1

Cerita Ibu

Malam ini, seperti biasa, meja makan selalu menjadi arena favorit berbagi cerita. Sebenernya cerita juga ga jauh jauh beda ya tiap harinya, toh yang dikerjakan juga itu lagi itu lagi. Tapi malam ini spesial..

Ibu, ibu rumah tangga yang sehari hari nya banyak di luar rumah. Ya gimana, ada aja tuh yang dikerjakan *biar bisa beli(in anaknya) lipstick, kan, Mi, ya?* Hari ini Ibu ada kumpul kumpul cantik dengan beberapa teman.

Beliau cerita tentang usaha persewaan kelompok temannya. Singkat cerita, entah bagaimana, persewaan ini sudah bukan lagi tujuan utama masyarakat. Ya gimana dong, ada kelompok lain yang sanggup jual (barang yang identik) dengan harga 50.000 lebih murah daripada sewa. Prinsip ekonomi, kalau beli aja dapet lebih murah, ngapain sewa? Ye, kan? Mau nanti hanya sekali pakai, lalu entah buat apa lagi juga dipikir belakangan bisa. Ya, tho?
Kalau di kelompok teman ibu ini, keuntungan persewaannya jadi modal untuk aksi sosial. Baik itu jualan nasi bungkus setengah harga, menyewakan gedung serbaguna harga miring, dan segala kemudah-murahan lain. Seperti pada umumnya, kalau sudah terlihat biaya sewa mahal, ya segala hal baik dari persewaan ini kan langsung tertutupi. Termasuk aksi sosial.

Terpukullah kelompok persewaan. Kelimpungan kan cari sumber dana lain yang masuk akal (dan bisa lulus audit BPK dengan predikat wajar tanpa pengecualian *eh). Eh kok ya Kehebatan Gusti Allah, sang pesaing itu mulai ketahuan siapa dalangnya. Makin sedih lagi, dalang ini ya teman sendiri, memang pernah menjadi bagian dari keluarga besar persewaan.

Aku yang tabiatnya super kepo dan bawel bertanya,”Gitu itu bisa disalahkan gak sih? I mean, kan ya seperti persewaan sound system, toh juga ada toko yang jual. Kan ya seperti tambah pesaing aja. Sebenarnya gak salah kan yang jual itu?”

Bapak menjelaskan,”Ya memang tidak salah, asal labelnya tidak menggunakan (sebut merk) persewaan. Kalau dia menyebutkan baru bisa diajak ribut dianggap plagiat”

Lalu ditambahi dengan kata Ibu,”ya pada akhirnya, apapun tujuan yang ingin dicapai, rejeki tiap orang berbeda beda. Kan sudah digariskan Gusti Allah. Lahir, mati, rejeki, jodoh kan sudah digariskan. Mau tujuannya seindah (atau seburuk) apapun, pasti akan dikembalikan sesuai garis. Sudah gak perlulah iri dengan rejeki tetangga”

Aku tersenyum. Malam ini aku belajar lagi, melalui cerita Ibu. Bahwa rejeki itu sudah ada Yang Mengatur..

.

.

.

.

.

Eh tapi kalau berjodoh dan menua bersamamu, sudah menjadi bagian dari garis itu, kan, Gusti Allah?

0

Langit yang sama?

In the middle of the night, on my way to parkiran yang gelap itu…

T : lihat langit deh
M : kenapa?
T : coba itung bintangnya berapa
M : yaaah kalo di sini dikit ya bintangnya
T : emang Mas kalo di rumah bintangnya keliatan banyak?
M : iyalah, kan beda sama di sini
T : ooh gitu, kok bisa? Kan langitnya sama?
M : kan polusinya beda, Yak. Awannya juga kadang nutupin. Yaelah, orang yang ngitung beda aja, jumlah bintangnya belum tentu sama
T : ya kan tapi langitnya satu.. masa langitnya satu, buminya satu, jumlah bintang nya beda?

(dan) Percakapan bodoh tetap berlangsung sampai motor sukses jalan..

Jadi, langit yang kita pandang sama ngga ya?
Jadi, kenapa jumlah bintangnya beda?
Jadi, RAN bener ga tuh liriknya?

Love,
Delftya Enhaperdhani

0

Tentang Piala Bergilir

Berulang kali datang ke pernikahan circle terdekat, entah saudara atau kawan. Ternyata piala bergilir itu memang lagi tren ya. Entah deh siapa, dimana, kapan mulai.

Jadi, dalam satu circle itu, dibuat piala. Entah wujudnya gimana, tulisannya apa. Piala itu nanti diberikan ke yang menikah pertama. Kemudian digilir ke anggota yang menikah berikutnya. That’s why, judulnya Piala Bergilir.

Sounds cool kan ya? Asik banget ga sih?

Semenyenangkan itu memang – untuk kita kita, yang usia nya masih early 20 an, dan belum seterpikir itu untuk melakukan janji suci.
Seseru itu memang – untuk kita kita, yang sudah punya bayangan bakal nikah sama siapa atau kira kira kapan.

But wait,

Ini menikah. Ibadah.

Bukan perhelatan F1 atau motoGP. Atau simply, cerdas cermat kecamatan.

Bukan perlombaan.

Ibu pernah sekali waktu mengingatkanku mengenai hal ini. Bahwa menikah itu pilihan. Bahwa menikah itu bersatunya 2 insan yang sama sekali berbeda untuk memutuskan hidup bersama. Bukan perlombaan. Bukan tentang dulu duluan. Bukan lelucon, sehingga tak pantas ditertawakan.

Mungkin, sampai usia yaaa early 30 lah ya. Piala bergilir ini akan terlihat semenyenangkan itu, seseru itu. Tapi lewat dari usia 30, sejatinya tiap anggota dalam circle tersebut telah memilih jalannya masing-masing. Entahlah berkeluarga, mengejar karir, atau menjalani hobi juga passionnya. Lalu pialanya gimana dong?

Well. Lingkunganku mengajarkan bahwa menikah itu pilihan. Pun untuk menjadi unmarried, juga pilihan. (yang) Sejatinya, semua pilihan itu harus dihormati.

Tak elok sepertinya, piala yang si A dapatkan sudah tak semoncer ketika B menikah. Hanya karena A menikah jauuuh setelah piala itu dibuat.
Tak elok sepertinya, si C tak mendapat piala itu karena dia memutuskan untuk menjalani unmarried life.

A, B, C, juga entah siapa sampai Z.
Tak mungkin lah di antara mereka semua, hatinya sama sama keras. Alias ngga gampang baper, atau cuek bebek, ga paham kode. Kalau baper gimana? Atau wajah cuek, hati rapuh? Sedih dong ga sempet pegang Piala Bergilir sewaktu masih mentereng :”

Oh, mungkin inilah saatnya. Untuk kita, generasi early 20an. Menimbang kembali keputusan membuat piala bergilir itu. Demi menjaga hati kawan seperjuangan. Juga menjaga dompet dari hal yang rasanya kurang bermanfaat.

Karena menikah itu pilihan ibadah,
bukan perlombaan yang ada pemenangnya mendapat piala🙂

*piala ini bisa menjelma dalam wujud lain, dengan niat dan tujuan yang sama*

Love,
Delftya Enhaperdhani

0

Radar Bapak

Beberapa hari terakhir, rasanya rindu juga semobil berdua Bapak. Cerita panjang tentang “how was your day?”. Atau sekadar semangkuk soto ayam dan segelas es teh jumbo manis sekali, untuk berdua.

Aku bahkan lupa kapan tepatnya terakhir kali. 3 tahun yang lalu, mungkin?

Semesta mungkin mendengar, lalu berkompromi. Akhirnya hari ini. Terwujud lagi. Meski tak sepanjang dulu waktunya.

Sore tadi. Dekat sekali dengan rumah. Bapak melihat pasangan muda bertengkar, berteriak saling sahut di pinggir jalan perumahan. Di lain tempat, bapak kembali melihat lelaki yang membentak perempuan (yang sepertinya diklaim miliknya).

Seketika Bapak memegang tanganku. Menatap mataku. Aku yakin akan ada kata-kata serius mengalir dari bibir tuanya.

“Ndhuk, Bapak sangat nggak ikhlas kamu di-bully. Dalam hal apapun. Termasuk diteriaki, bahkan dibentak. Apalagi dengan orang yang mengaku dekat denganmu. Pacar sekalipun. Apapun masalahnya, nggak ada alasan yang bisa dibenarkan seorang lelaki berteriak, bahkan membentak ke perempuan”

Tanganku dilepas. Senyum manis mengembang. Aku melangkah masuk rumah. Dengan membatin,”Bapak, terima kasih diingatkan. Semoga siapapun pria yang dekat denganku, akan mengindahkan perkataanmu. Bahkan lebih mengingatnya, dibanding aku, yang lebih dulu engkau wejangi”.

image

Bersama Bapak, lelaki yang cahaya cintanya tak pernah padam

Love,
Delftya Enhaperdhani

8

Randomly night

Bukan pertama kali baca ungkapan :

“My attitude is based on how you treat me”

(Tengah) malam ini, baca lagi di attachment foto status line seorang teman.

Sedih bacanya. Kalau attitude aja bergantung sama orang lain, gimana hidup lainnya?

Kebahagiaannya?

Padahal aku selalu mengingat pesan Sang Ratu :

“Sederhanakanlah syarat bahagiamu”

Ya, meski menyederhanakannya tidak semudah mengingatkan.
Meski merutinkannya tidak sesederhana ungkapannya.

Love,
Delftya Enhaperdhani

2

My Diet Journey

Judulnya minta digampar banget ngga sih? HAHAHAHA😀 Tenaang. Bukan kok, bukan. Bukan tentang badan. Bukan demi timbangan geser kiri.

Karena diet berarti membatasi. Untuk kali ini, membatasi penggunaan gadget🙂

Akhir bulan Oktober lalu, ceritanya paket data internet masuk masa tenggat. Sedangkan dompet dalam kondisi ngga ikhlas mau keluarin selembar dua lembar untuk itu. Ya gimana, smartphone dual sim card (yang ga smart amat) ini pulsanya per bulan lumayan merogoh kocek. Kan lebih baik buat jalan jalan jajan (?).

Di rumah, terbiasa pakai wifi, meski kadang beberapa kali error. Tapi performanya cukup memuaskan di antara penyedia jasa internet nirkabel lain. Di kampus, ada fasilitas wifi juga. Sekalipun kecepatannya baru masuk batas wajar selepas maghrib. Belakangan juga lebih sering errornya daripada connect. Tapi ya sudahlah, kenapa nggak dicoba mengalah pada wifi saja?

Sudah terbayang sedihnya tanpa paket data? Duh ya jalan-jalan lucu ngga bisa cek social media, chatting lucu entah sama siapa, atau bahkan sekadar scroll up scroll down timeline WordPress. Sebagai generasi digital native, pastinya dari bangun tidur sampai kembali terpejam ngga bisa dong jauh-jauh dari gadget (asal ada koneksi internetnya). Nah, yang di dalam kurung ini nih kerap tak terbaca kan hehe

Yang kubilang diet ini terhitung sudah hampir 2 minggu berjalan. …and everything running well *senyum lebar*

Setelah dijalani, nyatanya ngga sesulit yang terbayang lho. Justru jadi lebih ‘hidup’. Makan bareng ya diselingi ngobrol, bukan cek smartphone. Pun main bareng. Juga ketika kuliah di ruang-ruang kelas, dulu kalau bosen kan otomatis iseng main smartphone, sekarang sudah ngga lagii tapi ketiduran. Di lab, di taman, di perpustakaan, di plasa, ya melakukan sesuatu sesuai tujuan awal, haha hihi ketawa ketiwi ataupun ngerjain tugas. Bagiku, ini cukup menjadi pencapaian baru, setelah sebelumnya jarak sama gadget ngga bisa lewat dari semeter dua meter.

Apa ya jadi kudet (kurang update)? Honestly, yes, sometimes. Ya ketika ngga terhubung wifi otomatis dong kudet. Tapi alhamdulillaah aku punya lingkungan yang dengan mudahnya (dan semoga ikhlas) berbagi informasi. Informasi yang bersifat announcement, biasa diobrolkan bareng temen. Setiap hari pun pasti pulang ke rumah, meski larut. Puas deh update apapun di hari itu tiap malam mau tidur. Lagian, belum jadi orang super penting yang harus terhubung internet 24/7.

Kalau ada yang cari gimana? Nomor handphone-ku alhamdulillaah masih tetap lebih dari 5 tahun. Telepon dong🙂 sekalipun sudah menjelma layaknya handphone jadul, tetep nyala kok 24/7. Sms yang ngga sampe 1000 rupiah itu juga bisa kan. Mayoritas temen yang udah tau sih bakal otomatis telepon kalau kirim message via LINE WhatsApp ngga segera terbalas.

Jadi, kapok nggak mengandalkan wifi? Aku sih, big no!

Mau lanjut sampai kapan? Nah pertanyaan ini beberapa kali ditanyakan teman juga orang tua, mungkin mereka yang jadi bingung yaa heheh. Sampai ada juga yang komentar,”Kok betah sih kamu, ngandelin wifi php gini?” Hihiw😀 Untuk sementara belum bisa jawab sih. Masih pengen menikmati indahnya ‘hidup’ *halah.

Jadi, ini dietku yang masih on progress. Kalau kamu? Pernah diet selain urusan badan nggak?

Love,
Delftya Enhaperdhani

0

For the sake of manner

Cerita 1 :
Tya, gadis setengah matang yang belum pernah tergabung di organisasi resmi. Tiba-tiba dipinang untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemahasiswaan jurusan. Setelah akhirnya, setahun berlalu dan tugas selesai. Tugas memang resminya selesai, tapi ada hutang yang belum terbayar. Menyampaikan segalanya pada pengurus baru. Mulai cerita panjang, diskusi, hingga setumpuk file berkas setahun. Yang terakhir itu, tertunda lumayan lama. Antara kelupaan atau melupakan, untuk kemudian mengingat lagi. Map itu tebal, ya maklum, berkas setahun. Pindah juga dari rak buku kamar ke loker jatah di lab. Si Eneng penerus sudah dikabari untuk janjian ambil. Eh, sedihnya, sampai hari itu Tya harus pergi sebentar, Eneng belum juga muncul. Tya harus pergi. Kembalinya, map itu sudah lenyap. Usut punya usut, kata crew lab lain, sudah diambil si Eneng. Sudah, perbincangan Tya dan Eneng berhenti di janjian sebelumnya. No more nyuwun tulung dan matur nuwun.

Cerita 2 :
Ibu menjual berbagai macam wadah plastik tempat makan food grade. Mahalnya kadang agak ga masuk akal. Meski tetep aja ada yang beli dari berbagai kalangan. Satu sore, datang Nona, mbak yang kutaksir umurnya baru awal 30an. Meninggalkan suaminya di mobil untuk ambil barang pesanan. Transaksi berlangsung cepat, ya seperti normalnya. Barang sekardus hampir ukuran setengah mesin cuci berpindah pemilik. Si Nona keluar, berteriak memanggil suaminya untuk mendekatkan mobil. Ibu (mungkin) gemas, beliau membantu mengangkatkan kardus itu hingga ke pagar. Si suami terduduk di bangku sopir, mengerem depan pagar. Nona melangkah gontai membuka bagasi. Sedangkan ibu, tergopoh mengangkat barang yang tak lagi miliknya ke dalam bagasi.

========= ========== ==========

Cerita 1, kualami belum lama. Sepertinya masih dalam 2 minggu terakhir. Entah, rasanya aneh. Ada yang janjian ambil barang, eh nggak ketemu tetep aja disikat. Ya meskipun sudah dititipkan ke crew lab lainnya. Bahkan terima kasih di pesan ponsel ataupun saat bersitatap tak ada.

Cerita 2 dialami Ibu. Sudah lama, tapi masih hangat diperbincangkan. Ibu agak geram ketika mengetahui suami si Nona tidak turun untuk membantu angkat kardus. Yah, sekadar buka bagasi pun tak dia lakukan. Geram juga dengan Nona, yang tak membantu mengangkat, hanya melangkah gontai membuka bagasi.

Aku dibesarkan di keluarga (yang ternyata) adat ketimurannya kental sekali. Tolong, maaf, terima kasih seakan menjadi kata-kata keramat yang harus diucapkan. Awalnya dulu, mungkin terpaksa. Tapi makin lama, jadi terbiasa. Hingga kadang aneh ketika melihat orang lain tidak melakukannya.

Bukan hanya tentang 3 kata keramat, tapi juga memperlakukan wanita. Dalam pengamatanku, almarhum Eyang Kakung, Bapak, Pakde, Oom akan selalu membukakan pintu mobil untuk pasangan atau perempuan di sekitarnya. Bahkan pintu mall, atau toko. Beliau juga mengangkatkan barang jika terlihat berlebihan dibawa wanita. Suatu kali, Bapak pernah berpesan dengan tegas,”Nduk, kalau kamu sama temen cewek, siapapun itu, jemput dan antar kembali ke depan rumahnya. Pastikan dia pergi diketahui orang rumahnya dan nantinya kembali lagi selamat. Kamu pun kalau nebeng juga gitu. Jangan pernah mau diturunkan di depan rumah tetangga, apalagi di ujung gang.”

For the sake of manner…
Mungkin ada yang menganggap aku dibesarkan di keluarga berlebihan. Jadinya yaa aku seperti ini. Untukku, itu bagian dari attitude, serpihan manner, yang harusnya menempel pada diri.

Tapi apa ya mau diambil hati? Aduh repot amat, kak. Mungkin simply karena Eneng dan Nona terbiasa dengan yang demikian. Jadi ya tidak ada yang salah menurut mereka…

Cukup menjadi another lesson to learn, another story to tell aja sih. Juga pengingat, semoga menjadi sosok yang bisa jaga diri🙂

Love,
Delftya Enhaperdhani