Learning by Doing

Kata siapa learning by doing hanya dilakukan seumur anak SD? Selama masih ada hasrat kepo berlebih, learning by doing pantas dilakukan. Terutama kalau kepo terhadap hal yang dirasa memalukan ditanyakan. Mending buktikan sendiri sekonyol apapun itu.

Seperti kelakuan Tya di masa lalu ini:

Apakah pisau cukur beneran tajam?

Lupa tepatnya umur berapa, saya sungguh segitu keponya dengan pisau cukur. Seperti biasa, selalu ada pisau cukur di tempat toiletries di kamar mandi. Masih inget, saat itu kepikir,”emang ini beneran tajem ya?”. Lalu, gimana membuktikannya? Ya dipake dong. Pisau cukur itu diarahkan ke kepala dekat dahi, lalu ya digoreskan. I’ve shocked. Rambut segenggam bisa lepas dengan mudah dan sukses pitak. Tapi dasar Tya, meski shock, tapi tetap sok cool keluar kamar mandi. Untungnya bagian kosong itu bisa tertutupi bagian rambut lainnya. Sehari-hari berjilbab pula, jadi aman. Sekarang juga tak berbekas.

Apakah listrik beneran nyetrum?

Pagi itu, hari Rabu siap berangkat sekolah. Inget banget itu jaman SMP. Seragam SMP dulu pakai kerudung kain yang butuh peniti, bukan lagi jilbab langsung ala murid SD. Jelaslah di nakas tercecer peniti dan jarum pentul. Ingat kan, katanya peniti dan sejenisnya itu menghantarkan listrik? Nah, karena belum pernah lihat langsung, kepo dong ya pengen buktiin. Jarum pentul 2 masuklah ke lubang kabel sambungan di kamar. Lalu? Ya dipegang biar tahu. Tanpa pakai alas kaki sebagai penghantar listriknya, kedua jari langsung megang jarum pentul gitu aja. Efek? Jelas loncat dong. Kaget juga excited menyadari bahwa listrik beneran nyetrum. Jelasnya sambil bersyukur, untung ‘kesetrum aja’ nggak sampe lewat.

Alteco beneran lengket banget ya?

Iya, dulu bapak selalu wanti-wanti kalau pakai lem alteco. Katanya sih, sangat lengket sampai nggak bisa dilepas lagi. Beberapa kali, seragam SD dulu itu, badge nya ditempel pakai alteco sama bapak. Saking gemesnya kok harus pagi-pagi mendadak jahit badge seragam. Nah, ada satu hari Tya kecil lihat ada alteco di samping TV. Mendadak muncul keinginan membuktikan seberapa kuat sih lem ini? Caranya? Oleskan di ujung jari tengah, lalu satukan dengan ibu jari. Hasilnya jelas sangat erat. Awalnya excited dengan eratnya lem itu. Tiba saat ingin melepas jari, langsung panik, sulit banget lepasnya. Mau minta tolong juga gengsi dong, pasti dibegoin lah secara semua juga tahu kalau alteco emang lem yang lengket banget. Untungnya bisa lepas sih. Meski hasil lepasannya bikin terpana sesaat. Bekas lengketnya itu udah kayak ngelupasin kulit jadi yang kelihatan tinggal dagingnya aja.

Kalau diinget lagi kebodohan atas nama Learning by Doing itu, teringat omongan Izza, yang kurang lebih bunyinya,”Manusia itu kerap kali sudah tahu mana salah mana benar. Hanya butuh momen untuk memastikan sendiri bahwa hal itu memang salah.”

Untuk aku, masa ini belum selesai. Masih banyak kebodohan lain yang kerap kali dilakukan. Hanya untuk membuktikan bahwa hal itu emang beneran salah. Itu kenapa, kita disebut manusia, kan?

Iklan

Menjaga Kehormatan

Hari ini, hari ke-13 meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu yang melambaikan tangannya tanpa berani sepenuhnya menatapku, menahan air mata. Meninggalkan rumah yang lebih dari sekadar nyaman, enggan ditinggalkan.

Aku pergi bukan untuk bermain. Meski banyak orang menyadarinya, tempatku kali ini dekat dengan indahnya pantai, seafood nikmat, atau pesona bawah laut yang begitu menenangkan. Aku kemari, demi sebongkah berlian dalam otak, juga di dompet, agar kembali pulang kelak dapat sedikit dibanggakan.

Seperti besi, aku ditempa. Tidak mudah, meski pantang menyerah. Sebutlah segala aktivitas fisik, sedikit banyak sudah kucoba. Menguras batin, ah jelas. Bukan tentang rindu rumah. Melainkan menata hati agar dapat ikhlas menerima, juga mengingat tujuan awalku.

Sebagai idola macan (dalam berbagai kuis psikologi), ternyata aku termasuk yang sangat menjaga kehormatan. Kesedihan memang harus ditumpahkan. Tapi pada tempat dan porsi yang tepat.

Pantang bagiku berkeluh kesah kepada mereka yang menerimaku di sini. Pantang bagiku menunjukkan kelemahan. Seperti kata Pak George Tahija, kita tidak boleh menghindar-mengelak-menolak segala tantangan yang diberikan.

Merapal doa, mendengar suara ibu bapak, saling menguatkan sesama teman. Nyatanya, itu obat mujarab, paling tidak sejauh ini. Kami tidak pernah tahu, apa yang terjadi di depan kan? Jadi, mari bersiap. Jaga kehormatan, tanpa keluh kesah bahkan air mata.

— ditulis segera dalam antrian kamar mandi ALC, Belitung Timur —

Menjadi Perempuan Berdaya

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia,

perempuan/pe·rem·pu·an/n1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil;3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali)

daya1/da·ya/n1 kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak: bangsa yang tidak bersatu tidak akan mempunyai — untuk menghadapi agresi dari luar; 2 kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak dan sebagainya); 3 muslihat: ia melakukan segala tipu — untuk mencapai maksudnya; 4 akal; ikhtiar; upaya: ia berusaha dengan segala — yang ada padanya;

Kamu perempuan? Atau punya saudara perempuan?

Sudah berapa banyak tulisan tentang perempuan yang terbaca?

Belakangan, tulisan — baik itu artikel, ataupun ‘sekadar’ status di media sosial — mengenai perempuan banyak terbagi. Banyak banget, bukan banyak aja. Apalagi tentang kepeduliaan terhadap pelecehan perempuan.

Aku, termasuk yang membaca, jika memang terlintas di linimasa. Bukan yang tingkat isengnya level Googling artikel tentang ini. Lalu setelah baca? Ya jelas marah ya, apalagi yang pelecehan gitu. Meski mungkin ‘cat calling‘, yang dianggap sepele namun menyakitinya tidak kasat mata dan sering terjadi. Tapi ya sudah, marah aja. Nggak berbuat lebih juga, kan? Bahkan banyak cerita berakhir dengan pemikiran ‘cukup tau’ dan memasang pagar diri lebih tinggi.

Sampai akhirnya ada satu waktu….

Aku punya kerabat, panggil dia Bunga (bukan reportase investigasi!), sangat dekat yang yaaaa untuk ukuran perempuan seusianya memang ‘mengundang’: pipi gembil, mengerti berpakaian yang sesuai, paham mematut wajah tanpa terlihat seperti boneka. Goda-able, jika memang nilai wajah juteknya turun sedikit.

Kami, bersama beberapa lainnya diundang menghadiri pesta resepsi dengan konsep pesta kebun. Menyenangkan sekali. Makan terus, joget-joget, capek juga tinggal duduk. Bunga saat itu menegak es campur sambil duduk. Kami tertawa bersama menikmati acara. Lalu saat aku duduk di sampingnya, mendadak diajaknya keluar arena. Memilih untuk tidak duduk sekitar tempat tadi. “Kenapa?”, tanyaku.

Bunga bertutur, ada bapak-bapak yang baru saja mencolek pipinya, lalu mengusap kepalanya. Bapak yang ditunjuk Bunga adalah pria paruh baya berseragam — yang mana pasti keluarga dekat pengantin. Bunga bingung harus bersikap bagaimana, akhirnya mengalah dan pindah tempat duduk.

Di sini, aku baru menyadari kemarahan perempuan yang dilecehkan. Cat calling, biasa dilakukan pekerja yang istirahat itu termasuk pelecehan lho. Apalagi sampai berani menyentuh tubuh, meski (hanya) area wajah.

Aku marah. Marah banget. Aku peluk Bunga. Tapi ya sudah, ternyata akupun doing nothing. Bingung lho. Bapak ini pasti punya hubungan dekat dengan pengantin. Aku, Bunga, juga kerabat pengantin, dekat juga.

Banyak pikiran berkecamuk. Ditegur? Kalau bikin gempar pesta orang gimana? Kalau diinget terus, diungkit tiap ketemu gimana? Kalau dianggap berlebihan gimana?

……. dan kami berdua membiarkan ini berlalu hingga acara usai. Pulang. Tanpa ada orang lain yang dengar. Mungkin juga hanya Bunga dan Si Bapak itu yang melihat.

Mudah sekali sebenarnya untuk menegur,”Pak, tidak begitu caranya memerlakukan perempuan. Lain kali jangan diulangi menyentuh tanpa permisi” — jika Bapak itu totally stranger, kan?

Pulangnya, ada penyesalan mendalam dalam diri. Menyadari bahwa untuk mengucapkan dua kalimat itu saja kok ya lidah kelu. Demi kebaikan, kenapa harus banyak “Kalau nanti…”.

Hari itu, aku belajar untuk berani bertindak. Bukan hanya memasang pagar tinggi dalam diri, yang dibutuhkan. Tapi juga kemampuan melawan, ketika ada yang berusaha masuk pagar tersebut tanpa ijin.

Menjadi perempuan berdaya, bukan hanya tentang kemampuan berdiri sendiri. Bukan hanya tentang kebisaan memenuhi keinginan hidup dari dompetnya sendiri. Menjadi perempuan berdaya, juga harus mampu membela sesama perempuannya sebagai bentuk penghormatan atas diri sendiri.Yuk, kita berdaya bersama!

Generasi Kuantitatif

Pelajaran matematika di rumah bukan hanya sekadar hitung di kertas. Atau rumus sin cos tan yang selalu dibawa-bawa (kalau mau ujian). Atau contoh soal limit yang ditempel di tembok, nggak dilepas sampai sekarang.

Tapi juga masuk dapur. (yang) Ternyata agak genggeus untuk beberapa orang.

1. Berapa gelas beras vs air?

Masak nasi pasti jadi hal wajib ya di rumah. Ye kali beli, kan. Serumah ada 6 orang, makan 2-3 kali sehari, nasi beli habis berapa, bu? Nah, ketika yang lain kalau masak nasi pasrah ke magic com / magic jar / segala magic lainnya, di rumah justru masih pakai panci dan dandang. Jadi nasi dimasak dengan air di panci, lalu dikukus di dandang. Konversi beras vs air : 2 gelas beras vs 3 gelas air. Iya konversinya matematis gini. Ada gelas khusus bahkan untuk ukuran beras-air gini. Aku baru sadar ini rada gengges ketika kerja praktik di Palembang hampir 2 tahun lalu. Kedapatan tugas masak nasi ketika berasnya sudah ditakar. Ya tanya dong aku,”ini berasnya berapa cangkir?” —– yang justru dijawab dengan tatapan nista ‘ngapain lo ngitung berasnya berapa banyak, Yak’. Kutanya lagi, sambil sedikit menjelaskan bahwa aku perlu ngerti berapa banyak beras untuk tahu airnya. Eh yang ada malah diketawain dong. Kata temen-temen waktu itu,”Ya elah, ratain berasnya. Taruh aja telunjukmu di atas berasnya. Airnya seruas jari” *ganti aku menatap nanar saking simpelnya*

2. Sayur ini matang berapa lama?

Ibu punya anak gadis tiga, pastilah semuanya harus ikut uprek di dapur. Biasanya ibu sudah masak, tinggal kami nungguin matang. Kalau daging olahan, sekali lihat gampil kan tahu sudah matang atau belum. Gimana kalau sayur? Wortel? Kacang panjang? Kembang turi? Beberapa kali adik nyeletuk,”kurang berapa menit, bu?” kalau dititipin sayur supaya nggak over cooked. Yang dijawab ibu dengan,”ya dilihat lah, nggak bisa dimenitin” *mendengus kesal* *padahal tinggal tes tusuk*

3. Pakai merica berapa butir?

Hari gini siapa sih yang masih pakai merica butiran? Siapa yang suka takut kalau belinya merica bubuk dicampuri lainnya? *ngacung* Di sisi lain, nggak mungkin juga membebaskan dapur dari merica. Ya kurang endeus lah yaaa. Masa udah berusaha ngurangin garam masih kudu menolak merica, kan? Alhasil, belinya ya merica butiran. Tiap mau masak, ngulek merica dulu sampai halus. Jelasnya, untuk tiap masakan pasti beda dong kebutuhan mericanya. Siapapun yang bertugas ngulek merica selalu tanya,”merica berapa?”. Dijawab dengan menyebutkan jumlah butiran merica yang dimau. Nanti kalau kurang, tinggal tambah aja, 5 butir misalnya. Iya, kita ngitungin butiran merica satu-satu instead of ngulek segenggam lalu ambil secukupnya untuk masak.

3 ini deh kayaknya sejauh ingatan. Ntar deh inget lagi, ya ditulis :3

Kalau di rumahmu, ajaran apa sih yang beda dari umumnya? Cerita sini sama akoh

‘Oh’

“Mbak, 4 bulan lalu dateng ke Malam Puisi juga yah?”

“Eh, iya. Mbaknya yang duduk di pojokan situ kan? Waktu itu kita sebelahan”

“Iya iya bener”

“Temennya yang kemarin mana, mbak?”

“Aku udah nggak sama itu, mbak. Ini sekarang bawa pacar sama temen-temen”

“Oh.”

—– —– —– —– —–

Nggak ngerti lagi mau respon apa hehe. Mau bilang,”sorry to hear that“, sepertinya dia juga tidak menyesal. Paling tidak sepengamatanku.

Katanya. Perempuan itu sukar menunjukkan perasaan, kecuali cemburu. Sedang lelaki kesulitan menerjemahkan kode hingga kakak-adik tak berujung.

Ada lagi. Benarnya, Tuhan Maha Membolak-balik Hati. Jangankan tahun depan bagaimana. Lewat sedetik pun, mungkin berpindah hati.

Jaga hati baik-baik. Tuhan kasih hati hanya untuk manusia, kan? Berikut segala tugas yang diembannya.

Jaga hati baik-baik. Ganti hati itu mahal, Bung! Pengalaman pak Dahlan Iskan sih seharga mercy ya

Pesona Di Balik Bukit

Banyak orang antusias naik gunung hingga ke puncak, katanya sih, karena keindahannya tiada dua. Katanya lagi, tiap gunung punya keindahan masing-masing. Aku belum bisa meng-aamiin-i ya, puncak gunung yang pernah ya Gunung Kelud atau Gunung Bromo — itupun kalau masih sah disebut gunung 😀

Namun, keindahaan itu ternyata bukan hanya dimiliki puncaknya. Tapi kaki gunung pun bukit juga punya pesona tersendiri. Mau dibilang surga, takut diprotes karena belum pernah ke sana kok ya sok samain sama keindahan dunia *apasih ini*

Sebutlah kabupaten Pacitan. Kabupaten tempat Presiden Republik Indonesia 2 periode itu terlahir dan dibesarkan terletak di sisi barat-selatan Jawa Timur dikelilingi bukit. Baik dari sisi Ponorogo maupun Trenggalek, pasti harus mengitari bukit menuju Pacitan. Ini sih PR banget untuk pemerintahannya ya, tantangan tersendiri untuk memajukan.

Kalau dengar Pacitan, wisata apa sih yang langsung tersirat?

Pantai Klayar? Anak hits instagram mungkin pantai ini ya yang langsung tersebut. Bagaimana tidak, keindahan Pantai Klayar memang instagram-able banget!

Pantai Teleng Ria? Iya, untuk angkatan bapak ibuku, orang tua kita, bisa jadi ini yang tersirat. Ini obyek wisata pantai yang sudah terkenal dari sedia kala.

Goa Gong? Ini juga terkenal dari lama. Sekarang stalaktit dan stalagmitnya sudah dihiasi lampu dan ada jalur khusus.

Letak geografis Pacitan memang dikelilingi bukit. Namun, Allah Maha Baik, Diberikan banyak sekali pilihan wisata alam di sana. Jadi bisalah dibilang “berrakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian”. Memutar bukit dahulu, bahagia kemudian *maksa banget*

Libur Natal tahun lalu *tsah baru berapa hari juga* Alhamdulillah akhirnya bisa mengunjungi Pacitan. Memilih penginapan di Madiun, perjalanan kurang lebih 5 jam ditempuh menuju Pacitan. 5 jam dengan memutar bukit ya. Mungkin kalau jalannya bisa diluruskan, nembus bukit gitu ya bisa lebih cepat. Sampai di sana, masih clueless mau ke mana, saking banyak banget rekomendasi orang-orang. Kami memilih melipir ke polres setempat. Sekalian lah tanya traffic dari/ke tempat wisata, sekali menyelam minum air. Menurut Om Polisi, menuju Pantai Klayar macetnya luar binasa menjelang siang hari. Sudah ada kurang lebih 10 bis wisata menuju ke sana, tambahnya.

Mengikuti saran Om Polisi, kami memilih Pantai Serau sebagai destinasi pertama. Jalan yang dilalui menuju Pantai Serau cenderung menyempit jadi tidak mungkin dilalui bis wisata. Amanlah harusnya dari rombongan wisatawan. Eh bener aja dong, bukan hanya menyempit, tapi juga longsor di beberapa titik jadi satu lajur digunakan 2 arah. Ada juga proyek perbaikan jembatan, perkerasan dan perluasan jalan sehingga harus bergantian dengan jalur berlawanan. Ya bener aja ya bis ga mungkin masuk sini. Bisa misuh misuh sopirnya kalau penumpang maksain *dikata Surabaya, Yak*

Jpeg

Kiri jurang perkebunan/sawah penduduk, kanannya tebing rawan longsor. Ini di sepanjang jalan

Pantai Serau

Cukup panjang jalan yang kami lalui. Lagi-lagi karena harus memutar bukit heheh. Nggak bisa bayangin deh gimana kaki bapak nginjek pedal kopling, gas, rem. Berulang kali meyakinkan diri ‘bener kok ini jalannya’. Lupakan kecanggihan handphone, karena sinyal Edge pun jarang-jarang muncul sepanjang jalan. Setelah oase air laut akhirnya terlihat, semangat lagiii! Beruntung kami mengikuti saran Om Polisi. Pantainya masih perawan. Wisatawan yang datang banyaknya berkendaraan plat AE, bisalah dibilang masyarakat lokal atau warga sekitar.

Memasuki area Pantai Serau, di tempat harus bayar tiket, seperti masuk area pemukiman. Nah, dibalik rumah-rumah itulah pantai berada. Nggak mahal kok masuknya, 5000 tiap orang untuk mengunjungi ketiga spot pantai seharian.

Pantai ini berada di sisi selatan pulau Jawa, langsung menghadap Samudera Hindia. Ombaknya tinggi untuk ukuran obyek wisata. Jadi lupakan berenang lucu dengan bikini cantik. Cukup jalan menyusuri sambil sesekali menerima tamparan ombak sudah sangat menyenangkan. Beberapa pengunjung ada yang menggelar tikar. Ada pula yang duduk cantik di dahan pohon rendah. 2 anak muda terlihat nyaman sekali tertidur di hammock. Angin semilirnya memang membius! Tapi jangan lupa pakai sunblockmu, sinar mataharinya juga nggak kalah nusuk.

Mau lebih menantang? Sisi kiri kanan garis pantai ada karang besar membatasi. Bolehlah mendaki sedikit ke sana, demi foto kece mungkin? Masyarakat lokal mendaki karang-karang ini untuk memancing. Tapi sungguhlah ya harus beneran hati-hati. Salah langkah, keliru pegangan, lumanyun juga sakitnya.

Fasilitas pantai ini nggak kalah kok dengan yang sudah terkenal. Sebutlah kamar mandi, toilet, musholla. Tersedia semua, dengan air melimpah. Bahkan nggak perlu antri panjang. Tapi pilihan warung makannya minimal. Tenda sederhana, sepertinya nggak sampai 10 penjual juga. Jualannya nggak jauh dari nasi goreng, mie goreng, mie kuah gitulah. Kalau carinya ikan laut murah meriah, di sini nggak ada. Mau minum kelapa muda langsung dari buahnya? Bisa banget! Tapi entah ya, harganya kok sama aja kayak di Surabaya, 8000 per buah.

img_7814

Sisi kanan itu, ada beberapa penduduk nungguin pancingannya di atas karang

img_7850

Berdiri di balik karang kecil, hanya untuk membuktikan teori water-break *lalu basah semua kecipratan parah 😀

img_7891

Naik karang ini nggak tinggi, tapi ternyata butuh effort buat newbie gini

Jpeg

Pantai Soge

Ya masa udah 5 jam perjalanan ke Pacitan cuman ke satu pantai? Rugi dong ah. Mari lanjutkan tantangan menuju Pantai Serau. Ini semacam keluar mulut buaya, masuk kandang harimau. Posisinya Pantai Soge tidak berada sejalan kembali ke Madiun. Pantai ini juga terletak di balik bukit. Tapi nggak bisa nyusur pantai gitu aja dari Pantai Serau. Jadi muterin keluar area Pantai Serau, lalu cari jalan kelilingin bukit lainnya menuju Pantai Soge. Kurang kerjaan? Iya, makanya kita liburan 😀

Pantai Soge terletak di pinggir jalan lingkar selatan, penghubung Trenggalek – Pacitan. Bener-bener di sisi jalan lingkar gitu. Jadi untuk yang ingin menikmati matahari tenggelam tapi malas turun dari mobil, bisalah minggir aja terus parkir deh. Kalau mau main-main lucu, duduk manis di pasir, ya harus masuk dong. Biaya masuknya lebih murah. 2500 tiap orang untuk masuk sini. Memang area pantainya minimalis. Tidak terbagi menjadi 3 spot seperti di Pantai Serau.

Sama halnya Pantai Serau, di sini juga haram hukumnya berenang. Ombaknya aduhai, anginnya kenceng. Butuh waktu lah untuk memastikan kerudung tetap kece waktu di foto. Di sini banyak keluarga terlihat sengaja mampir menanti matahari tenggelam. Ada juga penjual layang-layang, memainkan dagangannya beradu mengikuti arah angin.

Sudah petang, menjelang terbenamnya matahari kami sampai sini. Jadi duduk manis di pasir seneng aja, mataharinya sudah mau sembunyi. Ada spot foto juga dengan latar belakang tulisan SOGE segede bagong, sukses bikin antri keluarga narsis macem kami.

Ngomongin fasilitas, ini sih lebih minimalis juga dari Pantai Serau. Mungkin juga karena sudah sore, warungnya banyak yang tutup. Jualannya samaan lah ya dengan Pantai Serau. Toilet, kamar mandi, musholla juga ada. Bersih dan tersedia air melimpah. Lagi-lagi antrian amanlah karena jarang juga yang mandi, nggak ada orang beres renang, kan. Bedanya dengan Pantai Serau, di sini ada persewaan ATV. Juga ada penjual kerajinan khas pantai, cangkang kerang yang dibentuk berbagai macam.

Jpeg

Di pinggir jalur lingkar selatan Trenggalek-Pacitan *abaikan accessories mobil*

img_7957

Menunggu basahan sisa ombak, basahnya bisa samalah dengan renang

img_7945

Duduk aja gitu di pasir, tinggal kibas cantik bebas kotoran

JpegJpeg

Cukup puas menikmati pantai ini tidak sampai matahari benar-benar kembali ke peraduannya. Mengingat menuju tengah kota butuh lewatin bukit, begitu pula kembali ke penginapan di Madiun. Kami senang dengan area wisata sepi lucu gini, terhindar dari hiruk pikuk dan jadi nggak banyak ngomongin orang lain *buka kartu* Tapi ya gitu deh, usahanya juga harus lebih menuju tempat begini.

Akhirnya Pacitan sudah sukses kami datangi, meski hanya 2 pantai — nggak gitu terkenal lagi. Muterin, keliling bukit, nggak bikin kami kapok ke Pacitan. Mau lagi bahkan! Masih banyak bangeet yang pengen didatengin tapi hari keburu gelap. Semoga moda transportasi umum ke Pacitan lebih kece lah, nggak cuman didominasi Bis Jaya yang langsung dari Surabaya. Kalau harus naik mobil lagi dari Surabaya, bayangin kaki bapak nyetir udah nyengir aja deh ya

Ada banyak keinginan yang disemogakan di awal tahun ini. Termasuk makin banyak tempat seru baru didatengin. Kabupaten Pacitan juga menjadi salah satu di antaranya. Yuk, mau ikut? Atau mau ajakin saya trip ke Pacitan?

—————————————————————————

Gambar diambil dengan kamera Canon SX500 IS dan handphone ASUS Zenfone 2 tanpa ubahan digital *mon maaf deh blurry, ada keterangan tanggal/jam pula*. Seluruh isi tulisan dan gambar merupakan penilaian pribadi, tanpa paksaan apalagi bayaran 🙂

potongan kenangan

2016 ini termasuk tahun yang fantastis untukku. Ada beberapa yang tak mungkin terulang kembali. Ini sepenggal 2016-ku dalam potongan — yang untuk kembali mengingatnya, buka lagi folder foto dan bikin mesem senyam senyum sendiri

Setahun bersama

1454494304681

7 dari 8 yang masuk-keluar barengan (September 2015 – September 2016)

1456158717713

temen jalan-jajan 6 bulan, demi tugas akhir yang setopik

IMG-20160519-WA0017.jpg

Mbak Rita, Mas Imam – ketemu mereka lebih sering daripada orang rumah. Jam kerja main di lab yang lebih larut dari pegawai lemburan sukses bikin kami lengket

1474599917822

4 tahun lah ya tahu mereka ini. Tapi akhirnya setahun terakhirnya baru mulai beneran kenal. Kenal kelakuannya, paham perilakunya, termasuk gimana ngambek, cara bikin seneng, bahkan siklus bulanannya! Tergabung di laboratorium satu ini untuk menuntaskan tugas akhir sebenernya bukan pilihan pertama. Malah sepertinya agak kurang bersyukur *ampun Tuhan* Setelah masuk beneran, mulai kenal, denger cerita lab lain, rasanya nggak ada lagi yang bisa lebih disyukuri selain masuk sini. Makasih banyak ya, Gengs! Sampai jumpa untuk alasan dan tujuan apapun yang lebih baik

Melewati rentetan ujian

Namapun anak kuliahan tahun keempat ya, apalagi mimpinya kalau bukan lulus tepat waktu. Menuju fitting kebaya, sewa toga, foto salaman dengan rektor, ternyata ujiannya cukup menguras air mata. Thank God, dijodohkan dengan Mbak Tun, partner yang sumbu sabarnya tak terukur, encer otaknya nggak perlu diragukan, simpanan drama korea kelewat cukup

1454066094152.jpg

Ujian Tugas Pra Desain Pabrik – akhirnya bisa ketawa, setelah dikerjakan 6 bulan, progress&revisi tiada ujung, pengumuman dosen penguji yang sukses bikin nangis bombay

img-20160629-wa0010

Sidang Hasil Skripsi, setelah sidang proposal dan progress – ya gimana nggak senyum deg-deg an, tengah presentasi kedatengan 2 bidadari yang bawain brownies (pas puasa)

Awas aja masih ada yang nanya,”Tya nggak sekolah lagi?” Yaampun, campur aduk rasanya masih mbekas, cyin. Ntar kali ya kalau terketuk pintu otak, siap diisi beginian lagi

 

Pakai toga! Untuk ketiga kalinya

Ini wisuda sarjana, bukan doktoral. Tapi pakai toga untuk yang ketiga kali. Pertama toga merah, lulus TK *gaya bener dah*. Kedua toga biru, lulus SD *mulai beken kala itu*. Ketiga toga hitam, lulus S1. Bener kata banyak orang, euforia bahagianya tuh sehari doang. Saking banyaknya yang bilang gitu, rasa bahagianya lebih ke “yeay akhirnya aku make up beneran, pake make up artist segala” *salah fokus* Kalau boleh jujur sih, buncah bahagianya lebih besar selesai sidang-sidang dramatis

IMG-20160924-WA0006.jpg

Foto wisuda paling proper di antara sekian banyak. Tak lain tak bukan karena difotoin wakil rektor yang duduk 2 bangku samping Pak Rektor

Malam Puisi Surabaya

Komunitas ini sudah cukup populer seantero negeri. Cobalah cari di twitter atau instagram. Banyak kota besar, bahkan kabupaten, rutin menyelenggarakan. Sebenarnya sudah lama tahu dari twitter, komunitas pecinta puisi di Surabaya yang melabeli dirinya (@)kotajancuk ini. Tapi kok ya, maju-mundur-cantik mau sekadar Datang, Dengar, dan Bacakan Puisi. Ajaklah mbak Rita, kakak nemu gede yang diajakin apapun ayo aja. Akhirnya mau datang, berani baca. Punya kenalan baru lagi. Ada acara yang terus dinanti tiap 2 bulan sekali. Januari besok, Malam Puisi Surabaya temanya Hujan Bulan Januari. Ada sumbangan puisi untuk dibacakan?

img_20160911_160824

Malam Puisi Surabaya, September 2016

IMG_20161106_083206.jpg

Malam Puisi Surabaya, November 2016

Jalan sendirian

Jogja. Meski lebih banyak sight-seeing-nya, tapi nagih untuk jalan-jajan sendirian lagi. Apalagi setelah banyak mengikuti traveler di instagram bahkan blognya. Jalan sendirian nggak ada fotonya. Serius nggak ada, bukan nggak mau pamer. Banci foto sih, tapi kurang lihai mengoperasikan kamera….dan nggak punya kamera pribadi. Pakai hp? Duh butut kakaaak, makin males lihat hasilnya. Semoga bisa makin sering jalan-jajan sendiri lagi, perjalanan mengenal diri dan Tuhan

Di akhiri dengan main air di Pacitan

Pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah kelahiran Presiden RI 2 periode itu. Baru ngeeh posisinya Pacitan terselip di antara perbukitan. Tapi untuk menuju pantai yang indah, mana ada jalan yang gampil, kan? Menuju kotanya muterin bukit, eh mau ke pantai juga kelilingin bukit lagi. Pantai Klayar yang tersohor sengaja nggak didatengin karena rame banget saking terkenalnya. Sebagai gantinya, kita ke Pantai Serau dan Pantai Soge. Bolehlah ya liburan lagi ke sana, absenin garis pantai selatan lainnya *lirikin bapak*

img_7824

Kata Azhra, ini sih Beverly Hills 😀

IMG_7833.JPG

Setiap jejak akan segera terhapus. Namun setiap kesalahan tak pernah terlupakan, meski termaafkan *tsaaah*

P_20161224_121038.jpg

 

Yash! Kayaknya 6 di atas highlights 2016 buatku. 6 hal yang beberapanya nggak mungkin terulang. Tapi langsung aja gitu muncul diingatan. Lainnya semoga bisa terulang untuk alasan dan tujuan yang jauh lebih baik.

Selamat Tahun Baru! Semoga mulai besok semua hal bisa menjadi alasan untuk lebih bersyukur dan bahagia selalu