Palembang Day 7 : Mabok Pempek

Urusan makan memakan emang agak picky untuk Aku dan Nova. Bukan hanya masalah menu sih, tapi juga harga yang bikin agak jantungan *iya, ini lebay*

Hari pertama datang sudah agak sore. Menempati rumah yang tanpa sentuhan wanita, ya jangan harap ada masakan / bahan untuk dimasak. Pisau aja ngga ada..

Jadilah ngabur jalan ke depan kompleks. Ada berbagaaai macam panganan dijual. Entah karena puasa dan menjelang buka, atau memang sehari-hari demikian. Restoran padang, martabak india, kebab, pempek, soto lamongan, nasi uduk, warung seafood, depot prasmanan jawa terpampang depan mata. Dipilihlah depot prasmanan jawa, demi makan benar daripada perut jetlag.

Depot ini prasmanan dengan menu macem-macem. Ada sambel terasi pula, disamping sambel ijo. Aku makan nasi, sop, lauk martabak, minum es jeruk. Sedangkan Nova memilih nasi, sop, dadar, tempe. Makan berlangsung khidmat dan penuh obrolan karena kami bertemu teman sealmamater di sana. Sampai akhirnya urusan kasir yang bikin agak kaget. Tya harus buang duit 18ribu, Nova 13ribu. Agak bete, untung kenyang, dan enak hahaha

Berikutnya, gerilya lah ke tempat lain. Berhenti di tempat pempek simply karena hampir seminggu di sini belum makan itu. Aku, Nova, Viqhi, Rio makan pempek dan es campur dengan sadis. Ternyata, pempek isi 4 biji cuma dihargai 10ribu, sudah cukup mengenyangkan.

Jadilah pempek menu berbuka 3 hari berurutan. Somehow,  pempek di kota asalnya emang lebih enak sih. Tidak terasa ‘nepung’, garingnya pas. Nggak kayak di Surabaya yang pempek tersohornya aja kadang kiyal dan terlalu garing.

Setelah 3 hari berurutan, sepertinya harus coba menu lain. Buka di masjid kompleks PUSRI, mungkin? Let’s see hahaha

image

Salam dari pempek warung depan kompleks ^^ | Captured by Nova

Palembang day 3 : Palembang Icon

Alhamdulillaah selama di sini dapet pinjaman sepeda motor sekalian helm nya. Waktu packing pun sudah disiapin jaket, sarung tangan, juga masker motor. Jadi cincai lah mau jalan jalan.

Kehebohan hari ini selesai sekitar pukul 2 siang. Sengaja sempetin pulang, supaya bisa ganti safety shies yang kayak satpam dengan sepatu cantik (baca : crocs). Juga ganti ransel eiger standar kuliah jadi ransel rajut.

Bersama 3 teman lainnya, jadilah kami ke Palembang Icon. Jaraknya, kata Google Maps, 8.8km dari PT PUSRI. Cukup kurang lebih 30 menit menuju ke sana dengan traffic yang lumayan padet dan cara berkendara (umumnya) bar bar (baca : hardcore ; ugal ugalan). Butuh keberanian extra berkendara di sini dibanding di Surabaya. Eh, ini opini pribadi sih. Saking selama ini motoran ya cuman di Surabaya.

Sebenarnya ada mall yang lebih dekat, PTC – Palembang Trade Center. Tapi kok kayaknya lebih keren Palembang Icon gitu. Tempatnya dekat pula dengan rumah saudara salah satu teman, tempat para lelaki tinggal.

(dan) Ternyata ….. Memang bagus! Ukurannya memang ga sebesar Galaxy Mall di Surabaya. Tapi tenant nya sangat beragam. Et cetera, the executive, minimal untuk tenant baju. Payless, adidas, nike, crocs, wakai, bucherri, fladeo tenant sepatu. Ada bunga dan naughty untuk accessories. Guardian, century drugstore nya. Foodmart jadi surga belanja (nan kapitalis). Books and Beyond, toko bukunya, lebih murah dari Periplus untuk buku import, sayang (kayaknya) baru ada di Palembang. Jangan tanya tempat makan karena di sini melimpah. Tak ada XXI di sini, tapi ada Cinemaxx. Belum dicoba sih, tapi akan, menebus penasaran… *tenant nya banyak, yang belum kesebut murni karena lupa atau emang tadi nggak dilewatin, maafkeun*

Titik yang dijual di mall terbaru se Palembang ini adalah air mancur besar dengan danau di lantai dasar. Letaknya di samping mall. Beberapa restoran membuat area outdoor sehingga bisa untuk kongkow cantik pinggir danau. Sepertinya malam hari akan lebih romantis tempat ini, sayang kami ke sana masih sore. Fotonya bisa search di discovery instagram atau gooogle image yaa *lagi males hahaha*

Titik tertinggi yang dapat dijangkau adalah lantai 3, tempatnya Cinemaxx itu. Juga ada pintu menuju balkon luaaas. Berlatar danau di bawah dan pemandangan kota Palembang dari ketinggian. Bahkan drilling tower milik PT PUSRI yang 8km jauhnya bisa terlihat. Tempat ini jadi spot foto favorit. Sudah tinggi, angin sepoi sepoi, tak perlu bayar lagi kan.

image

Balkon Atas Palembang Icon. Kiri ke kanan : Tya, Nova, Viqhi, Rio.

Alhamdulillah sukses jalan jalan. Perut sukses kenyang oleh oleh Solaria, setelah 2 hari kemasukan indomie, aneka biskuit, dan susu low fat.

Mari istirahat, semoga wish list jalan jalan di sini segera terpenuhi semua!

ps : Parkir sepeda motor di Palembang Icon 3000 di 2 jam pertama. Kemudian, ada tambahan 1000 tiap jam berikutnya. Jika di Surabaya tiap keluar parkir harus menunjukkan STNK .. . di sini, STNK hanya digunakan bila pengendara tidak bisa menunjukkan karcis parkir. Tadi sempet bikin bingung petugasnya karena setor karcis, uang, dan STNK hahaha

Palembang day 3 : Gegar Budaya

2 hari sebelumnya masih bisa paham orang bicara. Ya mungkin karena muka keliatan bukan orang lokal yaa hahaha

Sampai akhirnya, siang tadi …

Mengurus badge di bagian security perusahaan, yang ternyata ribet bener. Yaa semacam buat SKCK di kepolisian lah. Titik-titik nya banyak yang haris diisi. Kok ya sampai depan si mbak petugas, itu form lupa ku tanda tangani dan tas ditinggal depan ruangan dititipin temen. Maunya kan praktis, jadilah pinjem bolpoin ke orang sebelah. Kebetulan ada siswa SMK setempat yang juga mau melaksanakan Kerja Praktik. Terjadilah percakapan …

Tya : Mas, maaf, boleh saya pinjam bolpoinnya *sambil senyum, lalu lirikin kantongnya yang ada bolpoin*
Dia : Ha? Apo? *pakai bahasa Palembang ngga tau apa*
Tya : iya, Mas, pinjem bolpoin *sambil nunjuk dan lirikin bolpoin di sakunya*
Dia : ooh ini namo nyo pena kak, bukan bolpoin. Apo tuh bolpoin *nada ketus*
Tya : hmm pffft ssshhhh zzzz

Yes, di siang hari yang engap sekali, saya sukses disemprot (dengan semena mena) oleh anak SMK setempat gara gara salah sebut alat tulis.

Fine, mari pelajari kamus Bahasa Palembang online. Ada yang mau bantu?

Marhaban yaa Ramadhan

Kegalauan ini muncul sejak akhir bulan lalu. Bagaimana tidak, gadis – yang ternyata sudah membesar – ini harus merantau juga, setelah lebih dari 20 tahun berdiam di Surabaya. Seumur-umur, pergi jauh yang nggak sama keluarga ya kurang dari seminggu. Pun Study Excursion awal bulan Juni kemarin, meski jauh lintas pulau, tetep aja kurang dari seminggu.

Kurang dari 1 bulan lagi harus bertolak ke Palembang. Ada tugas kerja praktek di sana. Hanya 1 bulan sih. Tapi yang bikin melow, itu dilakukan dari akhir Juni sampai awal Agustus. Artinya, setengah bulan Ramadhan dan lebaran harus dihabiskan di kota yang membayangkannya pun aku tak mampu. Awalnya jelas sok jagoan, nggak mau pulang ke Surabaya meski pasti dapet libur at least tanggal merahnya. Eh ya makin lama kok berasa juga galaunya. Cek tiket, compare beberapa agen perjalanan, lihat di website resmi maskapai, paling murah sudah 1.5juta one way, masih transit lagi di Soetta. Ya sudahlah, lupakan.

Membayangkan kotanya seperti apa, sampai sekarang belum ada gambaran pasti. Sempat iseng cari destinasi wisata via discovery instagram, tetep kurang puas. Sudahlah membayangkan kotanya tak mampu, apalagi urusan isi perut. Puasa, di kota orang, sekalipun tak pernah ke sana. Banyaaaak pikiran yang kayaknya lebay juga jalan-jalan di otak.

Sampai akhirnya…

Izza, teman hampir 10 tahun yang sedang sekolah di Tiongkok berbagi kisah. Tembok kegalauan itu mendadak runtuh. Apalah kegalauanku dibanding yang akan dia rasakan. Aku masih puasa di tempat yang mayoritas penduduknya muslim, berbalikan dengannya. Aku masih ada teman sahur dan berbuka, dia ada namun tak semudah di sini. Masih banyak lagi komparasi lainnya.

Lain lagi dengan Nova. Cewek gemini teman seangkatan, partner kerja praktek yang jago debat. Dia memang asal Jember. Namun atas pilihannya tak pulang sebelum keberangkatan kami ke Palembang nanti, dengan berbagai sebab. Lagi-lagi, siapalah aku dibanding dia? Aku masih bisa di rumah, menghabiskan waktu bersama, bahkan hingga tanggal keberangkatan nanti.

Ada lagi Pipit, teman seangkatan yang orang tuanya tinggal di Sorowako, satu tempat KP namun beda tanggal. Dia justru tak mungkin pulang ke Sorowako meaki tanggal keberangkatannya setelah lebaran.

Sepertinya, aku pun juga lupa bersyukur. Bahwa apa yang aku rasakan masih jauuuh dengan teman seumuran. Seperti kata Izza, harusnya bersyukur juga tidak harus ada pembanding dulu ya? Bismillaah, meski dengan pembanding tetap syukur yang penuh ikhlas.

Mengubah mind set menjadi positif berdampak pada hari yang lebih menyenangkan. Setelah sebelumnya stress dan melow.

Tiba-tiba menemukan bahwa di Palembang ada sesuatu yang belum ada di Surabaya, Trans Musi. Penasaran sih, katanya shuttle bus keliling kota gitu. Harus dicoba nanti! Selain itu, pastilah menengok jembatan Ampera, pempek dan tekwannya. Kongkow di pinggir Ampera ditemani kopi cantik sepertinya juga tak boleh terlewatkan.

Nova juga tadi pagi bawa kabar, buka dan sahur bisalah numpang di masjid milik PT. Pupuk Sriwidjaja. Baru kalau bosan, (Nova) masak ketje. Ah cantik!

Mamad, temen seangkatan yang tadi pagi ketemu di kampus. Menurutnya, puasa di kota orang justru enak. Buka – sahur bisa di masjid. Tak habis pula uang untuk menghadiri segala undangan buka bersama. Bayangkan, untuk usia 20th : buber teman SD, buber teman SMP, buber teman SMA, buber teman kuliah. Itu yang default, belum kalau dibagi per kelas di tiap jenjang, organisasi yang diikuti, ekskul yang digeluti atau kalau ternyata sudah kerja (?). Waah, bocor juga dompet ya kalau dihitung-hitung haha :D

Baiklah, semoga Ramadhan kali ini membawa cerita baru, pengalaman baru, juga pelajaran baru..

Marhaban yaa Ramadhan!

Selamat

image

Maafkan anakmu yang kerap terlupa.
Bahkan untuk menatap indahnya matamu tatkala berbincang.
Maafkan anakmu yang kerap tak tahu diri.
Pulang dini hari seenak sendiri.
Maafkan anakmu yang sering mengesalkan.
Sengaja pulang terlambat, makan bersama teman, meski ditunggu di meja makan.

Untukmu yang cintanya tak berujung.
Untukmu yang kasih sayangnya tak terbendung.
Untukmu yang doanya tak pernah terukur.

Selamat hari (Senin,) Ibu!

Borneo dalam 6 hari

Ah akhirnya, kaki ini sukses menginjak di tanah Borneo. Sebelumnya, semua tempat baru selalu didatangi pertama kali dengan keluarga rombongan sikrus, bapak-ibu-Azhra-Rizhqa. Untuk kali ini pertama kali tidak dengan rombongan sirkus, namun tetap keluarga, K52 Anti Biasa.

Sebenernya rada munafik kalo bilang nggak terasa sudah 3 tahun kuliah. Tapi ya tetep aja rasanya cepat berlalu, tiba tiba semester 6 selesai. Tiba tiba harus lunasin urunan Study Excursion. Yes, study excursion di jurusan Teknik Kimia untuk S1 reguler dilaksanakan setelah semester 6 usai. Tujuannya beragam, mengikuti kehendak angkatan ybs (dan dana yang terkumpul). Angkatan K52 memutuskan Borneo jadi tujuan destinasi SE, tepatnya Balikpapan-Bontang-Sangatta. Fyi, SE ke Borneo terakhir dilakukan oleh mahasiswa Teknik Kimia angkatan 2002 (K42), artinya 10 tahun yang lalu. Pantaslah ya bangga dikit hahaha

Selama di sana, kunjungan pabrik dilakukan ke perusahaan ternama. Utamanya orang Teknik Kimia pasti pahamlah seberapa beken nama perusahaan berikut : Pertamina Refinery Unit V Balikpapan, PT Pupuk Kaltim Bontang, Badak LNG Bontang, PT Kaltim Prima Coal Sangatta. Dalam SE ini akhirnya segala teori yang disampaikan dosen di kelas terlihat wujud aslinya. Ketika di kelas bentuk furnace, reaktor, heat exchanger, dsb hanya berupa persegi panjang (vertikal maupun horizontal), nyatanya pada wujud asli mempunyai berbagai macam bentuk dan ukuran.

6 hari yang Anti Biasa. Sangat berkesan dan pantas dikenang. Sukses membuat beberapa dari K52 akhirnya naik pesawat. Sukses membuat beberapa K52 akhirnya menginjakkan kaki di Daratan Borneo. Sukses membuat K52 jauuh lebih mengenal satu sama lain. Tak lupa sukses membuat perut membuncit dan jarum timbangan bergeser ke kanan.

Terima kasih, Borneo, atas segala kenangan indahnya.. Kecuali terang bulan coklat keju tujuh-puluh-ribu, yang di Jawa 15ribu aja dapet.
Semoga bukan yang terakhir. Semoga bisa kembali meski dalam rangka berbeda :)

K52 buka cabang (baru)

Bagi yang pernah kuliah jurusan apapun di ITS, atau sekadar dengar desas desus, pasti sedikit banyak paham gimana kisah tahun pertamanya. Terserahlah dibilang ‘sudah ngga sengeri dulu’, ‘perploncoan’, ‘kuno’, ‘alay’, dan lain sebagainya. Nyatanya, itu salah satu titik awal kedekatan saya dengan angkatan, K52 – Teknik Kimia ITS 2012.

Jargon Anti Biasa menjadi identitas K52 yang berdiri atas dasar kebebasan. 156 orang terpilih, yang akhirnya memiliki cabang di banyak tempat. Ada yang di Jepang, di NTU Singapura, di UI, IPB, ITB, bahkan ada yang kelak jadi dokter angkatan dari UNS dan UNAIR. Bukan hanya itu, dari 156 ini, ada 20 saudara dari ITK.

Sudah pernah dengar ITK – Institut Teknologi Kalimantan? Perguruan tinggi di Balikpapan yang jadi ‘adiknya’ ITS itu. 2012 menjadi angkatan pertama ITK. Seluruh mahasiswanya sekolah bersama di ITS. Hingga akhirnya, surat itu diterbitkan … Mereka, teman-teman ITK yang bagai saudara itu diminta untuk kembali ke Kalimantan. Setelah 3 tahun bersama, jelaslah kepergian itu berat bagi kami.

Perpisahan digelar bersamaan dengan syukuran 2nd Anniversary K52. Jumat lalu, 29 Mei 2015. Menjadi momen yang penuh kenangan dan sangat berharga. Emosi sukses diaduk, dengan tangis-tawa-tangis-tawa-lanjut terus sampai muka tak layak depan kamera.

Doa kami panjatkan, segala syukur terucap. Segala halang rintang, nyatanya sanggup terlalui bersama 3 tahun, 2 tahun semenjak K52 lahir. Harapan tak lupa kami tuliskan. Ya, harapan bukan hanya sekadar di angan saja. Secarik kertas dibagikan, dengan nama terang dan tanda tangan, kami menjawab 3 pertanyaan : 1. Mau jadi apa 10 tahun lagi? 2. Siapa K52 yang nikah duluan? 3. Nanti nikah sama siapa? … Konyol? Ya memang, angkatan kami kan banyak konyolnya :D Ketiga pertanyaan itu datang ketiga koor acara melempar issue di grup line angkatan. Eh ya kok 3 itu yang pertama muncul dan jadi pilihan mayoritas. Secarik kertas itu lalu dilipat dan masuk dalam tabung pipa, kemudian ditanam. Inilah Time Capsule, yang 10 tahun lagi akan dibuka, sebagai bagian dari syukuran 12th Anniversary K52 kelak.

Pribadi, kehilangan itu ada. Entah setitik ataupun sebelanga. Ketika tak ada lagi seseorang yang bisa kami juluki Tante dan dirinya rela begitu saja. Ketika tak ada lagi seseorang yang naik motor matic kurang dari 500 meter harus ditempuh hampir setengah jam. Ketika tak ada lagi seseorang, bahkan sekelompok, yang rela berjuang dalam PC Games mewakili angkatan di Chemical Games tahunan. Ketika tak ada lagi seseorang yang senantiasa datang bahkan 3 jam sebelum kuis, demi menempel sticky notes di kursi sebagai tanda itu tempatnya, juga kami. Ketika tak ada lagi seseorang, yang setiap hari menggunakan jaket yang sama untuk kuliah. Ketika tak ada lagi seseorang, yang dengan gembira menabuh kajoon mengiringi nyanyian. Ketika tak ada lagi seseorang, yang rela dipanggil Pak Tua, memotret tiap gerak gerik angkatan. Ketika tak ada lagi seseorang, yang ikhlas menjadi tim perlengkapan, sejak dulu maba hingga akhirnya koordinator. Ketika tak ada lagi seseorang, yang dalam tidur dan celotehnya tetap mendengarkan dosen, bertanya, dan menghasilkan IP gemilang. Ah, sungguh, terlalu banyak kenangan indah bersama 20 special person itu. Terlalu manis untuk dilupakan, meski kadang sakit dikenang.

Dear Friends, 20 saudara – yang jauh namun dekat, nyatanya waktu memaksa kita melalui ini. Perpisahan yang (mungkin) tak diharapkan. Bahkan memaksa beberapa pasangan terpaksa menjalani Long Distance Relationship,  termasuk yang baru baru ini jadian. Menyalahkan keadaan? Ah, tak mungkin rasanya. Toh dari dulu, kita sama sama mengerti, saat ini pasti terjadi. Selamat berjuang! Terlebih perjuangan kalian jauuh lebih berat dari kami di Surabaya. Selalu ada kisah yang dapat dibagi dalam setiap temu. Selalu ada kenangan yang dapat diingat ketika rindu. (dan) Semoga, selalu ada cerita baru ketika kelak kita bertemu. See you when I see you!
image

I’ll miss you, more than I love you ♡

6 Juni 2015,
diiringi linangan air mata,
dalam perjalanan Sangatta – Bontang,
Study Excursion K52