Menjadi Perempuan Berdaya

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia,

perempuan/pe路rem路pu路an/n1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil;3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali)

daya1/da路ya/n1 kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak: bangsa yang tidak bersatu tidak akan mempunyai — untuk menghadapi agresi dari luar; 2 kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak dan sebagainya); 3 muslihat: ia melakukan segala tipu — untuk mencapai maksudnya; 4 akal; ikhtiar; upaya: ia berusaha dengan segala — yang ada padanya;

Kamu perempuan? Atau punya saudara perempuan?

Sudah berapa banyak tulisan tentang perempuan yang terbaca?

Belakangan, tulisan — baik itu artikel, ataupun ‘sekadar’ status di media sosial — mengenai perempuan banyak terbagi. Banyak banget, bukan banyak aja. Apalagi tentang kepeduliaan terhadap pelecehan perempuan.

Aku, termasuk yang membaca, jika memang terlintas di linimasa. Bukan yang tingkat isengnya level Googling artikel tentang ini. Lalu setelah baca? Ya jelas marah ya, apalagi yang pelecehan gitu. Meski mungkin ‘cat calling‘, yang dianggap sepele namun menyakitinya tidak kasat mata dan sering terjadi. Tapi ya sudah, marah aja. Nggak berbuat lebih juga, kan? Bahkan banyak cerita berakhir dengan pemikiran ‘cukup tau’ dan memasang pagar diri lebih tinggi.

Sampai akhirnya ada satu waktu….

Aku punya kerabat, panggil dia Bunga (bukan reportase investigasi!), sangat dekat yang yaaaa untuk ukuran perempuan seusianya memang ‘mengundang’: pipi gembil, mengerti berpakaian yang sesuai, paham mematut wajah tanpa terlihat seperti boneka. Goda-able, jika memang nilai wajah juteknya turun sedikit.

Kami, bersama beberapa lainnya diundang menghadiri pesta resepsi dengan konsep pesta kebun. Menyenangkan sekali. Makan terus, joget-joget, capek juga tinggal duduk. Bunga saat itu menegak es campur sambil duduk. Kami tertawa bersama menikmati acara. Lalu saat aku duduk di sampingnya, mendadak diajaknya keluar arena. Memilih untuk tidak duduk sekitar tempat tadi. “Kenapa?”, tanyaku.

Bunga bertutur, ada bapak-bapak yang baru saja mencolek pipinya, lalu mengusap kepalanya. Bapak yang ditunjuk Bunga adalah pria paruh baya berseragam — yang mana pasti keluarga dekat pengantin. Bunga bingung harus bersikap bagaimana, akhirnya mengalah dan pindah tempat duduk.

Di sini, aku baru menyadari kemarahan perempuan yang dilecehkan. Cat calling, biasa dilakukan pekerja yang istirahat itu termasuk pelecehan lho. Apalagi sampai berani menyentuh tubuh, meski (hanya) area wajah.

Aku marah. Marah banget. Aku peluk Bunga. Tapi ya sudah, ternyata akupun doing nothing. Bingung lho. Bapak ini pasti punya hubungan dekat dengan pengantin. Aku, Bunga, juga kerabat pengantin, dekat juga.

Banyak pikiran berkecamuk. Ditegur? Kalau bikin gempar pesta orang gimana? Kalau diinget terus, diungkit tiap ketemu gimana? Kalau dianggap berlebihan gimana?

……. dan kami berdua membiarkan ini berlalu hingga acara usai. Pulang. Tanpa ada orang lain yang dengar. Mungkin juga hanya Bunga dan Si Bapak itu yang melihat.

Mudah sekali sebenarnya untuk menegur,”Pak, tidak begitu caranya memerlakukan perempuan. Lain kali jangan diulangi menyentuh tanpa permisi” — jika Bapak itu totally stranger, kan?

Pulangnya, ada penyesalan mendalam dalam diri. Menyadari bahwa untuk mengucapkan dua kalimat itu saja kok ya lidah kelu. Demi kebaikan, kenapa harus banyak “Kalau nanti…”.

Hari itu, aku belajar untuk berani bertindak. Bukan hanya memasang pagar tinggi dalam diri, yang dibutuhkan. Tapi juga kemampuan melawan, ketika ada yang berusaha masuk pagar tersebut tanpa ijin.

Menjadi perempuan berdaya, bukan hanya tentang kemampuan berdiri sendiri. Bukan hanya tentang kebisaan memenuhi keinginan hidup dari dompetnya sendiri. Menjadi perempuan berdaya, juga harus mampu membela sesama perempuannya sebagai bentuk penghormatan atas diri sendiri.Yuk, kita berdaya bersama!

Generasi Kuantitatif

Pelajaran matematika di rumah bukan hanya sekadar hitung di kertas. Atau rumus sin cos tan yang selalu dibawa-bawa (kalau mau ujian). Atau contoh soal limit yang ditempel di tembok, nggak dilepas sampai sekarang.

Tapi juga masuk dapur. (yang) Ternyata agak genggeus untuk beberapa orang.

1. Berapa gelas beras vs air?

Masak nasi pasti jadi hal wajib ya di rumah. Ye kali beli, kan. Serumah ada 6 orang, makan 2-3 kali sehari, nasi beli habis berapa, bu? Nah, ketika yang lain kalau masak nasi pasrah ke magic com / magic jar / segala magic lainnya, di rumah justru masih pakai panci dan dandang. Jadi nasi dimasak dengan air di panci, lalu dikukus di dandang. Konversi beras vs air : 2 gelas beras vs 3 gelas air. Iya konversinya matematis gini. Ada gelas khusus bahkan untuk ukuran beras-air gini. Aku baru sadar ini rada gengges ketika kerja praktik di Palembang hampir 2 tahun lalu. Kedapatan tugas masak nasi ketika berasnya sudah ditakar. Ya tanya dong aku,”ini berasnya berapa cangkir?” —– yang justru dijawab dengan tatapan nista ‘ngapain lo ngitung berasnya berapa banyak, Yak’. Kutanya lagi, sambil sedikit menjelaskan bahwa aku perlu ngerti berapa banyak beras untuk tahu airnya. Eh yang ada malah diketawain dong. Kata temen-temen waktu itu,”Ya elah, ratain berasnya. Taruh aja telunjukmu di atas berasnya. Airnya seruas jari” *ganti aku menatap nanar saking simpelnya*

2. Sayur ini matang berapa lama?

Ibu punya anak gadis tiga, pastilah semuanya harus ikut uprek di dapur. Biasanya ibu sudah masak, tinggal kami nungguin matang. Kalau daging olahan, sekali lihat gampil kan tahu sudah matang atau belum. Gimana kalau sayur? Wortel? Kacang panjang? Kembang turi? Beberapa kali adik nyeletuk,”kurang berapa menit, bu?” kalau dititipin sayur supaya nggak over cooked. Yang dijawab ibu dengan,”ya dilihat lah, nggak bisa dimenitin” *mendengus kesal* *padahal tinggal tes tusuk*

3. Pakai merica berapa butir?

Hari gini siapa sih yang masih pakai merica butiran? Siapa yang suka takut kalau belinya merica bubuk dicampuri lainnya? *ngacung* Di sisi lain, nggak mungkin juga membebaskan dapur dari merica. Ya kurang endeus lah yaaa. Masa udah berusaha ngurangin garam masih kudu menolak merica, kan? Alhasil, belinya ya merica butiran. Tiap mau masak, ngulek merica dulu sampai halus. Jelasnya, untuk tiap masakan pasti beda dong kebutuhan mericanya. Siapapun yang bertugas ngulek merica selalu tanya,”merica berapa?”. Dijawab dengan menyebutkan jumlah butiran merica yang dimau. Nanti kalau kurang, tinggal tambah aja, 5 butir misalnya. Iya, kita ngitungin butiran merica satu-satu instead of ngulek segenggam lalu ambil secukupnya untuk masak.

3 ini deh kayaknya sejauh ingatan. Ntar deh inget lagi, ya ditulis :3

Kalau di rumahmu, ajaran apa sih yang beda dari umumnya? Cerita sini sama akoh

‘Oh’

“Mbak, 4 bulan lalu dateng ke Malam Puisi juga yah?”

“Eh, iya. Mbaknya yang duduk di pojokan situ kan? Waktu itu kita sebelahan”

“Iya iya bener”

“Temennya yang kemarin mana, mbak?”

“Aku udah nggak sama itu, mbak. Ini sekarang bawa pacar sama temen-temen”

“Oh.”

—– —– —– —– —–

Nggak ngerti lagi mau respon apa hehe. Mau bilang,”sorry to hear that“, sepertinya dia juga tidak menyesal. Paling tidak sepengamatanku.

Katanya. Perempuan itu sukar menunjukkan perasaan, kecuali cemburu. Sedang lelaki kesulitan menerjemahkan kode hingga kakak-adik tak berujung.

Ada lagi. Benarnya, Tuhan Maha Membolak-balik Hati. Jangankan tahun depan bagaimana. Lewat sedetik pun, mungkin berpindah hati.

Jaga hati baik-baik. Tuhan kasih hati hanya untuk manusia, kan? Berikut segala tugas yang diembannya.

Jaga hati baik-baik. Ganti hati itu mahal, Bung! Pengalaman pak Dahlan Iskan sih seharga mercy ya

Pesona Di Balik Bukit

Banyak orang antusias naik gunung hingga ke puncak, katanya sih, karena keindahannya tiada dua. Katanya lagi, tiap gunung punya keindahan masing-masing. Aku belum bisa meng-aamiin-i ya, puncak gunung yang pernah ya Gunung Kelud atau Gunung Bromo — itupun kalau masih sah disebut gunung 馃榾

Namun, keindahaan itu ternyata bukan hanya dimiliki puncaknya. Tapi kaki gunung pun bukit juga punya pesona tersendiri. Mau dibilang surga, takut diprotes karena belum pernah ke sana kok ya sok samain sama keindahan dunia *apasih ini*

Sebutlah kabupaten Pacitan. Kabupaten tempat Presiden Republik Indonesia 2 periode itu terlahir dan dibesarkan terletak di sisi barat-selatan Jawa Timur dikelilingi bukit. Baik dari sisi Ponorogo maupun Trenggalek, pasti harus mengitari bukit menuju Pacitan. Ini sih PR banget untuk pemerintahannya ya, tantangan tersendiri untuk memajukan.

Kalau dengar Pacitan, wisata apa sih yang langsung tersirat?

Pantai Klayar? Anak hits instagram mungkin pantai ini ya yang langsung tersebut. Bagaimana tidak, keindahan Pantai Klayar memang instagram-able banget!

Pantai Teleng Ria? Iya, untuk angkatan bapak ibuku, orang tua kita, bisa jadi ini yang tersirat. Ini obyek wisata pantai yang sudah terkenal dari sedia kala.

Goa Gong? Ini juga terkenal dari lama. Sekarang stalaktit dan stalagmitnya sudah dihiasi lampu dan ada jalur khusus.

Letak geografis Pacitan memang dikelilingi bukit. Namun, Allah Maha Baik, Diberikan banyak sekali pilihan wisata alam di sana. Jadi bisalah dibilang “berrakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian”. Memutar bukit dahulu, bahagia kemudian *maksa banget*

Libur Natal tahun lalu *tsah baru berapa hari juga* Alhamdulillah akhirnya bisa mengunjungi Pacitan. Memilih penginapan di Madiun, perjalanan kurang lebih 5 jam ditempuh menuju Pacitan. 5 jam dengan memutar bukit ya. Mungkin kalau jalannya bisa diluruskan, nembus bukit gitu ya bisa lebih cepat. Sampai di sana, masih clueless mau ke mana, saking banyak banget rekomendasi orang-orang. Kami memilih melipir ke polres setempat. Sekalian lah tanya traffic dari/ke tempat wisata, sekali menyelam minum air. Menurut Om Polisi, menuju Pantai Klayar macetnya luar binasa menjelang siang hari. Sudah ada kurang lebih 10 bis wisata menuju ke sana, tambahnya.

Mengikuti saran Om Polisi, kami memilih Pantai Serau sebagai destinasi pertama. Jalan yang dilalui menuju Pantai Serau cenderung menyempit jadi tidak mungkin dilalui bis wisata. Amanlah harusnya dari rombongan wisatawan. Eh bener aja dong, bukan hanya menyempit, tapi juga longsor di beberapa titik jadi satu lajur digunakan 2 arah. Ada juga proyek perbaikan jembatan, perkerasan dan perluasan jalan sehingga harus bergantian dengan jalur berlawanan. Ya bener aja ya bis ga mungkin masuk sini. Bisa misuh misuh sopirnya kalau penumpang maksain *dikata Surabaya, Yak*

Jpeg

Kiri jurang perkebunan/sawah penduduk, kanannya tebing rawan longsor. Ini di sepanjang jalan

Pantai Serau

Cukup panjang jalan yang kami lalui. Lagi-lagi karena harus memutar bukit heheh. Nggak bisa bayangin deh gimana kaki bapak nginjek pedal kopling, gas, rem. Berulang kali meyakinkan diri ‘bener kok ini jalannya’. Lupakan kecanggihan handphone, karena sinyal Edge pun jarang-jarang muncul sepanjang jalan. Setelah oase air laut akhirnya terlihat, semangat lagiii! Beruntung kami mengikuti saran Om Polisi. Pantainya masih perawan. Wisatawan yang datang banyaknya berkendaraan plat AE, bisalah dibilang masyarakat lokal atau warga sekitar.

Memasuki area Pantai Serau, di tempat harus bayar tiket, seperti masuk area pemukiman. Nah, dibalik rumah-rumah itulah pantai berada. Nggak mahal kok masuknya, 5000 tiap orang untuk mengunjungi ketiga spot pantai seharian.

Pantai ini berada di sisi selatan pulau Jawa, langsung menghadap Samudera Hindia. Ombaknya tinggi untuk ukuran obyek wisata. Jadi lupakan berenang lucu dengan bikini cantik. Cukup jalan menyusuri sambil sesekali menerima tamparan ombak sudah sangat menyenangkan. Beberapa pengunjung ada yang menggelar tikar. Ada pula yang duduk cantik di dahan pohon rendah. 2 anak muda terlihat nyaman sekali tertidur di hammock. Angin semilirnya memang membius! Tapi jangan lupa pakai sunblockmu, sinar mataharinya juga nggak kalah nusuk.

Mau lebih menantang? Sisi kiri kanan garis pantai ada karang besar membatasi. Bolehlah mendaki sedikit ke sana, demi foto kece mungkin? Masyarakat lokal mendaki karang-karang ini untuk memancing. Tapi sungguhlah ya harus beneran hati-hati. Salah langkah, keliru pegangan, lumanyun juga sakitnya.

Fasilitas pantai ini nggak kalah kok dengan yang sudah terkenal. Sebutlah kamar mandi, toilet, musholla. Tersedia semua, dengan air melimpah. Bahkan nggak perlu antri panjang. Tapi pilihan warung makannya minimal. Tenda sederhana, sepertinya nggak sampai 10 penjual juga. Jualannya nggak jauh dari nasi goreng, mie goreng, mie kuah gitulah. Kalau carinya ikan laut murah meriah, di sini nggak ada. Mau minum kelapa muda langsung dari buahnya? Bisa banget! Tapi entah ya, harganya kok sama aja kayak di Surabaya, 8000 per buah.

img_7814

Sisi kanan itu, ada beberapa penduduk nungguin pancingannya di atas karang

img_7850

Berdiri di balik karang kecil, hanya untuk membuktikan teori water-break *lalu basah semua kecipratan parah 馃榾

img_7891

Naik karang ini nggak tinggi, tapi ternyata butuh effort buat newbie gini

Jpeg

Pantai Soge

Ya masa udah 5 jam perjalanan ke Pacitan cuman ke satu pantai? Rugi dong ah. Mari lanjutkan tantangan menuju Pantai Serau. Ini semacam keluar mulut buaya, masuk kandang harimau. Posisinya Pantai Soge tidak berada sejalan kembali ke Madiun. Pantai ini juga terletak di balik bukit. Tapi nggak bisa nyusur pantai gitu aja dari Pantai Serau. Jadi muterin keluar area Pantai Serau, lalu cari jalan kelilingin bukit lainnya menuju Pantai Soge. Kurang kerjaan? Iya, makanya kita liburan 馃榾

Pantai Soge terletak di pinggir jalan lingkar selatan, penghubung Trenggalek – Pacitan. Bener-bener di sisi jalan lingkar gitu. Jadi untuk yang ingin menikmati matahari tenggelam tapi malas turun dari mobil, bisalah minggir aja terus parkir deh. Kalau mau main-main lucu, duduk manis di pasir, ya harus masuk dong. Biaya masuknya lebih murah. 2500 tiap orang untuk masuk sini. Memang area pantainya minimalis. Tidak terbagi menjadi 3 spot seperti di Pantai Serau.

Sama halnya Pantai Serau, di sini juga haram hukumnya berenang. Ombaknya aduhai, anginnya kenceng. Butuh waktu lah untuk memastikan kerudung tetap kece waktu di foto. Di sini banyak keluarga terlihat sengaja mampir menanti matahari tenggelam. Ada juga penjual layang-layang, memainkan dagangannya beradu mengikuti arah angin.

Sudah petang, menjelang terbenamnya matahari kami sampai sini. Jadi duduk manis di pasir seneng aja, mataharinya sudah mau sembunyi. Ada spot foto juga dengan latar belakang tulisan SOGE segede bagong, sukses bikin antri keluarga narsis macem kami.

Ngomongin fasilitas, ini sih lebih minimalis juga dari Pantai Serau. Mungkin juga karena sudah sore, warungnya banyak yang tutup. Jualannya samaan lah ya dengan Pantai Serau. Toilet, kamar mandi, musholla juga ada. Bersih dan tersedia air melimpah. Lagi-lagi antrian amanlah karena jarang juga yang mandi, nggak ada orang beres renang, kan. Bedanya dengan Pantai Serau, di sini ada persewaan ATV. Juga ada penjual kerajinan khas pantai, cangkang kerang yang dibentuk berbagai macam.

Jpeg

Di pinggir jalur lingkar selatan Trenggalek-Pacitan *abaikan accessories mobil*

img_7957

Menunggu basahan sisa ombak, basahnya bisa samalah dengan renang

img_7945

Duduk aja gitu di pasir, tinggal kibas cantik bebas kotoran

JpegJpeg

Cukup puas menikmati pantai ini tidak sampai matahari benar-benar kembali ke peraduannya. Mengingat menuju tengah kota butuh lewatin bukit, begitu pula kembali ke penginapan di Madiun. Kami senang dengan area wisata sepi lucu gini, terhindar dari hiruk pikuk dan jadi nggak banyak ngomongin orang lain *buka kartu* Tapi ya gitu deh, usahanya juga harus lebih menuju tempat begini.

Akhirnya Pacitan sudah sukses kami datangi, meski hanya 2 pantai — nggak gitu terkenal lagi. Muterin, keliling bukit, nggak bikin kami kapok ke Pacitan. Mau lagi bahkan! Masih banyak bangeet yang pengen didatengin tapi hari keburu gelap. Semoga moda transportasi umum ke Pacitan lebih kece lah, nggak cuman didominasi Bis Jaya yang langsung dari Surabaya. Kalau harus naik mobil lagi dari Surabaya, bayangin kaki bapak nyetir udah nyengir aja deh ya

Ada banyak keinginan yang disemogakan di awal tahun ini. Termasuk makin banyak tempat seru baru didatengin. Kabupaten Pacitan juga menjadi salah satu di antaranya. Yuk, mau ikut? Atau mau ajakin saya trip ke Pacitan?

—————————————————————————

Gambar diambil dengan kamera Canon SX500 IS dan handphone ASUS Zenfone 2 tanpa ubahan digital *mon maaf deh blurry, ada keterangan tanggal/jam pula*. Seluruh isi tulisan dan gambar merupakan penilaian pribadi, tanpa paksaan apalagi bayaran 馃檪

potongan kenangan

2016 ini termasuk tahun yang fantastis untukku. Ada beberapa yang tak mungkin terulang kembali. Ini sepenggal 2016-ku dalam potongan — yang untuk kembali mengingatnya, buka lagi folder foto dan bikin mesem senyam senyum sendiri

Setahun bersama

1454494304681

7 dari 8 yang masuk-keluar barengan (September 2015 – September 2016)

1456158717713

temen jalan-jajan 6 bulan, demi tugas akhir yang setopik

IMG-20160519-WA0017.jpg

Mbak Rita, Mas Imam – ketemu mereka lebih sering daripada orang rumah. Jam kerja main di lab yang lebih larut dari pegawai lemburan sukses bikin kami lengket

1474599917822

4 tahun lah ya tahu mereka ini. Tapi akhirnya setahun terakhirnya baru mulai beneran kenal. Kenal kelakuannya, paham perilakunya, termasuk gimana ngambek, cara bikin seneng, bahkan siklus bulanannya! Tergabung di laboratorium satu ini untuk menuntaskan tugas akhir sebenernya bukan pilihan pertama. Malah sepertinya agak kurang bersyukur *ampun Tuhan* Setelah masuk beneran, mulai kenal, denger cerita lab lain, rasanya nggak ada lagi yang bisa lebih disyukuri selain masuk sini. Makasih banyak ya, Gengs! Sampai jumpa untuk alasan dan tujuan apapun yang lebih baik

Melewati rentetan ujian

Namapun anak kuliahan tahun keempat ya, apalagi mimpinya kalau bukan lulus tepat waktu. Menuju fitting kebaya, sewa toga, foto salaman dengan rektor, ternyata ujiannya cukup menguras air mata. Thank God, dijodohkan dengan Mbak Tun, partner yang sumbu sabarnya tak terukur, encer otaknya nggak perlu diragukan, simpanan drama korea kelewat cukup

1454066094152.jpg

Ujian Tugas Pra Desain Pabrik – akhirnya bisa ketawa, setelah dikerjakan 6 bulan, progress&revisi tiada ujung, pengumuman dosen penguji yang sukses bikin nangis bombay

img-20160629-wa0010

Sidang Hasil Skripsi, setelah sidang proposal dan progress – ya gimana nggak senyum deg-deg an, tengah presentasi kedatengan 2 bidadari yang bawain brownies (pas puasa)

Awas aja masih ada yang nanya,”Tya nggak sekolah lagi?” Yaampun, campur aduk rasanya masih mbekas, cyin. Ntar kali ya kalau terketuk pintu otak, siap diisi beginian lagi

 

Pakai toga! Untuk ketiga kalinya

Ini wisuda sarjana, bukan doktoral. Tapi pakai toga untuk yang ketiga kali. Pertama toga merah, lulus TK *gaya bener dah*. Kedua toga biru, lulus SD *mulai beken kala itu*. Ketiga toga hitam, lulus S1. Bener kata banyak orang, euforia bahagianya tuh sehari doang. Saking banyaknya yang bilang gitu, rasa bahagianya lebih ke “yeay akhirnya aku make up beneran, pake make up artist segala” *salah fokus* Kalau boleh jujur sih, buncah bahagianya lebih besar selesai sidang-sidang dramatis

IMG-20160924-WA0006.jpg

Foto wisuda paling proper di antara sekian banyak. Tak lain tak bukan karena difotoin wakil rektor yang duduk 2 bangku samping Pak Rektor

Malam Puisi Surabaya

Komunitas ini sudah cukup populer seantero negeri. Cobalah cari di twitter atau instagram. Banyak kota besar, bahkan kabupaten, rutin menyelenggarakan. Sebenarnya sudah lama tahu dari twitter, komunitas pecinta puisi di Surabaya yang melabeli dirinya (@)kotajancuk ini. Tapi kok ya, maju-mundur-cantik mau sekadar Datang, Dengar, dan Bacakan Puisi. Ajaklah mbak Rita, kakak nemu gede yang diajakin apapun ayo aja. Akhirnya mau datang, berani baca. Punya kenalan baru lagi. Ada acara yang terus dinanti tiap 2 bulan sekali. Januari besok, Malam Puisi Surabaya temanya Hujan Bulan Januari. Ada sumbangan puisi untuk dibacakan?

img_20160911_160824

Malam Puisi Surabaya, September 2016

IMG_20161106_083206.jpg

Malam Puisi Surabaya, November 2016

Jalan sendirian

Jogja. Meski lebih banyak sight-seeing-nya, tapi nagih untuk jalan-jajan sendirian lagi. Apalagi setelah banyak mengikuti traveler di instagram bahkan blognya. Jalan sendirian nggak ada fotonya. Serius nggak ada, bukan nggak mau pamer. Banci foto sih, tapi kurang lihai mengoperasikan kamera….dan nggak punya kamera pribadi. Pakai hp? Duh butut kakaaak, makin males lihat hasilnya. Semoga bisa makin sering jalan-jajan sendiri lagi, perjalanan mengenal diri dan Tuhan

Di akhiri dengan main air di Pacitan

Pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah kelahiran Presiden RI 2 periode itu. Baru ngeeh posisinya Pacitan terselip di antara perbukitan. Tapi untuk menuju pantai yang indah, mana ada jalan yang gampil, kan? Menuju kotanya muterin bukit, eh mau ke pantai juga kelilingin bukit lagi. Pantai Klayar yang tersohor sengaja nggak didatengin karena rame banget saking terkenalnya. Sebagai gantinya, kita ke Pantai Serau dan Pantai Soge. Bolehlah ya liburan lagi ke sana, absenin garis pantai selatan lainnya *lirikin bapak*

img_7824

Kata Azhra, ini sih Beverly Hills 馃榾

IMG_7833.JPG

Setiap jejak akan segera terhapus. Namun setiap kesalahan tak pernah terlupakan, meski termaafkan *tsaaah*

P_20161224_121038.jpg

 

Yash! Kayaknya 6 di atas highlights 2016 buatku. 6 hal yang beberapanya nggak mungkin terulang. Tapi langsung aja gitu muncul diingatan. Lainnya semoga bisa terulang untuk alasan dan tujuan yang jauh lebih baik.

Selamat Tahun Baru! Semoga mulai besok semua hal bisa menjadi alasan untuk lebih bersyukur dan bahagia selalu

Sowan Njogjes

[LONG POSTING ALERT : mending segera swipe ke postingan tetangga daripada bosen sendiri bacanya]

Akhirnya impian untuk jalan jalan sendiri terwujud juga. Sebentar sih, hanya 3d2n, itupun karena ada keperluan mendadak. Perjalanan kemarin ketiga kalinya ke Jogja dalam setahun. Harusnya sudah kelewat khatam yah, tapi kok ya tetep ada aja yang baru :))

Pertama kali dulu, ke Jogja serombongan sirkus sama orang rumah. Ini mah judulnya liburan beneran. Tidur di ‘hotel bener’ dan sewa mobil dengan sopir. Jadilah jalan-jalan rada ga tau aturan, dari utara ke selatan, timur ke barat. Nah selama di jalan, tidurlah penumpang, gak nyadar juga jauhnya kaaan

Kali kedua, akhir November. Ada keperluan juga, tapi ada barengan temen dengan urusan sama. Berangkat barengan, di sana berdua, kepisah cuman di tidur malam, makan lucu, dan pulangnya – karena Doi lanjut Semarang, aku balik Surabaya.

Terakhir nih, sengaja gak cari temen – yang ternyata emang gak ada kenalan lagi bistrip *halah* ke sana juga hahaha. Jadilah sebenernya sampe H-3 juga maju mundur mau njogjes nggak. Secara kaaan ini ada perlu di daerah Ring Road Selatan, belum pernah coy ke sana. Biasanya jelaslah di pusat kota. Ke UGM dan menyusuri Jakal juga baru sebelumnya itu bentaran doang sama Lala. Tapi habis dipikir lagi, yawesla yaa berangkat. Kapan lagi juga, belum tentu ada kesempatan (dan restu ibu tentunya).

Ke Jogja bertepatan dengan libur akhir tahun bukan pilihan yang tepat, dan sayangnya aku ga bisa milih yaah. Segalanya serba mahal cyiin, tiker kereta, penginepan, hastagaaa bookingnya sambil tutup mata dan ga cek saldo rekening biar ga patah hati banget.

Naik apa habis berapa?

Di tanggal berangkat, 18 Des itu semuaaa tiket kok ya sudah habis aja 4 hari sebelumnya. Yaemang dadakan yah, babay tiket ekonomi Logawa 74ribu. Alhamdulillaah ada Sancaka Tambahan, jamnya rada abnormal karena berangkat lebih siang dari Sancaka Pagi, harganya pun juga agak nambah. 160ribu untuk kelas Bisnis, well low season bisa dapet eksekutif padahal. Enaknya bisnis sekarang sudah bagus yah, duduk menghadap arah tujuan kereta, jadi gaada lagi migren lucu, empuk kursinya, adem pula. Pulangnya, tanggal 20 Des alhamdulillah masih dapet ekonomi Sancaka Sore, normallah 105ribu. Pertama kalinya nih naik ekonomi baru. Kursinya satu-satu, bukan 2 atau 3 digabung seperti ekonomi/bisnis umumnya. tapi ya teteplaah sempitnya kelas ekonomi ga bisa dilawan. Satu lagi, posisi hadapnya tuh setengah searah lainnya sebaliknya. Baru tau juga pas naik ke kereta, dan dapet yang posisi mundur. Apes? HAHAHA

Dengan tiket ke/dari Jogja yang sudah di atas rata-rata, maka di sana harus hemat dong. Jadi dari/ke Stasiun Tugu, cukup dengan Trans Jogja. Jalan dikit dari stasiun ke Halte Malioboro 2, ambil jalur bis 2A arah selatan, turun di Halte Pojok Banteng Wetan untuk ke Prawirotaman. Cukup dengan 3500 rupiah. Hari berikutnya, karena butuh pagi bener jadi menyerah pada jasa Go-Jek 10ribuan lah sampe di daerah Ring Road selatan. Deket sebenernya, tapi kalo jalan ya males ya ntar belum apa-apa udah keringetan duluan *lemah*

Tidur dimana habis berapa?

Keperluan di area Ring Road selatan, diputuskan booking penginepan di daerah Prawirotaman. Distrik hitz Jogja, semacam Ubud nih kalo di Bali. Sebenernya ada banyak area deketan dengan Ring Road selatan. Bisa di Bantul, Jogokaryan, Mantrijeron, Tirtodipuran, dan Prawirotaman. Dasar aku aja ngeyel maunya di Prawirotaman heheh. Oya, Prawirotaman dan Tirtodipuran tempat banyak penginepan unyu dan cafe lucu. Ada Adhistana Hotel, yang beken gegara AADC2 tuh di Prawirotaman 2, sayangnya dormitory full booked di tanggal itu dan private room nya kemahalan bok kalo sendirian.

Bersamaan dengan booking tiket KA pp via website-nya, juga penginepan via traveloka. Malam pertama, nginep di Kampoeng Djawa Guest House. Telepon langsung ke Guest House kamarnya sudah full booked aja dong. Untungnya ada di traveloka. Cuslah booking dengan harga traveloka, kali ini lebih murah daripada langsung ke pihak Guest House. Booking untuk kamar superior, dengan private bathroom dan kipas angin. Alhamdulillaah dapet upgrade jadi kamar ber-AC. Standarlah untuk tidur, tapi buatku rada creepy kalo sendiri heheh. Mungkin karena kedapetan kamar di lantai 2 ya, dengan tangga kayu yang bunyi kriet kriet kalo dilewatin dan ga dapet akses ke udara luar. Bagusnya, bapak receptionist, yang bersih-bersih, dan koki masaknya ramah banget. Khas Jogja deh, ngobrol asik juga. Tapi kurang bisa (atau aku kurang explore pertanyaan) kasih ide jalan jalan di sekitaran.

Perasaan creepy itulah yang mendukung malam kedua pindah ajalah ya. Masih satu gang, di Prawirotaman 1, malam kedua dihabiskan di Via Via Guest House. Lebih mahal sedikit, tapi buatku sih prefer di sini. Standar untuk backpacker, ada beberapa turis asing dan ibu yang jaga sangat ramah dengan customer, juga bisa kasih banyak banget ide What To Do di Jogja.

Rusaklah sudah target penginepan maksimal 150ribu semalam. Ada sih dengan fasilitas ya gitu deh. Atau dormitory dengan mixed room, aku strictly pilih female room kalaupun nginep di dormitory. Sekalinya ada, eh full booked~~

Secara garis besar, begini perbandingannya. Well, mohon maaf sih kalo aku lebih milih di Via Via. Mungkin untuk yang seneng dengan nuansa Jawa beserta interior dan lukisannya, pas banget deh di Kampoeng Djawa.

Pembanding Kampoeng Djawa Guest House Via Via Guest House
Lokasi Prawirotaman 1, serong depan dengan Tempo Gelato Prawirotaman 1, tapi masih masuk gang lagi seukuran 2 sepeda motor gak terlalu jauh
Welcome drink Tersedia di kamar. Kopi, teh, gula bahkan galon berdispenser panas-dingin di kamar Ditawarkan ketika datang. Kopi panas, teh panas, atau es teh. Gula terpisah
Kamar 路聽聽聽聽聽聽聽聽 Private bathroom

路聽聽聽聽聽聽聽聽 AC

路聽聽聽聽聽聽聽聽 TV channel local

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Handuk, sabun batang

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Selimut

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Kasur busa

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Shared bathroom (2 kamar tidur, 1 kamar mandi)

路聽聽聽聽聽聽聽聽 AC

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Tanpa TV, ada bacaan yang bisa dipinjam di living room

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Handuk

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Selimut

路聽聽聽聽聽聽聽聽 Kasur spring bed

Breakfast Dimasakkan langsung ketika akan sarapan. Porsi besar, cocok untuk yang mau jalan seharian. Nasi, 1 lauk, 1 sayur, air mineral. Teh/kopi bisa buat sendiri di kamar

Info : menu berubah setiap hari

Dimasakkan langsung ketika akan sarapan. Porsi cukup. Nasi, 1 lauk, 1 sayur. Teh/kopi panas, jus buah. Air mineral bisa refill berbayar

Info : menu berubah setiap hari

Fasilitas Area buffet yang sedang direnovasi

Kamar luas

Kolam renang

Kebun belakang

Harga Rp 157.000,- via traveloka Rp 195.000,- langsung ke Guest House

Makan apa habis berapa?

Makan malam pertama, ceritanya masih galau banget tau penginepannya kan. Yaudah jalan lucu aja nyusurin Prawirotaman dan Tirtodipuran yang kebetulan gangnya tepat berseberangan. Absenin tuh semua cafe lucu penginepan unyu yang bertebaran di TripAdvisor. Keluar masuk butik batik dan kulit yang harganya ya gitu lah ya, bikin langsung keder keluar lagi. Menjelang maghrib, masuklah ke Via Via Resto. Ambience nya enak bangeet, cocok buat nongki nongki lucu. Ada 2 menu standar per hari, di luar itu ada menu dari segala penjuru dunia *lebay*. Pelayannya ramah tapi gak berlebihan macem di resto pizza waralaba tuh. Tapi ya gitu deh, harganya hahahahaha anggaplah menebus penginepan yang berasa creepy nya itu.

Sarapan 2x ambil yang dari Guest House. Ini sih termasuk syarat waktu booking ya. Keperluan di jam 8 pagi sharp, sampe sore jelang maghrib. Agaknya keburu-buru banget kalo harus cari sarapan sendiri. Kalo ga sarapan, ampuuun barbie ga sanggup deh. Sedihnya ga sempet jalan pagi jajan lucu di pasar Prawirotaman atau Mantrijeron. Bye cenil lopis bubur pecel gudeg, mari beli di pasar sini aja.

Malam berikutnya, sudah lelah beneeeer masuk Guest House lagi hampir maghrib. Setelah beresnya emang udah sore dan rempong pindahin ransel dari Kampoeng Djawa ke Via Via. Jalan jalan lagi puterin sekitar yang belum sempat terjamah sebelumnya. Makan malam? Lupakan itu restoran kece, cafe lucu. Kembali ke haribaan penyetan warung tenda pinggir jalan. Rasa dan harga persislah sama yang di sekitaran kampus di Surabaya, ketambahan pembeli lain dan penjual yang enak diajak ngobrol.

Mau pulang, sengaja naik Trans Jogja turun di halte dekat hotel Santika. Sebenernya bisa turun di halte stasiun Tugu. Tapi ya, beberapa kali ke Jogja tuh belum pernah ke Tugu Jogja yang tersohor *malu*. Jadilah, pengen jalan kaki dulu dari Tugu Jogja itu ke Stasiun. Sekalian pengen jajan di Angkringan Kopi Joss, cukup beken di TripAdvisor. Ternyataaa jam 3an gitu, mana ada angkringan buka ya bok *bukan anak warkop*. Lagipula angkringan sepanjang Tugu Jogja sampe stasiun tuh judulnya Angkringan Kopi Joss semuaaa. Ketawa sendirilah itu pas tau, mulai dari yang macem depot di ruko, sampe angkringan betulan tenda pinggir jalan.

Sampai stasiun, Loko Cafe menyelamatkan soreku. Ini mah comfort food di stasiun Tugu. Harganya affordable meski rada mahal. Rasanya ‘bener’, enak tapi ya bukan yang enaaak banget gitu. Ada stop kontak untuk meja yang nempel tembok, bisa recharge baterai handphone selagi perutnya diisi. Menunya main course dan side dishes, jangan cari buah atau salad yaa

Ngapain aja di Jogja?

Jadi ya karena ada undangan di hari Senin jam 8 pagi, otomatis berangkat Minggu. Ambil kereta yang sampe Jogja siang/sore karena gak banget deh malem malem kudu heboh dari stasiun ke Prawirotaman, belum cari penginepannya. Berangkat pesawat pertama di hari Senin? Ebuset, cuman ada pesawat baling-baling coy, harga sekali jalannya lebih mahal pula dari naik kereta pp.

Undangannya hanya Senin jam 8 – selesai. Ambillah tiket pulang kereta sore besoknya. Bukan apa-apa sih, biar bisa jalan jalan rada santai aja. Eeeeh taunya, lanjut dong sampe besoknya. Selasa jam 8 – 12an. Lupakan sudah jalan jalan kulineran. Syudah lelah, pengen nyantai deh jadinya hahaha *receh*

Jadi selain menghadiri undangan itu, isinya cuman sight-seeing sekitaran Prawirotaman, Tirtodipuran, Mantrijeron, Jogokaryan. Itupun gak semua sisinya. Lain kali mau banget deh ke Jogja solo traveling dengan sengaja. Jadi isinya murni jalan makan senang senang..

Mon maaf ya, untuk yang cari foto bisa ke Google Image sajaa. Sejujurnya sedikitpun gaada foto-foto selama di sana. Handphone nya butut cyin, jelek fitur kameranya. Ga bawa camera bener juga. Masih mauuu banget ke Jogja lagi, bahkan untuk sekadar sight-seeing sekitaran penginepan begitu

Pelajaran baru juga dari perjalanan kali ini. Review di internet kan bertebaran banyaknya yaaaa. Kalo mau yang rangkuman bisa ke TripAdvisor, bisa dijadikan pegangan. Semua review dipertimbangkan, apalagi kalo ada yang kasih nilai 0-3 skala 5. Atau mau ala ala surprise di tujuan ya beda lagi.

Seluruh isi postingan ini murni penilaian pribadi. Tanpa paksaan, apalagi bayaran. Menerima ajakan trip Njogjes lagi atau kemana deh yuk?

sowan

Dalam bahasa Jawa, artinya berkunjung. Bukan angsa, apalagi bebek, yang suka ngejar ngejar di pematang sawah *apeu*

Traveling sendirian sudah jadi impian sejak lama. Bahkan saking kepengennya, 2-3 tahun lalu sempat terbesit one day trip sendirian ke kota turis. As my expectations, nggak mungkin juga terwujud tanpa alasan haha

Lebih dari 10 tahun lalu, naik pesawat sendiri sudah pernah dijabanin. Rute pendek sih, SUB-JKT. Naik Adam Air lagi. Tapi naik kereta api sendirian, rasanya belum sebulan lalu pertama kali.

Sebulan lalu ke Jogja, tapi sama temen. Di kereta berangkat ada temen ngobrol, hari kedua pun jalan bareng malah ketemu rekanan lain. Sendirian cuman di hostel dan kereta pulang. Ah itupun, di hostel ada temen sesama penghuni kamar karena milih yang tipe dormitory. Kereta pulang, eh duduk sebelahan sama mbak cantik yang setia mangku laptop demi nonton drama korea. Ya ga mungkin kesepian lah :3

Kali ini, insya Allah, dari berangkat, di sana, pulang, belum ada kenalan barengan. Ini sih judulnya mewujudkan impian berkedok ada urusan. Haha, tapi excitement ku kok rada alay gini ._.

Bismillaah.. Pak Prawirotomo, saya sowan ke kampungnya yah!?

Doakan saya, gengs *finger crossed*