0

Pertanda apa?

Sejak kembali ke pelukan rumah, ternyata belum juga jalan jalan ke mall sebelah. Sebut saja Galaxy Mall, atau bahkan East Coast Center. Bukan, bukan karena malas. Rindu itu datang menggebu, tapi ada aja alang rintang yang pantas (setidaknya) jadi alasan.

Kemarin, Sabtu malam, bahkan sudah lebih dari jam 7. Ibadah jalan di mall (harusnya) haram dilakukan, mengingat parkir mobil yang tidak berperi-kesopiran itu. Eh, kok ya diajakin Bapak justru ke mall, memang ada yang harus dibeli untuk dipakai esok paginya. Kapan lagi kan belinya? *iya ini bagian dari drama pembenaran*

Atas dasar mumpung jalan sama adek, sama Bapak juga, kenapa nggak muterin aja *ketawa setan*

Ada 1 brand tertentu. Harganya cenderung miring untuk brand sekelasnya. Aku mengincar clucth bag hitam gelap dengan zipper sederhana. Dulu, menemukannya tanpa sengaja, ketika window shopping tanpa niat membelanjakan isi dompet. Menginginkannya bahkan sukses membuatku mengunjungi gerainya setiap ke sana. Iya, seingin itu. Ah, entah itu ingin, atau perpaduan otak-hati lagi lebay.

Termasuk kemarin. Sudah malam. Tapi tetap ku langkahkan kaki mantap menuju gerainya. Seperti dugaan, untuk kesekian kalinya, aku tak menemukan clucth bag idaman di posisinya. Ada sih, tapi maroon. Ada sih, dengan model yang berbeda. Patah hati? YA! *lebay nomor 2*

Malamnya, aku tertidur larut. Seperti hari-hari sebelumnya : stalking account instagram milik Adoramora. Ya itu account instagram isinya barang-barang lucu tapi pricey-nya cukup bikin nyengir. Kadang sering disisipi doa, siapa tahu, ada saatnya belanja di Adoramora selayaknya beli jajan di Sakinah. Ini lebay nomer 3, ngebandinginnya ga sopan.

Pagi aku terbangun. Tidak seperti biasa. Ternyata urusan tas-tas lucu itu terbawa sampai mimpi. Entah mengapa, clutch bag lucu milik Adoramora merasuk di mimpi. Di sana, katanya dapet hadiah ulang tahun tas yang harganya 6 digit masih kurang.

Terbangun seakan ingin mengutuk diri. Yakali, Ya’, siapa kamu deh mau pakai tas 7 digit, yang 6 digit aja belum jadi kebeli.

——– ———- ———-

Hari berlalu normal. Tapi kejadian urusan tas itu menyita sisi otak meminta untuk diingat. Seperti diingatkan, bahkan dijaga.

Mungkin isi dompet itu akan lebih bermanfaat untuk lainnya. Mungkin Aku memang tak seperlu itu clucth bag lucu, meski belum memiliki barang satu pun. Mungkin akan ada pengganti yang jauuh lebih baik.

Mungkin itu semua pertanda,
Allah menjaga agar hambaNya tak menghamburkan uang :”)

ps : sejak beruntun tak menemukan clucth bag idaman, ditambah mimpi mendapat tas yang rasanya masih belum mungkin…sukses mengubur keinginan itu dalam-dalam. Ditanya masih pengen, iya, yakali kan hilang lenyap secepat itu. Tapi ya ngaa se-menggebu dulu. Kalau ada, ya mau. Ngga ada? Ya sudah :)

Love,
Delftya Enhaperdhani

0

Terima kasih banyak

1 bulan di PUSRI nyatanya memberi kesan mendalam tersendiri. Berat ditinggalkan, namun belum saatnya digenggam

Sebagai kloter pertama dari jurusan yang ke PUSRI, apalagi cuman 4 personil, membuat kami (terpaksa) berkenalan dengan lainnya. Ternyata, dengan begitu, jadi lebih dekat, bukan hanya dengan teman teman seperjuangan KP, pun juga pegawainya.

Berkenalan dengan pejuang tangguh dari ITB dan UNSRI, menunjukkan banyak pelajaran. Bahwa pekerjaan harus diselesaikan dengan tuntas. Bahwa bekerja dapat dilalui dengan santai. Bahwa drama korea bukan hanya milik para wanita. Juga, bahwa Bahasa Daerah banyak ragamnya.

Tugas (yang benar-benar) khusus sukses membuat kami mengenal banyak orang. Beruntung, tak sempat kami bertemu orang-orang kurang baik. *Aih, gimana nih bahasanya?* Di dalem PUSRI itu, mulai operator lapangan sampai manager, semuanyaaaa sangat welcome dengan kawan KP. Mengajari dengan sepenuh hati, membantu penuh keikhlasan. Kalaupun pabrik lagi caper (dan baper) sehingga beliau beliau ini harus fokus, justru beliau meminta maaf dengan sangat. Ya padahal kan anak KP yang gangguin ya.. Rasa kekeluargaan itu datang dari segala penjuru

Terima kasih banyak pak Agus, manager PUSRI-IB, yang sudah menerima dengan hangatnya. Terima kasih atas segala petuah, atas kepercayaan, juga supportnya meski Aku (awalnya) tak begitu ingin bekerja di pabrik selaras dengan ilmu.

Terima kasih banyak pak Zaky, Asisten Superintenden Utilitas, pembimbing tugas (sangat) khusus. Terima kasih ajarannya bahwa menyelesaikan sesuatu harus sesempurna mungkin. Ya meskipun kesempurnaan hanya milik Allah..

Terima kasih banyak pak Balia, Superintenden Amoniak. Terima kasih telah menunjukkan bahwa ilmu itu harus dibagi, tak menjadi milik sendiri.

Terima kasih pak Cik Hidayat, Assisten Superintenden Amoniak, yang siaga bantu pak Balia. Meski sebelumnya hanya bertegur sapa selewatan. Terakhir berjumpa memgingatkan, bahwa ilmu itu harus dicari, sejauh mungkin, maka nilai akan mengikuti.

Terima kasih banyak pak Yusman, Superintenden Urea. Terima kasih atas penjelasan singkat namun sangat membekas. Terima kasih telah memberi banyak pelajaran, termasuk “bekerja untuk orang tua itu berkahnya bisa double”

Terima kasih mas Rizky, mas Abe, ko Dedi, para PE muda badge 2014. Terima kasih telah menyadarkan bahwa belajar tak kenal lelah, menempa diri hingga lupa waktu. Anyway, makasih banyaaaak oleh-oleh yang tak ternilai, file deskripsi proses operasi hasil karya pribadi. Janjiku untuk menyebarkan pada yang membutuhkan. Semoga amal jariyahnya mengalir tak berujung

Terima kasih banyak mas Fadhly, mas Yudhi, mas Dwi, para inspektor yang bekerja tak kenal lelah. Terima kasih atas guyon guyon lucu tiap sore meski kami paham, pekerjaanmu menyita waktu. Terima kasih sarannya,”cewek kerja enak jadi PNS aja. Cari suami yang di pabrik atau MNC atau offshore. Biarlah kerja gampang cuti minim lembur, tapi juga menikmati hasil kerja suami”

Terima kasih pak Jay, pak Taufiq, mba Iin, mba Reny, ganteng cantik TU yang bekerja sangat tepat waktu. Terima kasih telah menyadarkan bahwa berbuat baik itu tak melihat subyeknya. Mba Reny, makasih banyak kartu ijo tiket motor masuk PUSRI nya. Kalau ngga ada, mungkin Viqhi Rio bakal kena denda 50ribu plus wejangan panjang security.

Bapak om mas operator panel dan lapangan, terima kasih banyak. Penjelasan yang detail tiap kami bertanya, juga rela diganggu saat enak baca koran atau main CoC.

Ah, masih banyak yang ga kesebut untuk sekadar terima kasih ke PUSRI-IB. Banyak, dan panjaaang nian..

Terima kasih pak Triko, temen Bapak, yang bersedia diporak-porandakan rumahnya. Terima kasih atas segala keramahan dan cerita penuh pelajaran. Pak, pempek yang dibuat Ibu waktu lebaran itu magis lho enaknya :D

Terima kasih sekali pak Djohan bu Wiwik, Direktur Produksi yang juga sesepuh ITS di Sumatera Selatan. Terima kasih telah menunjukkan bahwa sweet couple ala drama korea juga ada di kehidupan nyata. Terima kasih telah menunjukkan bahwa mimpi dan cita cita dapat dicapai dengan kerja keras dan doa. Terima kasih telah memberi pelajaran, termasuk segala yang terjadi dalam hidup selalu ada benang merahnya.

Terima kasih mas Giar mas Gede, senior yang masih jadi junior di PUSRI. Terima kasih telah mencontohkan bahwa membantu harus dilakukan semaksimal yang kita bisa. Juga menunjukkan bahwa menabung harus dilakukan sedini mungkin. Terima kasih bantuan cari datanya. Anyway, terima kasih juga traktiran Pempek Saga nya, mungkin tak pernah kami ke sana kalau bukan karena (ditraktir,) mas.

Terima kasih mas Ferlyn, selangkah lebih dulu di PUSRI daripada mas Giar mas Gede. Terima kasih telah mencontohkan bahwa menjawab pertanyaan harus dengan sepenuh hati. Terima kasih kesediaannya direpoti, bertanya tentang tugas khusus bahkan meminta data. Terima kasih juga pinjaman printer dan hibah kertasnya, sukses menghemat memindahkan pos duit dari anggaran bikin laporan.

Terima kasih banyak pak Devie. Terima kasih telah menunjukkan bahwa bantuan dapat diberikan dalam keadaan apapun. Terima kasih telah menunjukkan kami ke ruang penyimpanan file, hingga berkenalan dengan pak Ruslan.

Terima kasih banyak pak Ruslan. Terima kasih telah menunjukkan bahwa usia bukan hambatan untuk bekerja. Tanpa beliau, mungkin tugas khusus tak berujung. Terima kasih ijinnya untuk kami masuk dan bongkar tempat data alat bersembunyi.

Thank you is not enough.
Hari ini, 2 hari setelah kepulangan dari Palembang, 4 hari setelah keluar pabrik untuk terakhir kali. Masih tajam ingatan bagaimana rasanya pergi tanpa tahu kapan kembali. Ucapan terima kasih tak pernah cukup untuk meluapkan apa yang sebenarnya dirasa. Semoga kenangan manis ku ini, juga membekas pada diri bapak mas om mba di PUSRI sekalian. Janjiku untuk kembali, bertandang ke Palembang, menjadi penerus generasi PUSRI ataupun rekan kerja dan teman sejawat.

Terima kasih banyak, PUSRI,
Sebuah kehormatan untuk sedikit mengenal kulit luarmu,
See you when I see you, mwah!

image

image

image

image

0

Kembali (menata) hidup

Ah akhirnya, mendarat juga badan ini di kasur kamar sendiri. Setelah 12 jam di jalan, menyanggupi LCC sehingga Palembang-Surabaya (ga jadi) 2 jam saja

1 bulan di Palembang, sudah ngapain aja?

Ya kalau ditanya makanan khas atau tempat wisata, jelas kalah lah dibanding yang lebih lama atau datang berombongan. Tapi sudah pernah jalan sendirian :D bagiku, ini pencapaian, alhamdulillaah

Hari itu, Selasa, 21 Juli 2015
Akhirnya merasakan naik Trans Musi sendirian, pakai transit, juga kadang ga dapet tempat duduk. Jalan kaki jauh sambil lihat kanan kiri, hingga akhirnya tahu ada Lapas Wanita di jalan yang sebelumnya sering dilalui. Jembatan Ampera yang tersohor, Benteng Kuto Besak yang ternyata besak nian, alhamdulillaah sukses ditemui dengan damai. Tak lupa, Museum Sultan Muhammad Badaruddin II sukses dilihat-l ihat. Museum yang meninggalkan banyak cerita tentang perjuangan Sriwidjaja, tidak sengaja masuk pun berkat toleh kanan kiri. Makan Martabak HAR di dekat Simpang Sekip yang tersohor. Pun naik bis lokal yang harganya lebih murah 1500 dari Trans Musi. Aku (dan teman-teman) menyebutnya sebagai bis disko. Bagaimana tidak, body boleh soak, di jalan berjalan seenak sendiri tak masalah, asal sound system handal dan dapat menyetel lagu kencang nian. Jalan sendirian kala itu memang hanya 6 jam. Namun lebih dari cukup untuk membuat otak tetap waras (dan badan makin gempor)

Sudah beli post card yang ga sengaja ketemu di books & beyond Palembang Icon. Lucu nian tapi 7500. Sayang, post card unyu unyu justru ga ada di kantor pos. Kantor pos jual post card harga 200 perak per lembar, tapi gambarnya wisata di Jawa. Kan sedih :( sukses terkirim ke Surabaya dengan perangko 3ribuan setelah 2 minggu kirim. Saat ini, sedang dalam percobaan kirim ke Tiongkok, bermodal perangko 10ribu. Kira kira nyampe ga tuh? We will see~

Sudah ngapain lagi? Somehow jadi lebih menurunkan jiwa koleris. Jadi lebih mikir sebelum bertindak. Termasuk menyadari bahwa diri ini perfectionist tingkat akut

Setumpuk keluhan berbumbu kekesalan seakan lenyap, bersama jiwa koleris yang terpendam makin dalam. Menjalani dengan ikhlas nyatanya sukses membuat hari berlalu jauh lebih nyaman dan menenangkan. Hingga akhirnya, harus pulang tanpa tahu kapan kembali..

Palembang sukses memberi kesan tersendiri. Hingga rasanya, bertandang ke sana patut untuk diulangi

image

image

image

image

image

image

0

See you soon, PUSRI

tyaenha:

Cinta kadang datang tanpa permisi. Ketika di saat yang sama, harus meninggalkan dan entah kapan bisa kembali

Sedikit tulisan dari partner, Nova, perempuan kuat yang selalu membuatku berpikir ulang untuk menyerah

Originally posted on Novarian Budisetyowati:

image

Gue ngga pernah ngerasa terikat seterikat ini sama suatu tempat sampe gue beraaaattt banget buat ninggalinnya. Seumur umur gue perpisahan dari SD sampe SMA gue belum pernah nangis sejadi-jadinya. Tapi ngga demikian dengan PUSRI.
Buat gue PUSRI ngga sekedar tempat kerja praktik buat ambil data dan tugas khusus. Buat gue PUSRI adalah tempat belajar kehidupan.

Lihat yang asli 746 kata lagi

0

Palembang Day 26 : dari Penyihir

Jadi ada partner yang jadi korban ‘cie’
Ada yang kecantol gara gara ‘cie’

Lupa juga kenapa dulu ng ‘cie’ in partner
Lupa juga kenapa harus di ‘cie’ in sama si mas Engineer ini (sebut saja Cemara, seperti partner menyebut dalam tulisannya)
Padahal, ada banyak (banget) lelaki di pabrik~

Akhirnya, tadi sore, niat nya tulus sih, progress tugas khusus
Tapi kan ujung nya flirting lucu guyon jayus

image

Selamat ya, mas Cemara, sukses bikin partner kegirangan sejak pulang tadi
Selamat ya, partner, akhir nya bisa duduk dampingan ngobrol serius sampai guyon jayus
Tinggal seminggu nih, mangats yak (!) hahaha

Semoga segala yang kita lakukan penuh berkah
Semoga doa yang baik diijabah
Semoga mas Cemara dan ikan nya ga kegigit tiap malem

Terakhir, selamat mengukir kenangan lucu di rantau kali ini

Salam sayang,
Partner mu – sang Penyihir

0

Palembang Day 22 : Jalan Jalan

*postingan kemarin sih harusnyaaaa*

Akhirnya rombongan kloter kedua KP PUSRI ITS Tekkim dateng juga. Baru hari kedua buat mereka, dan harus jalan jalan

Jam 9 di atm center, janjiannya. Kejadiannya jam 9 lebih dan baru 10.30 di halte trans musi karena pada sarapan dulu. Kita ber 15, janjian jalan jalan yang sampai masuk trans musi ngga ngerti juga mau ke mana. Haha

Untung nya ada Wira, panda angkatan yang lahir dan 20 tahun hidup di Palembang. At least dia tau jalan dan paham omongan orang lah yaa

Tujuan ditetapkan : Stadion Jakabaring.
Stadion yang dibuat dalam rangka Sea Games dulu itu rupa nya sangat terkenal. Bukan hanya karena stadion bersejarah, tapi juga ada taman taman unyu juga danau cantik.

Naik trans musi, duduk cantik, transit, nunggu agak lama, foto-foto, naik trans musi lagi, berdiri, eh kelewatan hahaha ternyata halte untuk ke Jakabaring itu ada di sebelum Lippo Plaza, which is belum nyampe gerbang stadion. Jadilah tujuannya berubah ke destinasi akhir trans musi yang dinaikin, OPI Mall. Ng mall lagi yuk mariii

Ber 15 masuk mall, ada yang dandan, banyak juga nggembel. Dari sekian banyak, alhamdulillaah ada Ica mendaulat diri tetiba jadi semacam EO gadungan. Atas rekomendasi Google, Ica mengajak kami kulineran, mie celor atau pempek dan saudaranya.

Nunggu lagi deh di halte. Lama…. dapet bus, gabisa langsung ke jalan Merdeka. Yaudeh transit lagi. Lama lagi. Dapet trans musi yang menuju Monpera. Dari Monpera? Jalan dooong~

image

Ketika tongsis jadi kebutuhan primer | images by Dimas

Sampailah di depan Pempek Saga yang termahal tersohor itu, tutup. Aku sih antara kesel udah jalan jauh dan lebih banyak bersyukurnya. Udah tau deeeh itu yang paling mihils. Udah kapok makan di situ, untung dulu awal dateng ditraktir senior HAHAHA

Jalan lagi makin jauh dari Monpera. Ketemulah jalan 26 Ilir. Satu gang itu jualannya pempeeeeek semua. Berbagai jenis. Tapi khusus untuk dibawa pulang, jadi gaada tuh tempat duduk buat makan. Di jalan ini juga ada depot mie celor. Kayaknya sih terkenal yaa, sampe rame banget dan kita kehabisan.

Makin laper, makin heboh. Ada 2 orang yang ikhlas menghilang, Dimas dan Wira cariin tempat makan. Akhirnyaaaa mie celor! *lupa namanya*

image

Mi Celor yang tersohor | image by Nova

Mie celor ini ya. Mie yang tebel tebel, ada taoge yang akarnya ga dibuang, telur, kuah kentel kayak bumbu gado-gado kebanyakan santan dan pakai kaldu udang. Rasanya? Sorry to say, lidah ku ga mau ngulang makan itu lagi sih. Hanya sekadar cukup tau. Mengingat rate makan yang rada kapitalis di Palembang, Aku Nova udah ngira ini makan habis 25k nih belum minum. Eh taunyaaaaa, mie celor 15k, minum 5k. Masya Allah, Tya Nova langsung tepuk tangan *lebay yes*

Pulang nya? Udah males nungguin trans musi, akhir nya sewa angkot. Berjubel lah orang 15 duduk nggak aturan. 100k dibagi 15, mayan lah 7k. Beda dikit sama trans musi haha

++++++++ +++++++++ ++++++++++ +++++++++ ++++++++++

Hari berakhir. Capek pasti. Seneng juga akhirnya bisa jalan-jalan ke area baru. Apalagi sama temen-temen banyak.

Awalnya agak gemes kecapekan. Jalannya lumayan lho. Mana panas pula kan. Lalu para ciwi ciwi yang rada bawel gampang tersulut juga kan.

Tapi sampai rumah lagi kok ada hikmah nya juga ternyata. Hari sebelum nya kepikiran pengen banget jalan-jalan. Pagi nya pun excited pengen jalan-jalan. Ngga berdoa sungguhan sih minta jalan-jalan. Tapi rupa nya Allah mengabulkan. Pengen nya jalan-jalan, ya dikasih jalan beneran, dalam arti sebenar nya :)

Masya Allah! Bahkan suatu hal sederhana yang ga terucap dalam doa, hanya di angan aja dikabulkan dengan sangat sempurna. Apalagi kalau berdoa sungguh-sungguh ya? :)

0

Hormat saya,

Sesungguhnya Aku sangat paham bagaimana seorang dokter yang bekerja tak dapat diprediksi. Harus jaga, tetiba operasi, dan segala tugasnya. Ini juga yang sukses membuat Aku ngga mau sama sekali jadi dokter

Sebenarnya semua pekerjaan jasa akan mengalami hal yang sama ya. Petugas kesehatan, penjaga pom bensin, pramuniaga toko/restoran yang kejar setoran

Di sini, Aku menyadari ada lagi pekerjaan yang ‘tak kenal waktu’. Process engineer. Mereka yang harus bekerja shift di pabrik, juga operator baik di lapangan maupun control room. Bahkan cuti pun bisa dicabut karena suatu hal di pabrik

Sholat Idul Fitri di masjid PUSRI, ternyata cukup rame. Kalau dibandingkan Manarul ‘Ilmi, masih menang sini lah. Di antara yang berbaju lebaran ; kaftan cantik, baju koko wangi, atau seragam sekeluarga, ternyata ada pasukan lain. Mereka para pekerja shift, lengkap dengan safety shoes dan seragam kebanggaan nya. Masyaa Allah

Duh rasanya……mind blown kalau kata Nova. Terenyuh. Ngga ada apa apa nya lah daripada Aku, dan 2 teman. Kami masih pakai baju lebaran, wewangian, jalan dengan begitu gembira. Mereka yang rela mengikhlaskan waktunya untuk tetap bekerja. Kemudian berangkat sholat Id masih berseragam, bahkan lengkap dengan safety shoes nya. Namun tetap dengan tersenyum penuh kemenangan!

Kepada Beliau semua yang harus tetap bekerja di saat yang lain berbahagia bersama keluarga, hormat saya, semoga pekerjaan nya penuh berkah, dibalas Allah dengan ganjaran yang setimpal. Aamiin :3