Hidup itu Indah

keindahan dalam sebuah pembelajaran dengan ilmu, iman, dan cinta

Inikah Keteladanan itu? 17 April 2010

Filed under: Uncategorized — tya @ 7:39 pm

Minggu2 ini, sekolahku dibuat geger dengan kebijakan Sang Kepsek baru (yang ternyata amatiran). Beliau mengadakan UTS, padahal -menurut keterangan kakak2 kelas- kegiatan itu TIDAK PERNAH diadakan. Lalu? Bagaimana ini bisa terjadi?

Berita itu datang ke kelasku yang cukup ramai, dengan dibawa oleh guru ekonomi. Memang, saat itu adalah jam pelajarannya. Sebelum memulai PBM, beliau menjelaskan tentang diadakannya UTS tsb. Kenapa gak walas yang ngumumin? Ahh, mereka itu teman dekat, dalam pengamatanku sebagai muridnya. Semua murid terdiam (read : mendengarkan guru, sibuk online lewat hp, sms-an, ngobrol, dll pokoknya gak kliatan rame!). ”Tadi pagi, jam pertama semua guru terlambat masuk kelas. Itu karena ada sharing dengan kepala sekolah. Salah satu yang dibahas adalah akan diadakannya UTS. Insya Allah, disepakati bahwa mulai minggu depan (read : tanggal 12 April) diadakan UTS selama sembilan hari. Setiap harinya 2 mapel, terus lanjut pelajaran sampai sore. Lebih lengkap lihat di jadwal pengumuman”, katanya. Mampus!, pikirku.

Dalam benakku, UTS sama dengan final-exam dimana amat sangat dituntut nilai yang maksimal dengan alasan masuk raport..

Ternyata oh ternyata…

Senin 12/04 datang menjelang. Pagiku agak terpuruk karena tak tahu bagaimana harus belajar. Tapi alhamdulillah, semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Seakan-akan tak ada bedanya mid-test dengan PBM normal.

Sampai ketika Jum’at (16/04) yang penuh kabut menghampiri…

Hari itu cukup ‘istimewa’ buat aku karena harus belajar ekstra. Mapel yang diujikan : Engllish (narrative & news items text, seabrek grammar, tak lupa passive form) dan PKn (sikon waktu itu : LKS dikumpulkan, guru terkenal  ceriwis, gak tau apa bahannya). Cukup berbahaya karena sistem SKS digunakan dan belajar dimulai pk. 03.30 sedangkan harus berangkat sekolah maksimal pk. 06.00.

Special untuk Engliah test, gurunya memang terkenal galak (meski harusnya gak ada istilah ini dalam kamus ke-guru-an). Suasana kelas hening, semua berusaha maksimal mengerjakan sendiri (gak brani nyontek apalagi ngrepek!). Dan di saat itulah ada seorang teman yang dikenal paling “berani” menantang pihak sekolah timbul sifat usilnya. Dia menggoda salah satu teman lain yang terlihat paling cupu. Tiba-tiba si cupu ini meneriakkan kata-kata kasar yang sama sekali tidak selayaknya diucapkan. Sontak, sang guru kaget bukan main. Beliau menghujani muridnya dengan penuh amarah dan sumpah serapah tak lupa penambahan poin pelanggaran (punishment). Plus dengan satu cerita tentang anaknya tentu. Katanya, “Anak saya yang umurnya 2th pernah meniru temannya ngomong kasar. Saya langsung memarahinya seperti marah ke kamu terus memluntir mulutnya. Sampai sekarang dia kapok, nggak mau bicara kasar lagi.”

Sungguh…

Ucapan sang guru itu menggugah hati & pikiranku. Lupa semua kejadian menyebalkan satu minggu. Antara kasihan dengan putra guru tsb dan terpikir, apa iya anak itu takut bicara kasar? ataukah hanya takut ketika ada ibunya?

Aku merasakan betapa bangganya guru itu melakukan hal yang (menurutku) buruk terhadap anaknya. Tanpa adanya sebuah bahasa yang baik, dialog dan komunikasi yang sempurna tetapi hanyalah jawaban fisik seorang ibu saja (!). Entah apa yang ada dalam pikiran teman-temanku kala itu..

Dengan kejadian ini pula, sempat terbesit dalaam hati ini, “untung punya bapak ibu yang masih mau mendengarkan anaknya. Masih mau mengajak berkomunikasi dengan bahasa lisan yang baik, bukan bahasa tubuh”.

Benarkah ini pula yang menjadi awal mula ke-bobrok-an suatu kaum??? Ketika orang-orang di sekitarnya belum dapat menjadi suri tauladan yang baik baginya.

Dari sini pula, aku tersadar. Dunia ini terlalu luas, jika semua harus tunduk pada keinginan satu kaum, apalagi satu orang. Ada saatnya melihat suatu kejadian sebagai tolak ukur kualitas diri, ada kalanya sebagai tauladan. Tidak semua ucapan orang lain itu patut ditiru, kita -sebagai seorang individu- mempunyai hak mutlak untuk mengikuti atau menolak suatu ajakan. Jadi, tidak selayaknya kita berharap agar semua orang mengikuti jejak kita tetapi bukan pula kita mbebek ke mereka.

Menjadi orang penting itu baik. Tetapi lebih penting jadi orang baik…

Salam hangat untuk semua manusia inspiratif yang telah berhasil menjadi orang baik, salam manis kepada semua orang yang berusaha menjadi orang baik, dan salam sayang untuk mereka yang ingin jadi orang baik.

Best regards,

Tya ditengah panasnya udara tengah malam,-

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.