

Pelajaran berikutnya

Kemarin seperti nya hari berlalu sangat panjang. Jelang adzan maghrib baru masuk pagar rumah. Itu pun masih bawa setumpuk tugas, juga lab tools sisa praktikum siang nya.

Tertidur. Panjang. Bangun kelaparan. Masih lanjut tidur lagi sampai pagi, tanpa dosa. Bangun pagi juga karena kewajiban antar adik sekolah. Segitu capek nya? Ya ngga tau ya, yang jelas mimpi nya pantas diingat.

Tidur sepanjang itu nyata nya tidak sepenuh nya lelap. Terbukti masih ada mimpi yang teringat jelas. Berikut jalan cerita dan wajah para aktor.

Mimpi absurd. Banget.

Entah juga sih kok ya mimpi manjat manjat entah apa itu. Terakhir manjat genteng. Ada adegan loncat dari pohon ke genteng juga. Padahal seumur umur belum pernah tuh begitu..

Sampai di atas genteng, ternyata ngga sendirian. Ada beberapa orang lain, heterogen. Ada bapak juga, di ujung, mengamati. Semua yang di atas genteng diminta tidur dengan posisi kepala jatuh, tanpa alas, menghadap arah utara. Supaya seimbang, kaki nya jenjang ke atas, semacam mau yoga.

image

dapat dari facebook 'Kerja dari Rumah'

Kami di situ berjejer rapi dengan angin sepoi. Di ujung tepat lurus mata memandang, ada sekumpulan orang lain berbaris, sejajar dengan kami. Ada suara datang entah dari mana, mengumumkan. Jejeran manusia diseberang itu yang akan meminang kami, yang diminta tidur dengan pose aneh ini.

Aku terkesiap dalam mimpi. Terbangun. Menghambur ke bapak di ujung. Aku bertanya bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang harus ku lakukan? Bolehkah aku menolak? Jika iya, dengan cara apa? Tak disangka. Bapak hanya tersenyum simpul. Sambil berkata,”coba dipikirkan lagi” dengan sangat lirih.

Mimpi selesai, berganti dengan yang absurd lain nya.

========== ========= ==========

Mimpi ini begitu teringat. Bahkan 5 jam setelah terbangun. Bukan. Bukan hanya cerita tentang jodoh yang tetiba datang di ujung seberang..

Tak lagi pernah kuucapkan seorang nama dalam doa. Aku memang tak begitu sok tau nya, hingga seberani itu. Jika memang bukan Kahyangan yang terbaik untuk ku, lalu aku bisa apa?

Aku seakan diingatkan. Untuk memikirkan segala langkah yang akan ku ambil. Memikirkan segala pencapaian, berikut konsekuensi nya. Untuk tidak berlaku semau nya. Untuk tidak bertindak sesuka nya.

Dalam mimpi itu, bapak seakan memberi wejangan,”jadi orang jangan semau nya sendiri

Iya, Pak, terima kasih atas kehadiran mu dalam mimpi semalam, meski jarak lintas pulau sedang memisahkan kita. Mungkin aku rindu, atas bincang santai tiap pulang sekolah seperti dulu (?).

Weekend gateway : Birthday Surprise

3 orang temen deket ulang tahun bulan lalu. Ada yang awal, pertengahan, dan akhir Maret. Kami yang lain emang udah lama rencana kasih surprise. Tapi yaa baru terlaksana setelah April jalan 10 hari. Gapapa deh, target operasi tetep surprised kok…saking telat nya haha. Birthday surprise kali ini ditujukan untuk Dinny Dew (Mami, sosok keibuan nya dapet banget ngadepi anak anak macem kami), Fina (Bocah, anak kecil paling gampang cranky kl laper), dan Naufal (Opal, cowok ndut yang tetep makan full fatty dengan segudang teori diet nya).

Sedih nya, birthday surprise dilakukan saat mereka bertiga selesai praktikum – yang bertepatan dengan kelas yoga saya di hari Jumat. Mau nyusulin habis itu kok ya ngga banget ke kampus penuh keringet. Jadi ikhlasin aja yang lalu. Sabtu malem diundang birthday dinner baru deh gabung. Ya sekalipun anak rumahan, siapa sih yang nolak ditraktir makan? Haha *evil*

Kami total ber 16, itu pun ada beberapa yang berhalangan hadir karena terlanjur ada kegiatan lain. Di awali makan bareng di Waroeng Steak n Shake jalan Kayoon. Ini tempat makan kongkow murah, cukup buat banyak orang, dan ga bikin malu kl guyon atau ketawa kenceng – ya saking meja lain juga gitu.. Etapi mas mas waiter nya kl dipanggil suka agak lama dateng. Ngga tau deh kenapa. Harga nya standar lah, crispy steak (daging apapun goreng tepung siram steak sauce) dihargai kurleb 20ribu an. Jangan tanya soal rasa karena sesuai lidah masing masing dan bergantung harga. Hehe

Jarum jam belum menunjukkan pukul 9. Dinny, yang punya acara, kepengen ronde. Lanjut lah kita ke arah jalan Biliton. Iya, ke ronde Biliton yang terkenal itu. Udah bawa motor banyak macem mau konvoi eh ga dapet parkir saking penuh nya. Diputuskan lah kita tetap berburu ronde tapi di jalan Kertajaya. Di deretan restoran restoran kelas menengah ngehe, kami ngemper menikmati wedang ronde (ada angsle juga sih). Endeus banget, rasa jahe nya kuat, cocok nih buat yang lagi flu.

Karena jalan jalan kali ini bawa Anggi, satu satu nya yang pegangan Iphone, juga ada Nisa yang bawa tongsis, kurang lengkap kl belum cari spot foto. Hampir 3 tahun kami kuliah, belum ada satu pun yang foto di depan gapura bertuliskan nama institut. Jadilah dengan memutus urat malu, kami foto foto di sana. Bener bener ga punya malu, foto foto di pinggir jalan sambil diliatin kendaraan yang lewat. Udah macem anak SMA pengen kuliah di situ. Padahal kita udah hampir 3th aja hidup di sini.

Di hp Anggi udah ngga keitung berapa foto. Ini sedikit di antara nya :

image

image

image

image

image

Terima kasih, Dinny Fina Opal! Terima kasih telah membuat kami menikmati momen kali ini bahkan sampai berani memutus urat malu. Semoga usia kalian penuh berkah. Rezeki nya dilancarkan. Apa yang diharapkan terkabul seiring dengan usaha nya. Bahagia selalu kaliaaaan! We love you, and we always do ♥

ps : foto yang diunggah jelas harus ada Tya nya dan pose bagus *narsis deh ya maaf* Eh, ketauan deh ya anak kampus mana. Untung ngga lanjut ke gapura fakultas terus jurusan

Weekend project : Cheezy Cupcake

Setelah melalui pekan yang yaa cukup hectic di semester ini, boleh lah refresh otak sebentar. Khusus hari ini mau menghindari segala yang berbau belajar.

Beberapa hari yang lalu emang sudah merancang weekend project ini dengan master chef nya, Azhra. Pengen banget ngulang cupcake yang dulu pernah dibuat pakai mocaf (modified cassava flour) dan bantet.

Setelah dhuhur Ibu pulang kerja bawa tepung terigu. Di rumah kehabisan terigu saking lama nya ngga baking, dan biasa pakai tepung beras kl goreng goreng. Emang sebener nya lebih sehat mocaf sih, tapi rasanya ya terigu ga ada yang bisa nyaingi. Sukses menghalau mager, akhirnya 3 princess (Tya, Azhra, Rizhqa) heboh di dapur tepat saat bapak ibu istirahat.

Bikin nya cepet banget. Tinggal timbang tepung tepung an, parut keju, siap loyang, cup untuk cupcake dan aluminum foil. Alumunium foil ini dipakai untuk melapisi cup nya supaya ngga kerembesan air (entah bahasa apa itu kerembesan). Nah kan si aluminum foil ini kan dipotong menyesuaikan ukuran cup nya. Kebetulan saya kebagian tugas ini. Dasar otak anak teknik, kebiasaan nggambar bejana simetris, ini mau potong potong aluminum foil sempet nya kepikir pakai penggaris. Biar adil gitu maksud nya. Tapi untung nya sebatas angan aja.

Alhamdulillah cheezy cupcake mengembang sempurna. Boleh lah untuk baker amatiran macam kami bertiga. Setelah keluar dari oven dan dilepas alumunium foil nya, waktunya hias hias. Baru sadar deh kl di kulkas gaada stock berries. Selai pun gaada karena udah lama serumah bosen roti. Tapi banyak coklat. Mulai truffle, coklat bubuk untuk cake, sampai buat minuman. Akhirnya pilihan jatuh ke delfi hot cocoa yang disaring jadi deh topping nya.

image

Fresh from the oven

image

cheezy cupcake in frame

image

Cheezy cupcake with delfi cocoa topping

Bapak ibu terbangun dan surprised princess(es) nya sukses baking. Jadilah cheezy cupcake menu jajan sore kami. Jangan tanya soal rasa deh. Ini jauuh lebih enak daripada cheese cake bakery ternama. Ya simply karena lebih light aja sih.

Untuk resep nya pure dari sini, tanpa modifikasi apapun selain judul dan topping nya hehe *makin ketauan amatir nya*

So, what’s your weekend project?

Sepanjang Rambut Barbie

Jumat kemarin, 10 April, berlalu lumayan heboh. Minggu minggu sebelumnya, perkuliahan berikut tugas nya berakhir di Kamis atau untuk pekan berikut nya sekalian. Eh, kok ya kelas siang hari Kamis ada tugas rumah panjang banget untuk besoknya. Batal sudah angan angan Kamis sore mandi centil..

Kamis malam

Rencana dari awal minggu sih mau datang Sidang Pleno nya Mahasiswa Jurusan. Yaa seminggu sekali deh setor muka ke pak Ketua. Sidang pleno terjadwal mulai 20.30, yang biasanya baru mulai beneran jam 9 lebih. Akhirnya sebelum jam itu ngibrit lah saya ke kost Lala, anak teknik mantan calon dokter paling rajin sekelas, eh seangkatan bahkan. Lanjut ke Pleno demi janji. Akhir nya kembali ke rumah tepat jam 12, mirip Cinderella. Untung motor nya ngga mendadak berubah jadi labu.

Jumat, here we go

Bangun pagi pagi mandi centil, menebus janji ke badan dari seminggu sebelumnya.

Masih lanjut nugas desain alat penukar panas yang hvft banget. Akhirnya tepat saat Jumatan nangkring lah folio saya di loker Bu Dosen.

Seperti jadwal yang sudah disusun, tepat jam 1 siang ikut tes efl sebagai serpihan dari persyaratan masuk lab penelitian akhir insya Allah mid year nanti.  Tepat 15.15 selesai tes langsung lari ngejar jadwal berikutnya.

Tiap Jumat sore, 15.30, semester ini saya kembali ikut kelas yoga. Yaa paling enggak biar badan bugar dikit. Yoga kali ini exercise khusus perut. Berkeringat heboh, tapi menyenangkan setelah 3 minggu libur..

Malem nya, seperti biasa, dalam usaha supaya bisa raup berlian. Mulai semester ini juga saya nemenin belajar anak orang, usianya setahun di bawah adik paling bontot. Akan selalu adaaa aja cerita baru tiap saya main ke rumahnya. Untuk kali ini.. Saya datang sedikit sebelum 6.30 malam. Si adik les, sebutlah Putri sudah nongkrongin pager. Seumur saya ke sana, ini kali pertama. Berlalu seperti biasa, kami belajar di kamarnya. Eh kok ya disusul sang Mama, ternyata cerita sedikit banyak tentang gadis belianya ini. Dalam jarak kurang dari 5 meter dari Putri, Mama cerita kalau akhir akhir ini gadis nya kerap kali ‘menyembunyikan’ mukena. Padahal sudah punya banyak katanya. Terjadi lah adegan dramatis sang Mama teriak teriak heboh, Putri ngambek, dan saya yang gagu bingung memposisikan diri. Lumayan lama kejadian itu.. tak perlu lah saya cerita gimana teriakan nya, yang jelas berakhir nya sukses bikin saya sedikit lega. Setelah sang Mama pamit keluar kamar, Putri duduk di samping saya. Saya elus punggung nya. Saya cerita bahwa seorang anak pasti sayang dengan mama nya, pun sebalik nya. Juga, nggak ada anak yang seneng dinasehati orang tua di depan orang lain, apalagi diteriakin. Saya sampaikan itu hingga akhirnya Putri menetes kan air mata. Dia minum, cuci muka, lalu belajar lah kami seperti tak ada kejadian apa pun sebelum nya.
Pukul 8 lewat-nggak-tau-berapa, saya pamit pulang. Diantar pula oleh Mama sampai depan pagar. Beliau masih bercerita mengenai Putri. Saya sih dari kejadian sebelum nya sempat pengen bilang kalau nggak ada orang yang seneng digituin gitu kan. Tapi ya siapa lah saya, gadis baru 20+, mana tau urusan parenting. Sebelum hilang momen, saya sempat bilang,”iya, bu, mungkin dek Putri nggak mau kalau dibilangin nya sambil diteriakin di depan orang lain”. Tentu saya ungkap kan dengan penuh tawa.. Semoga Mama nya nggak tersinggung aja deh.

Alhamdulillah sebelum jam 9 sudah parkir motor di garasi rumah. 2 hari ini berlalu cukup panjang (dan cukup beralasan untuk leyeh leyeh weekend nya).

2 hari ini penuh pelajaran untuk saya. Ya terutama kejadian Putri dengan Mama nya. Saya bersyukur punya orang tua yang yaa rasanya bisa dihitung jari berapa kali kelepasan marah ke 3 putri nya. Saya bersyukur bisa belajar dari sang Mama, bahwa untuk menasehati orang lain (dan anak tentu nya kelak) bisa dengan baik baik – bertanya dengan pelukan lebih menyenangkan bukan daripada penuh teriakan?

2 hari yang panjang. Sepanjang rambut Barbie yang susyeh banget disisir (makanya saya prefer lego mainan daripada Barbie dulu, ya emang lebih mahal sih haha). Atau bahkan lebih panjang.. Semoga rasa syukur dan doa yang terpanjat bisa jauuuh lebih panjang dari rambut Barbie..

Note : Entah kenapa pengen kasih judul gitu di postingan kali ini. Nggak tau juga kenapa pilih Barbie daripada Cinderella atau Sailor Moon hahaha